Pentas Opera Rimba

Kisah Keterancaman Ekologis

30 Maret 2014 - 09.39 WIB > Dibaca 732 kali | Komentar
 
Apakah anda tahu bagaimana memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita? Apakah anda bisa mengembalikan binatang-binatang yang sudah punah? Atau apakah anda juga bisa mengembalikan hutan seperti sedia kala? Kalau tidak bisa melakukannya, tolong berhentilah merusak hutan. Dialog ini cukup mengena dan menggelitik. Pertanyaan-pertanyaan itu pun belum dijawab dengan perbuatan karena hutan kian porakporanda, terutama di Riau.

ITULAH sekilas pesan yang dapat ditangkap dalam pementasan Opera Rimba produksi Riau Beraksi (studio seni peran) di Anjung Seni Idrus Tintin, 26-30 Maret 2014. Sebagaimana fungsi teater yang salah satunya sebagai media informasi dalam hal ini mengkomunisikan pesan-pesan dari proses pemotretan keadaan yang terjadi di tengah masyarakat, Opera Rimba di tangan sutradara Willy Fwi juga menjadi sebuah upaya untuk menangkap jeritan nurani hutan yang tak rela dikoyak untuk kepentingan segelintir manusia. 

Seperti halnya yang dipaparkan salah seorang aktor Indonesia, Didi Petet, dalam e mail-nya kepada Willy menyebutkan, hutan dan seisinya tak rela dan meneriakkan dalam sebuah ruang teater yang kemudian dari pementasan itu apa sikap manusia menerima teriakan jeritan yang tak kunjung henti? Hanya diamkah? Atau menjadi tembok bisu yang tak punya lagi kepekaan tentang jeritan alam. Bangsa ini, lanjut Didi Petet, hampir sudah tidak bisa lagi mendengar jeritan alam yang terus dirusak oleh manusia, tak peka lagi kepada lingkungan di mana tempat hidup, yang ada hanya mengutamakan ketamakan untuk kepentingan sesaat. Di ruang teater inilah nurani diuji tentang peka atau tidaknya manusia menghadapi semua, tegas aktor senior Indonesia itu.

Budayawan Riau, Al azhar dalam elu-eluannya mengatakan Opera Rimba merupakan pelantar kisah yang jelas-jelas terletak pada isu dan kesadaran aktual yaitu keterancaman ekologis. Kemudian lanjutnya, bagaimana kesadaran itu dipresentasikan dalam tema-terma seni pertunjukan yang kemudian menjadi menarik untuk disaksikan dan disimak.
Pertanyaannya kemudian, apakah setelah menyaksikan penonton akan beroleh sesuatu yang katakanlah misalnya batin yang dirasuki keprihatinan ekologis dengan cara yang indah, yang dapat merangsang bentuk-bentuk tindakan pribadi untuk pemulihan ekosistem, sedapatnya yang dilakukan sendiri atau bersama-sama? Pertanyaan ini pun apa boleh buat hanya bisa kita jawab setelah menyaksikan pertunjukan, kata Al azhar.

Pementasan yang berdurasi sekitar  90 menit itu juga berbicara tentang bagaimana seharusnya manusia memiliki kesadaran akan arti pentingnya lingkungan hidup dan mampu menjaga keseimbangannya. Yang menjadi menarik lagi, di dalam pentas tersebut, binatang-binatanglah yang berperan dan memberikan pelajaran kepada manusia. Premisnya bicara soal binatang-binatang yang sekarat karena kehilangan habitatnya. Lalu, tentu saja akan berdampak pada banyak hal. 

Salah seorang sineas Riau, Pradonggo mengemukakan, yang membedakan bencana alam dan yang dibuat manusia adalah reaksi hewan atas hal itu. Pada bencana alam, lanjutnya hewan secara naluriah bereaksi. Dan reaksinya memberi tanda kepada makhluk hidup lain termasuk menusia agar menghindar dan selamat untuk meneruskan hidup dan beregenerasi. Namun pada bencana yang dibuat manusia, hewan terdiam. Bukan karena nalurinya menumpul tapi karena pelakunya justru manusia yang menggunakan kebuasan hewani, ucap Pradonggo merespon pertunjukan Opera Rimba. (*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us