Dampak Kenaikan PPh Impor Barang
Tiga Bulan Baru Efektif
Senin, 10 September 2018 - 11:39 WIB > Dibaca 333 kali Print | Komentar
Berita Terkait



JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Efek kenaikan tarif pajak penghasilan (PPh) pasal 22 impor diperkirakan baru terasa pada Desember 2018 atau awal tahun depan. Saat ini pedagang barang impor masih punya stok yang bisa dijual di pasar. Ekonom BCA David Sumual menyatakan, langkah pemerintah yang membatasi pertumbuhan impor lewat kenaikan pajak sudah benar. 

Sebab, cara itu lebih mudah diterapkan ketimbang menaikkan bea masuk. Selain itu, menaikkan bea masuk rawan mengakibatkan perselisihan (dispute) dengan negara yang bersangkutan. Meski begitu, kenaikan pajak dapat menekan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
’’Kecuali jika industri dalam negeri bisa mensubstitusi impor yang berkurang, barulah pertumbuhan konsumsi dapat tetap di angka 5 persen sesuai dengan target pemerintah,’’ katanya, Ahad (9/9).

Sebelumnya, pemerintah menyesuaikan tarif PPh impor terhadap 1.147 barang. Beberapa barang yang mengalami kenaikan impor adalah bahan bangunan seperti keramik, baju selam, produk tekstil, ban, motor, dan kosmetik. Tarif pajak penghasilan dinaikkan untuk menekan defisit transaksi berjalan yang pada kuartal II sudah mencapai 3 persen terhadap PDB.

Selain tarif PPh impor dan B20 yang kebijakannya sudah dirilis, lanjut David, publik kini menunggu kebijakan kewajiban kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang menjual minyak ke Pertamina. Aturan B-to-B itu sedang digodok Kementerian ESDM. ’’Kalau sudah dirilis ESDM, itu bakal menghemat devisa dan mengurangi defisit transaksi berjalan. Tapi, dari semua kebijakan itu, yang dampaknya paling cepat mungkin kenaikan PPh impor,’’ ujar David.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara mengungkapkan, tarif PPh impor telah dinaikkan melalui pertimbangan yang matang. Pemerintah telah mempertimbangkan jenis barang konsumsi yang mengalami kenaikan pajak, keberadaan industri yang bisa mensubstitusikan barang tersebut di dalam negeri, dampak barang konsumsi tersebut pada perekonomian, serta dampak terhadap inflasi dan konsumsi.

’’Ini bukan cepat-cepat, tapi mulai sekarang kita harus mengawali kebijakan ini supaya tidak impor terus. Kalau bisa beli barang dari dalam negeri kan juga bagus untuk mendorong industri kita,’’ tuturnya. (rin/c14/oki/jpg)
KOMENTAR
Berita Update

Dua Kecamatan Masih Terendam
Sabtu, 16 November 2018 - 17:30 wib
Lutut Istri  Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga
Sabtu, 16 November 2018 - 17:00 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap
Sabtu, 16 November 2018 - 16:15 wib
Plt Gubri Bersama Dirut Teken Kerja Sama
BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional
Sabtu, 16 November 2018 - 16:00 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD
Sabtu, 16 November 2018 - 15:45 wib
Pedagang  Belum Tahu  Kapan Direlokasi

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi
Sabtu, 16 November 2018 - 15:30 wib
Dibuka Tim Bupati Vs Wartawan
50 Tim Ikuti Serindit Boat Race
Sabtu, 16 November 2018 - 15:15 wib
Spesialis Bongkar  Rumah Kosong Diringkus

Spesialis Bongkar Rumah Kosong Diringkus
Sabtu, 16 November 2018 - 15:00 wib
Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis

Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis
Sabtu, 16 November 2018 - 14:45 wib
Cari Berita
Ekonomi-Bisnis Terbaru
Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam
Pertamina Jamin Pasokan BBM di Riau Cukup

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 WIB

Tropicana Slim Ajak Ikuti Senam Sehat di CFD

Kamis, 15 November 2018 - 12:23 WIB

Daihatsu Jelajah Hangatnya Minyak Kayu Putih dan Pantai Jikumerasa
Koleksi dari Paris, Boutique Si.Se.Sa Dibuka di Kota Pekanbaru
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini