Senjata Rahasia

30 Maret 2014 - 09.42 WIB > Dibaca 1872 kali | Komentar
 
Bukan itu saja yang diceritakan oleh Adul kepadaku. Masih banyak tentang  sosok lelaki itu. Adolf, lelaki dengan jambang yang bergulung dari pipi sampai ke dagu, kumisnya juga seperti para pemain reog, juga matanya tajam menyoroti mata kita. Kekar badannya yang hampir dapat kukira tak mampu kalau orang ingin menendangnya. Adolf masih memiliki sesuatu yang tak dapat orang lain tahu di mana keberadaan benda itu. 

Seperti kuketahui juga dari Adul, bahwa Adolf tidak mempan senjata. Orang-orang pasti bingung kalau sudah berhadapan dengannya. Dia memang tidak tersinggung saat orang lain mengolok-oloknya, tapi tidak bisa tidak untuk hal yang berujung pada masalah harga diri. Dia pasti melayani dengan penuh gerilya. Bahkan, dulu, pernah seorang yang mengamuk kepadanya malah terpental sendiri ke kaca pertokoan. Kaca itu pecah berkecai, berantakan. 

“Orang lain jual, aku beli!” begitu katanya, jelas Adul kepadaku.

Aku mengangguk saja dengan sedikit kagum. Adul kenal dengan Adolf, lelaki yang berusia hampir lima puluhan. Tapi Adul tidak terlalu kenal dekat, hanya sekadar tahu untuk bisa dikatakan saling bertegur sapa saja. Untuk itu Adul menawariku agar lelaki itu mau menerima kami sebagai muridnya. Hal itu disampaikannya dengan penuh harapan dan penuh keyakinan. Baginya itu peluang emas untuk mendapatkan sebuah kesaktian. Adul sangat antusias. 

“Tapi apakah tidak kita telusuri lebih jauh tentang Adolf?” tanyaku terlebih dahulu. Kulihat Adul diam, tapi seperti menyiratkan raut kecewa. 

“Apakah kau masih ragu?”

“Aku hanya ingin memastikan saja. Sebab aku sebelumnya tidak tahu menahu tentang kesaktiannya itu, bukan? Jadi aku—setidaknya kita—perlu mengetahui lebih jauh,” jelasku padanya.

“Kau jangan khawatir. Aku kenal dengannya. Dia juga baik. Hanya orang saja tidak mengetahui dirinya. Orang terlanjur menganggap dia preman karena tampangnya. Setahuku dia memang pemeras, tapi kau harus tahu,” bisiknya spontan pelan-pelan. Lalu Adul menoleh kanan-kiri seperti khawatir ada orang yang mendengar. “Kau harus tahu, bahwa hasil uang yang didapatinya itu—dari perasnya pada orang yang kaya tapi pelit—sebagian dia bagikan kepada kaum dhuafa yang meminta-minta di pinggir jalan, para pengamen, para gelandangan, tukang parkir, tukang becak, sampai para pelacur,” jelas Adul dengan raut sangat serius. Aku terkejut. Dadaku berdegup. Darahku tiba-tiba berdesir. Adakah seorang preman besar mau berbuat seperti itu? Apakah lelaki itu ingin berbuat seperti Robin Hood? 

***

Aku memang belum merespon ajakan Adul untuk berguru silat pada Adolf. Aku masih berpikir panjang. Setidaknya aku masih merasa sulit untuk mengatur waktu karena di rumah, aku harus—mau tidak mau—menggantikan ibu menjaga warung pada waktu malam. Otomatis aku jarang memiliki waktu keluyuran. Setahuku Adolf sering main di pasar. Pekerjaannya sebagai buruh pelabuhan peti kemas. Dulu dia penarik becak, tapi karena tidak memiliki sepeda motor, dia kehilangan pelanggan, karena becak dayung yang masih ditarik oleh sepeda kini hampir tidak beroperasi lagi dan banyak ditinggalkan penumpang di Selatpanjang ini. Sebab itu orang banyak menggantikan dengan sepeda motor di sisi becaknya.

Adolf—seperti yang diceritakan Adul—seorang pekerja ulet. Wajahnya campuran jawa dan cina. Untuk itu mungkin dia dikenal rajin. Tapi kini orang banyak yang tidak suka padanya, konon karena suatu hal yang pernah dibuatnya dulu. Dulu ketika aku masih kecil-kecil tapi aku tak tahu pasti apa. Orang-orang menganggapnya preman pasar yang harus dihindari. Ada sebab lain yang juga melatarbelakanginya, sebagai bagian darinya, konon dia bekas seorang tentara yang membelot dari instruksi komandan untuk menumpas suatu pergerakan rahasia di Timor-Timur, hanya karena dia tidak ingin melukai seorang perempuan yang telah janda dengan seorang anaknya. Alasannya tidak diterima oleh sang komandan karena hal itu sebuah hal yang bodoh. Tapi dia dengan pendiriannya tidak ingin melukai orang-orang yang tidak bersalah akan imbas serangan rahasia kepada pihak sipil yang banyak menjadi mata-mata bagi pihak militer Indonesia yang saat itu sedang genting. Hal itulah yang, menurut cerita, sampai dia dikeluarkan dari anggota satuan militer. 

Dia kini masih dengan jiwa disiplin mulai meninggalkan kebanggaannya sebagai seorang tentara yang tidak ingin dikomandoi dan dia sempat diburu oleh orang Indonesia sendiri karena telah dianggap pengkhianat bangsa sendiri, karena sempat dulu dia membantu para gerilyawan negara yang ingin merdeka itu dengan bantuan peralatan senjata. Akhirnya dia sempat buron bertahun-tahun. Sampai orang-orang akhirnya melupakannya sendiri dan menganggapnya telah mati.

Itu cerita-cerita orang lain yang kudengar dari Adul. Seperti yang juga kulihat memang Adolf tampak sebagai lelaki yang memliki postur tubuh kekar, tegap tangkas, keras, tapi tampak dari hatinya juga lembut, tapi aku masih belum mengerti mengapa orang-orang lain semakin menghindarinya. Orang-orang sengaja menghidari untuk tidak ingin mencari masalah, karena menurut kabar, Adolf sangat mudah untuk menusukkan pisaunya ke perut orang lain (barangkali hal itu karena sesuatu permasalahan masa lalu) dan dia ternyata cukup puas berada di dalam sel tahanan. Dan sampai membuat pihak berwajib bosan dan muak melihat mukanya.

Adul masih mengharapku untuk menghadap lelaki itu. Bagiku ini sangat berat. Belajar silat dengan residivis dan seorang preman besar, apakah tidak berbahaya? Setidaknya aku khawatir pemikiran dari sang guru bertipe seperti itu akan sedikit banyak berpengaruh pada pemikiran kami sebagai muridnya kelak. Untuk itu aku harus hati-hati dan perlu mengutarakan dengan baik pada Adul. Aku juga tak ingin Adul terlalu gegabah dalam mengambil keputusan untuk belajar silat pada lelaki itu. 

Memang yang menjadi landasan kuat Adul untuk berguru pada lelaki preman besar itu karena untuk menjaga diri. Tapi aku yakin tidak sakadar itu, masih ada hal yang tersembunyi dalam benaknya. Adul dari raut wajahnya yang dapat kutangkap, sangat antusias mengajakku dengan berbagai dalih. Baginya keutamaan kemauan adalah niat baik. Berguru bukan berarti sekadar membentengi diri tetapi lebih jauh menjadi bagian dari apa yang telah diajarkan dengan mengarungi semuanya; kalau dapat tanpa sisa. Itu yang pernah kutangkap ungkapan Adul kepadaku. Secara jauh aku menangkap ada sesuatu yang begitu optimis dalam dirinya untuk berguru silat. Apakah Adul ingin kelak menjadi pengganti Adolf? Sejauh mana dia mengerti tentang pribadi lelaki preman besar itu? Aku sampai kini belum ada merespon. Bahkan kalau dia datang ke warung saat aku jaga malam, aku usahakan dengan topik obrolan yang lain; tentang klub-klub sepak bola kesayangan kami, tentang kapan akan bermain footsall kembali, tentang kondisi ayahnya yang baru selesai operasi, tentang teman sekelas kami Dewi yang cantiknya aduhai… sampai tentang rencana kami merokok pada jam istirahat di semak-semak belakang sekolah. Tapi celaka, dia masih saja tiba-tiba merocos tentang Adolf, untuk berguru silat kepada lelaki preman itu.

***

Akhirnya aku mengucapkan ‘Iya’ sambil mengangguk meski dalam hati tetap mengatakan ‘Tidak’. Hati kecilku berontak. Tapi anehnya aku menurut saja oleh ajakan Adul itu. Setelah beberapa minggu ini, dia tampak tidak seperti biasanya: raut wajahnya kusut, rambut acak-acakan dan kering (barangkali mungkin dia mulai jarang mandi sekaligus pakai minyak rambut), pakaiannya kelihatan kusam dan kumal, juga terlihat kumuh, bicaranya yang tak kumengerti, sedikit tampak awut-awutan, kasar, keras, dan terkesan memaksa (apakah dia saat ini sudah terbiasa mabuk?) dan terakhir giginya kuning berkarat kecokelatan karena sudah sering merokok. 

Aku tak tahu mengapa Adul berubah. Kali ini di hari kedua, sepertinya ajakannya itu tak dapat ditoleransi lagi. Bahkan mungkin dia  bukan saja menceramahiku tetapi  akan sanggup juga untuk membentakku. Demi persahabatan aku menurut tetapi aku bertekad untuk tidak terlalu serius. Aku segera berganti pakaian. Lalu kami tancap gas dengan Satria FU. Langsung ke tempat dimana biasanya Adolf nongkorng di sore hari. 

Ketika kami tiba, Adolf tampak santai menikmati sore yang gerah sambil menyeruput secangkir kopi dan sebatang rokok. Tatapannya jauh ke arah laut dan di ujung sana, Pulau Rangsang—barangkali kampungnya—setidaknya dia mengingat kembali kenangannya, entahlah. Adul turun gelagapan lalu menyenggolku dengan bahunya, “Apa dia patut untuk diganggu?” Tanya Adul kepadaku sambil mengernyitkan dahinya. Aku juga memandangnya dengan raut tak pasti.

“Coba kau dekati saja,” balasku meyakinkan.

Aku lihat Adul seperti tidak yakin. Aku mulai tertawa dalam hati. Mengapa dia jadi ciut begitu. Tapi aku masih terus memompanya untuk menyakinkan bahwa kedatangan ini jangan disia-siakan. Lalu dengan berharap tidak terjadi apa-apa Adul mulai melangkah mendekati lelaki sangar itu. Aku membuntutinya dari belakang.

Hampir dekat, tapi kami telah dikejutkan oleh wajah Adolf yang kaku. Matanya merah. Mulutnya masih menancap batang rokok yang tinggal seinci, dia mengisapnya dalam-dalam sambil mengernyitkan dahi, “Kalian… mau belajar silat?” ujarnya dingin. Kami langsung terpaku. Dari mana dia tahu?

Kulihat Adul terdiam kaku. Aku ingin mengatakan sesuatu tapi kekakuan turut menyelimutiku. Aku tak tahu mengapa. Demi mencairkan situasi, kulihat lelaki sangar itu tertawa—lebih tepat menertawai kami. Adul menjadi cengengesan seperti tidak tahu apa yang harus dikatakan di saat ini. Lalu Adolf menyilahkan kami duduk di dekatnya. Sembari menawarkan sisa panganan gorengan yang masih ada. Aku yakin Adul enggan menjamah makanan itu. 

“Kedatangan kalian setidaknya sebagai obat bagiku,” katanya sambil tertawa.

Kami mendengarnya seperti tertawa lain, yang dibuat-buat. Aku mulai merasa sesuatu yang lain. Kulihat wajah Adul pucat. Setidaknya, perasaannya akan berkecamuk, atau dia telah menyesal untuk mengajakku ke tempat ini? 

“Kami tidak bermaksud demikian, Abang. Tapi …”

“Sudahlah! Kalian jangan kaku begitu. Tidak baik telah datang jauh-jauh dan menyinggung perasaanku, bukan?”

Kami spontan saling pandang. Apa maksud Adolf? Demi Tuhan aku merasa menyesal menerima ajakan Adul menjumpai lelaki sangar ini. Sejak tadi aku seperti menangkap gelagat yang lain pada diri lelaki itu. Dari jauh, setidaknya dari jauh, aku bisa membayangkan sesuatu yang “angker” tergambar dari, hampir, pada seluruh tubuhnya: wajahnya yang kaku berminyak, mata merah—bisa kurang tidur atau sering meneguk minuman keras?—menyala, rambut kusut masai; tampak uban berserak juga ketombe, lengannya tampak kekar juga penuh tato lebih dominan tato bergambar perempuan telanjang, atau tanda panah menembus hati seperti tergambar pada buku-buku tulis remaja; lengan kekar itu tampak legam oleh sengatan matahari, dan bajunya, kau tahu, sangat kumal tentu juga bau dan penuh debu, oh ya, celanya jeans-nya koyak-moyak dan berdebu. Tak salah kalau kami memang mendatangi salah orang. Ah! Aku menyesal menerima ajakan Adul. Tapi kami masih belum berani beranjak dari lelaki sangar ini.

“Kami ingin belajar silat pada Abang …” kata Adul dengan gelagapan.

Adolf tertawa. Lalu bertepuk tangan seperti mempermainkan kami.

“Boleh saja. Itu bagus, bukan?” balasnya. “Tapi kalian harus tahu. Setidaknya belajar silat bukan hanya belajar tetapi juga memasang prinsip untuk sesuatu…”

Rasanya Aku ingin cepat-cepat meninggalkan tempat terkutuk ini. Tapi kulihat Adul berubah pikiran, padahal sudah kusenggol dia dengan bahu. 

“Maksud Abang?” lanjut Adul seperti ingin meneruskan pembicaraan.

“Ya. Kau tidak perlu heran. Maksudku—begini—aku tidak bermaksud sombong.

Apakah kalian yakin benar akan kegunaan ilmu silat yang kalian dapatkan nanti?” balas Adolf menyoroti mata kami dengan tatapan tajam. Apa maksudnya? Kali ini aku mendengar sesuatu yang lain. Tidak seperti tadi yang seperti mengerikan. Apakah ada sesuatu yang dipikirkan Adolf? 

“Aku ingin jadilah kalian orang yang benar-benar memegang prinsip! Apalagi lelaki. Kita harus melihat kenyataan. Orang besar dan kaya belum tentu memiliki sifat kearifan sebagai manusia, tetapi orang kecil—dia tertawa sambil mengatakan dirinya—bisa jadi lebih peka dan mampu berbuat untuk berbagi bersama juga memiliki peran untuk bersikap menolong pada sesama.”

Kami saling pandang lagi. Hatiku seketika berubah dari takut kini menjadi biasa, gugup jantungku juga mereda. Aku memabayangkan Adolf tidaklah segarang apa yang aku bayangkan. Tampak Adul semakin berani mengajukan keinginannya. Tapi aku tetap was-was oleh pemikiran Adolf.
***

Sepenuhnya aku belum mengerti apa yang dimaksud Adolf. Lelaki paruh baya berwajah beringas itu—dengan suaranya yang menggelegar, berkata seperti berfilosofi. Aku seperti menangkap sesuatu kesan: mirip—mungkin—ajaran-ajarannya yang kelak akan ditularkan kepada muridnya. Setidaknya keinginan seperti itu  akan tercapai. Tapi apa? Aku setakat ini hanya menduga. Sebab ada raut muka Adolf seperti mengisyaratkan kebencian. Garangnya, ya garangnya itu… bukan seperti ditujukan kepada kami. Namun sial! Aku setidaknya harus merelakan waktu sedikit untuk terpaksa menemuinya sekali seminggu di minggu pagi pukul tujuh. Di sebuah pekarangan yang tak terlalu luas itu, Adolf melatih aku dan Adul pencak silat. 

Sebelumnya aku memang manaruh minat besar terhadap bela diri. Kesukaanku menonton pertandingan di stadion memotivasiku untuk memiliki ilmu bela diri nusantara ini. Tapi kini, perasaanku diselimuti kekhawatiran lain. Wajah Adolf seperti membayangi pikiranku tentang sesuatu yang lain. Meski dalam kelembutan, keselarasan, keutuhan, kekuatan dalam latihan pencak silat itu, unsur lain sedikit-sedikit mulai merasuki kami, aku tidak tahu Adul, tapi aku merasakan sebuah keganjilan pada diriku.

***

Bangunan rumah megah dan mewah itu tampak semrawut. Kaca-kaca jendela tampak retak dan pecah. Sebuah parabola miring membentuk sudut yang tak karuan. Sebuah mobil di luar, tampak pecah kaca-kacanya juga remuk. Rumah itu, padahal, dikawal oleh dua orang satuan pengamanan. Tapi malang tidak bisa dielak oleh seusatu yang mendadak.

Terdengar jerit histeris perempuan dari dalam rumah. Tangisan anak-anak terdengar ramai, juga dari dalam. Para polisi memasang garis batas berwarna kuning mengelilingi rumah. Seorang lelaki berpakaian jas dan dasi tengah berhadapan dengan tiga orang polisi perpangkat tinggi. Beberapa wartawan sibuk menjepret keadaan. Sejumlah tetangga tampak antusias melihat kejadian yang berlangsung. Semua larut demi mengetahui kejadian itu. Aku turut memandang semua itu dengan cemas. 

Seperti kata orang lebih kejam ibu kota daripada ibu tiri. Setidaknya hal itu benar. Ungkapan yang dapat mencengangkan kita sekaligus membuat bulu kuduk kita berdiri. Aku jadi teringat Adolf. Lelaki bengis itu selalu berkata orang kecil belum tentu menderita tetapi orang besar, bisa jadi lebih menderita secara tiba-tiba. Secara tak terduga semua harta mereka habis lenyap tak tersisa tanpa tahu untuk berkata apa. Orang kecil hanya menderita karena tak memiliki daya kemampuan untuk kaya. Tetapi orang kaya menderita karena kekayaan itu sendiri yang malah meneror mereka—itu kalau mereka menyalahkan harta itu sendiri. Aku teringat Adolf berkata demikian pada asat istirahat latihan pencak silat. Entah mengapa aku kembali teringat kepadanya…

“Harus kalian ketahui Aku bukan seorang perusuh, pembuat ulah, atau pemberontak. Aku memang penentang segala ketidakadilan. Aku berbuat karena memang harus ada yang kuperbuat. Aku penentang karena memang ada yang akan ditentang. Aku pemberontak karena memang ada untuk aku berontak. Semua hal itu memang tidak dapat diterima tetapi yakinlah akan dapat diterima karena logika kita ada. Semua itu bisa dikatakan tidak mungkin dilakukan, tetapi yakinlah semua itu dapat dilakukan meski tidak benar karena ada yang menyimpan dan simpang siur, hal itulah yang membuat tidak benar akan berubah menjadi benar meski di mata mereka semua orang mengatakan itu salah….

Lalu? Apa menurut abang semua itu benar dan dapat dilakukan? Meski di mata umum hal itu salah? 

Mengapa kalian tolol sekali?! Bukankah hal itu salah? Bukankah semua yang mereka—orrang-orang besar itu—lakukan salah? Lihatlah… tidak ada yang menyalahkan mereka meskipun mereka telah berbuat salah. Kalian harus tahu bahwa di negara besar ini hukum hanya sebagai mainan, hukum ibarat mainan anak-anak yang sangat murah. Hukum seperti barang ekonomis yang mudah untuk diperjualbelikan oleh pelaku hukum sendiri. Begitu mudah semua dilakukan tanpa merasa berdosa.”

***

“Aku tidak menyalahkanmu untuk tidak lagi belajar silat pada Adolf,” kata Adul dengan tenang. Aku mengangguk.

“Tapi aku merasa puas…” lanjut Adul terhenti. Aku menatapnya penuh tanda Tanya. Wajahnya tiba-tiba begitu sumringah.

“Kepuasan apa itu?”

“Apa yang diajarkan Adolf kepadaku benar apa adanya. Untuk itulah aku ingin seperti dia. Ingin menjadi bagian dari dirinya. Kau tahu kejadian tadi di rumah salah seorang pejabat pemerintah bajingan itu?” kata Adul yang membuatku heran.

“Akulah pelakunya!” 

Aku hampir pingsan. Tapi cepat aku pulihkan diri. Meskipun jantungku hampir lepas, aku mencoba untuk mengetahui sambil mengucap istighfar berkali-kali.

“Kau harus tahu… bahwa kita harus memiliki kepekaan terhadap hidup! Orang-orang seperti itu (ucap Adul sambil meludah menunjukkan ekspresi kebencian) harus dibasmi dari kehidupan ini. Mereka adalah virus bagi kita kaum miskin yang termarginalkan. Kita orang tertindas oleh sikap mereka.”

Aku mengggeleng, “Aku tak mengerti…”

“Kau tidak mengamalkan apa yang telah Adolf ajarkan kepadamu!”

“Aku bukan muridnya. Aku tidak siapa-siapa bagi dirinya,” balasku tegas.

“Tapi kau harus sadar bahwa orang-orang laknat itu (sambil menyumpah) harus kita tumpas. Uang kita ada sepenuhnya pada mereka. Soal janji mereka akan menyejahterakan kita! Itu hanya dongeng pangantar tidur. Bahkan aku ingin sekali memotong lidah mereka atau menyembelih leher mereka seperti kambing kurban,” Adul tertawa.

Aku mulai meneteskan air mata. 

“Kau bukan temanku kalau begitu,” jawabku.

Adul tertawa lantang. 

“Aku sangat takut berteman seorang buronan.”

“Aku bukan buronan. Malah aku adalah pahlawan. Aku membela rakyat yang sebenarnya. Aku berbuat untuk mereka, kau yang tertindas oleh perbuatan kaum laknat itu. Kau harus tahu semua yang kuperbuat hasilnya telah kubagikan kepada mereka yang membutuhkan.”

Aku membuang muka sambil menyapu air mata.

“Dan kau tahu? Adolf… telah juga aku habisi. Aku berhasil mengambil senjata rahasianya. Aku kini akan berkuasa.”

Aku beralih memandang Adul dengan tajam. (*)
 
Selatpanjang, 21 Februari 2014


Riki Utomi
Menamatkan studi di Prodi. Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau  
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Follow Us