Pelaku Usaha Selektif Ekspansi
Rabu, 12 September 2018 - 13:17 WIB > Dibaca 322 kali Print | Komentar
Berita Terkait



JAKARTA (RIAUPOS.CO) -  Fluktuasi nilai tukar rupiah membuat pelaku usaha harus menyesuaikan strategi bisnisnya. Di antaranya, melakukan efisiensi dan hati-hati dalam berekspansi. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menuturkan, tantangan perekonomian akan terus berlangsung meski ada intervensi dari pemerintah dengan berbagai aturan. 

Itu terjadi lantaran ketidakpastian saat ini dipicu faktor eksternal. ”Perekonomian Indonesia tidak bisa terlalu agresif. Mungkin tumbuh 5,1 persen pada tahun ini sudah cukup baik,” ujarnya, Senin (10/9).

Selain melakukan efisiensi, lanjut dia, pengusaha harus hati-hati dalam berekspansi atau mengembangkan proyek. Khususnya bagi perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS cukup besar. Dari lini usaha menengah ke bawah, Shinta mengungkapkan bahwa UMKM yang mengandalkan produk dalam negeri akan menjadi kontributor penting. Sebab, produk-produk UMKM tidak terpengaruh impor. ”Jadi, pemerintah bisa memperkuat produk UMKM yang dihasilkan dari dalam negeri,” jelasnya.

Di sisi lain, untuk pengusaha menengah yang berorientasi ekspor, Shinta menilai kondisi saat ini menjadi peluang untuk mendorong ekspor lebih besar. ”Nilai mata uang saat ini sangat bagus untuk mendorong ekspor. Bagaimana caranya, itu kembali ke strategi masing-masing. Jadi, pemerintah dan dunia usaha sama-sama berupaya untuk menstimulasi ekonomi,” katanya.

Senada dengan Shinta, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menilai risiko nilai tukar rupiah masih akan ada bagi pelaku pasar domestik. Sebab, The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya. 

Menurut Ade, yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia adalah keterbatasan akses ekspor produk dalam negeri. Tidak seperti Vietnam dan Bangladesh yang punya akses ke Eropa dan AS. ”Indonesia masih bayar bea masuk lebih tinggi dari mereka, otomatis barang kita sangat kecil,” katanya.

Kepala Departemen Internasional BI Dody Zulverdi menekankan, kondisi ekonomi makro saat ini dalam posisi kuat. Jauh lebih baik dibandingkan dengan masa krisis 1998. Dia menyebutkan, kala itu tingkat inflasi bahkan mencapai 78,2 persen. ”Sementara sekarang hanya 3,2 persen,” ujarnya.(ken/agf/c10/fal/jpg)
KOMENTAR
Berita Update

Daud Yordan Mau Istirahat Dulu
Rabu, 14 November 2018 - 14:30 wib
pengurus Federasi Olahraga Petanque Indonesia
Pengurus FOPI Provinsi Riau Dilantik
Rabu, 14 November 2018 - 14:27 wib
Tiga Terdakwa Dituntut Lima Tahun Penjara
Korupsi Danau Buatan Rohil
Tiga Terdakwa Dituntut Lima Tahun Penjara
Rabu, 14 November 2018 - 14:00 wib

Habib Rizieq Tak Langgar Hukum
Rabu, 14 November 2018 - 13:51 wib
Sandiaga: Saya Terus Berkomunikasi dengan SBY

Sandiaga: Saya Terus Berkomunikasi dengan SBY
Rabu, 14 November 2018 - 13:34 wib
Dua Gedung Penegak Hukum  Belum Kantongi Izin Lingkungan

Dua Gedung Penegak Hukum Belum Kantongi Izin Lingkungan
Rabu, 14 November 2018 - 13:00 wib

Kulit Cerah dengan Sapuan Warna Cokelat
Rabu, 14 November 2018 - 12:53 wib
Dewan  Ditantang  “Puasa” SPPD
Defisit Tersisa Rp700 Miliar
Dewan Ditantang “Puasa” SPPD
Rabu, 14 November 2018 - 12:50 wib

Disdik : Pagar Dibangunan Komite
Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib
Khawatir Kuota Premium Tidak Cukup di Riau

Khawatir Kuota Premium Tidak Cukup di Riau
Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib
Cari Berita
Ekonomi-Bisnis Terbaru
Daihatsu Jelajah Hangatnya Minyak Kayu Putih dan Pantai Jikumerasa
Koleksi dari Paris, Boutique Si.Se.Sa Dibuka di Kota Pekanbaru
Holding Migas Jadikan PGN Pemain Kelas Dunia

Sabtu, 10 November 2018 - 11:06 WIB

KITB Penopang Ekonomi Riau ke Depan

Jumat, 09 November 2018 - 11:45 WIB

Telkomsel Hadirkan Bundling TAU Lite 6 Plus Hanya Rp 10 Dapat Paket 6 GB
Sagang Online
loading...
Follow Us