Filolog

30 Maret 2014 - 09.45 WIB > Dibaca 2293 kali | Komentar
 
SEHARUS diakui bahwa ilmu tentang naskah (atau yang lebih dikenal dengan istilah filologi) sepi peminat. Tidak banyak orang yang mau bertungkus-lumus dengan lembaran-lembaran kertas usang yang seringkali pula telah berdebu. Banyak kesulitan yang harus diatasi seseorang ketika berhadapan dengan naskah. Salah satu kesulitan (yang utama) itu adalah bahasa. Idealnya, di samping harus menguasai banyak bahasa, seorang filolog juga harus mengetahui, memahami, dan menguasai bahasa naskah dengan baik. Di Indonesia, misalnya, karena pada umumnya naskah ditulis dalam bahasa Sanskerta, Arab, Jawa Kuno, atau Melayu serta karena naskah-naskah itu pun sebagian besar sudah berada di luar negara (seperti Inggris dan Belanda), seorang filolog dituntut untuk menguasai semua bahasa yang disebutkan itu.

Di Riau, salah seorang (jika tidak boleh dikatakan satu-satunya) yang dapat disebut sebagai filolog mumpuni adalah Hasan Junus (HJ, almarhum). Oleh karena itu, kepergian HJ benar-benar telah meninggalkan duka yang dalam bagi dunia pernaskahan, tidak hanya di Riau, tetapi juga di Indonesia (bahkan mancanegara). Dikatakan meninggalkan duka karena tidak banyak generasi penerus yang mempunyai keahlian seperti HJ. Kalaupun ada, dapat dihitung dengan jari, di antaranya adalah Al Azhar, Ellya Roza, dan A.G. Darmawi.  

Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satu penyebabnya, selain yang sudah disebutkan di muka, adalah karena naskah merupakan barang langka yang sulit ditemukan. Kalaupun ada, naskah dapat dikategorikan sebagai barang mahal yang hanya dapat dijangkau oleh orang-orang tertentu. Sebagai akibatnya, generasi penerus yang ingin mempelajari filologi (tetapi tidak memiliki banyak uang) akan terkendala.

Di samping itu, untuk mencetak filolog, di Indonesia hanya ada dua perguruan tinggi yang mempunyai Program Studi Filologi: Universitas Indonesia (Jakarta) dan Universitas Padjadjaran (Bandung). Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta) hanya menjadikan filologi sebagai mata kuliah dan (bidang) peminatan mahasiswa jurusan sastra di Fakultas Sastra. Hal lain yang membuat miris adalah semakin berkurangnya jumlah mahasiswa yang meminati filologi. Sebagai gambaran, dapat dilihat pada jumlah mahasiswa pascasarjana Program Studi Filologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia: pada 2010 dan 2011 hanya ada 1 orang; pada 2012 hanya 3 orang; dan pada 2013 tidak seorang pun yang mendaftar pada program studi filologi. Walaupun untuk menjadi filolog tidak harus melewati pendidikan formal, gambaran itu merupakan indikator bahwa peminat (apalagi ahli) dalam  ilmu filologi memang tidak banyak.

Kekurangan filolog juga dirasakan di Riau. Padahal, Provinsi Riau ditengarai sangat kaya dengan naskah. Selama ini, masyarakat beranggapan bahwa keberadaan naskah lama identik dengan Provinsi Kepulauan Riau. Hal itu dapat dimaklumi karena di provinsi itu pengarang-pengarang besar (ter)lahir. Siapa yang tidak mengenal Raja Ali Haji? Dari satu pengarang itu saja, konon, Kepulauan Riau telah memiliki sekitar 15 naskah, yang meliputi berbagai bidang: bahasa, sastra, sejarah, hukum, serta agama (Islam). 

Di Provinsi Riau keberadaan naskah, terutama naskah yang masih berada di tangan masyarakat, belum terlacak. Padahal, bisa saja jumlahnya tidak kalah besar dengan jumlah naskah di Provinsi Kepulauan Riau. Hal itu dimungkinkan karena di Provinsi Riau terdapat banyak (bekas) kerajaan yang tersebar di banyak tempat, seperti Inderagiri, Siak, Kampar, dan Rokan Hulu. Kerajaan-kerajaan tersebut, konon, telah melakukan komunikasi melalui surat. Surat-surat yang ditulis dengan tulisan tangan dan menyimpan berbagai ungkapan pikiran serta perasaan sebagai hasil budaya bangsa masa lampau seperti itulah yang disebut naskah manuskrip (manuscript).

Untuk melacak keberadaan naskah sangat dibutuhkan keseriusan yang tinggi. Sering terjadi kita sudah harus mengeluarkan dana hanya sekadar untuk melihat naskah. Apalagi untuk memilikinya, tentu diperlukan dana yang lebih besar lagi. Bahkan, ketika sudah ditemukan pun, belum tentu naskah dapat dengan mudah dilihat dan/atau dikaji. Tidak jarang naskah-naskah itu dianggap keramat oleh masyarakat sehingga tidak sembarang orang boleh melihatnya. Kalaupun diperbolehkan, biasanya, harus melalui ritual-ritual tertentu. 

Naskah adalah sesuatu yang unik, bernilai, dan langka. Naskah mengandung teks-teks yang menyajikan banyak informasi: tentang sejarah, bahasa, sastra, biologi, antropologi, bahkan teologi. Naskah merupakan saksi dari sebuah kebudayaan, sebuah peradaban manusia. Dengan membaca dan mengkaji naskah, dengan demikian, seseorang (filolog) akan dapat menemukan sesuatu yang bernilai, tidak saja untuk kebudayaan dan masyarakat, tetapi juga (mungkin) untuk kepuasan pribadi.

Tugas filolog (di Riau) memang masih banyak dan berat. Di samping masih harus melakukan pelacakan naskah, filolog juga harus mengkajinya: mengungkapkan isi teks agar dapat dipahami oleh masyarakat pembaca sekarang. Untuk itu, agar naskah-naskah lama itu tidak hilang ditelan zaman, perlu dipikirkan juga pembuatan (naskah) digitalnya.

Nah, menjadi filolog? Siapa takut?

Salam.


Devi Fauziyah Marifat  M Hum 
Peneliti pada Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us