Rupiah Tembus Rp14.914 karena Kebijakan Pemerintah Salah
Selasa, 04 September 2018 - 23:43 WIB > Dibaca 432 kali Print | Komentar
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian tertekan. Terakhir rupiah sudah menembus angka Rp14.914 per dollar AS.

Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan mengatakan kondisi rupiah yang semakin tertekan karena kebijakan pemerintahan Joko Widodo yang salah.

"Rupiah tertekan salah kebijakan," tegasnya dalam keterangan pers yang diterima Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (4/9).

Nilai tukar rupiah memang tengah jatuh ke level nyaris Rp 15 ribu terhadap dolar AS. Kondisi ini menurut Heri merupakan yang terendah sejak krisis 1998.

Ketua DPP Partai Gerindra ini mengaku memiliki beberapa catatan yang menyebabkan itu terjadi. Pertama, karena Indonesia mengalami defisit ganda. Yakni defisit neraca berjalan sebesar 8 miliar dolar AS sampai bulan Juli 2018 ini. Sementara utang negara telah mencapai 34 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto).

"Nilai tukar rupiah telah turun sebesar 8,7 persen sejak awal tahun 2018 Padahal BI telah menaikkan suku bunga sebesar 125 basis points sejak bulan Mei," ungkapnya.

Adapun intervensi BI, tambah Heri, membuat cadangan devisa turun 10,5 persen menjadi 111,9 miliar dolar AS.

Heri menduga, penguatan dolar AS ini akan menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan Indonesia membayar utang dalam dolar. Sementara di lain pihak ekspor barang dari dalam negeri kian melemah dan pemerintah terus menaikkan pertumbuhan utang untuk membiayai defisit.

Menurut Heri, BI telah melakukan intervensi dengan membeli obligasi (bond) pemerintah sebesar Rp 80 triliun minggu lalu untuk menurunkan 10-year yield yang telah mencapai 8,094 persen.

Namun nilai tukar yang kian terpuruk lebih disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang kurang realistis. Kebijakan tersebut malah menimbulkan double deficit, yakni trade deficit dan financial deficit.

"Penyebabnya adalah subsidi BBM semakin tinggi, membanjirnya impor, pembiayaan infrastruktur dalam mata uang asing, dan dan defisit APBN yang dibiayai utang, termasuk dalam mata uang asing," jelasnya.

Pemerintah, tambah Heri, harus mengambil kebijakan yang tepat untuk memperbaiki kondisi itu. Di antaranya dengan memotong anggaran belanja secara signifikan, dan menurunkan defisit anggaran agar secara signifikan menurunkan prospek CA deficit dan memberikan imunitas pada ekonomi.

"Kedua, fiskal defisit pernah mencapai level tertinggi pada kwartal III 2015 atau 6 persen dan kwartal I 2016 4,3 persen. Namun saat itu private sector masih surplus. Sementara saat ini private sector balance belum bisa kembali ke level sebelum 2011, ketiga pemerintah perlu menyesuaikan belanja negara secara lebih tepat sasaran, bila perlu di kwartal III atau IV Fiscal balance bisa surplus untuk menjaga CA defisit terkendali," pungkasnya.(lov)

Sumber: RMOL
KOMENTAR
Berita Update

Dua Kecamatan Masih Terendam
Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib
Lutut Istri  Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga
Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap
Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib
Plt Gubri Bersama Dirut Teken Kerja Sama
BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional
Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD
Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib
Pedagang  Belum Tahu  Kapan Direlokasi

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi
Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib
Dibuka Tim Bupati Vs Wartawan
50 Tim Ikuti Serindit Boat Race
Jumat, 16 November 2018 - 15:15 wib
Spesialis Bongkar  Rumah Kosong Diringkus

Spesialis Bongkar Rumah Kosong Diringkus
Jumat, 16 November 2018 - 15:00 wib
Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis

Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis
Jumat, 16 November 2018 - 14:45 wib
Cari Berita
Nasional Terbaru
Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer
BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 WIB

Hasil SKD Cerminan Mutu Pendidikan Indonesia

Jumat, 16 November 2018 - 14:30 WIB

MTQ Ajang Tingkatkan Kesadaran Beragama

Jumat, 16 November 2018 - 14:15 WIB

Dukung Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional

Jumat, 16 November 2018 - 13:30 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us