Depresi 9 April

6 April 2014 - 09.07 WIB > Dibaca 1419 kali | Komentar
 
Depresi 9 April
SAHABAT lama bercerita mengenai pengalaman psikisnya lima tahun lalu. Perasaan cemas, kawatir, kadang percaya diri, kadang rendah diri, muncul silih berganti. Bahkan lebih mengkawatirkan lagi, katanya, semacam ada yang selalu berbicara di telinga mengatakan bahwa ia menang. Hingga hari pencoblosanpun tiba, pada malamnya, sedikitpun matanya tidak terpejam. Perasaan macam-macam itu makin kuat intensitasnya sehingga istrinya merasa perlu meminta ibunya menelepon dari kampung halaman untuk menenangkannya.

Butuh sepekan setidaknya bagi sahabat itu untuk bisa mulai tidur di malam hari, setelah ia yakin benar bahwa ia memang benar-benar tidak terpilih. Dan butuh waktu dua sampai tiga bulan baginya untuk benar-benar menenangkan diri. Pengalaman itu dikisahkannya saat ia mencalonkan sebagai calon legislatif di Riau. Padahal katanya, jauh hari ia memang sudah yakin tidak akan terpilih dan hanya sekedar iseng-iseng, mumpung ada kesempatan untuk masuk bursa Caleg karena latar belakang aktivis sewaktu di kampus dulu. Ia tidak mengeluarkan uang banyak, sekedar spanduk, kartu nama dan makan-minum orang yang ditemui. Tapi, perasaan macam-macam itu tetap saja muncul katanya. Saran saya ketika itu, kalau tidak siap dari segala hal, lebih baik tidak mencalonkan diri.

Lama tak berjumpa dan helat politik lima tahunan pemilihan legislatif digelar lagi, sahabat ini ternyata kembali dicalonkan oleh partainya. Namun kali ini, sahabat yang berlatarbelakang kontraktor ini, tampak lebih percaya diri dan sudah menyiapkan berbagai strategi politik. Ia tidak menghiraukan lagi dampak psikologis yang dialaminya, walau saat berjumpa pengalaman itu tetap menjadi cerita menarik disampaikannya. Uang puluhan juta, bahkan meminta wangsit ke paranormalpun sudah dilakoninya. Terakhir berjumpa, sepekan  jelang  pencoblosan, ia mulai tampak meracau dengan segala strategi politik yang sudah dijalaninya dengan percaya diri cukup tinggi. Mudah-mudahan. Tapi, siap menang dan harus siap pula kalah, fisik maupun mental. Pesan saya pada sahabat itu.

Lain lagi cerita kawan sealmamater dulu. Dia juga sulit tidur di malam hari dalam sepekan terakhir. Hari-harinya, singgah dari satu kedai kopi ke kedai lainnya, dari perumahan satu ke perumahan lain, dari rumah tokoh masyarakat yang satu, tempat ke rumah tokoh lainnya. Ia tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata mengajak memilih. Tidak juga ia merasa ragu untuk bersikap akrab dengan siapapun yang ditemui.

Kawan ini bukanlah calon legislatif ataupun kontestan Pemilu 2014 ini. Tapi ia hanya tim sukses yang cukup besar diberikan kepercayaan oleh seorang Caleg sebagai perpanjangan tangan mencari, mengajak dan mencoblos Caleg yang diusungnya. Ia mati-matian memenangkan seorang Caleg sebab dijanjikan akan ikut serta sukses dan menikmati hasil kalau berhasil terpilih. Apalagi ia kini putus kerja sebagai honorer, sementara sudah memiliki anak. Memenangkan salah seorang Caleg katanya juga menjanjikan kehidupan lebih baik nantinya. Anehnya, ia berucap upaya yang dilakukannya itu tak ubah seperti main judi, sebab sulit diprediksi seorang Caleg benar-benar menang walau sudah mengeluarkan banyak uang.

Dua kisah itu menjadi sisi menarik pargelaran Pemilu 2014 ini. Banyak yang memprediksi bakal banyak orang-orang stres bahkan gila setelah Pemilu legislatif ini. Sehingga dimana-mana, rumah sakit daerah setempat menyediakan fasilitas khusus untuk perawatan Caleg yang stres atau sampai gila. Tapi dua cerita sahabat itu mengindikasikan bukan hanya Caleg saja yang berpotensi gila. Tim sukses, keluarga Caleg juga berpotensi menjadi stres hingga berujung gila.

Potensi gila ini juga sebab gila-gilaannya seorang Caleg, tim sukses atau keluarganya dalam berpolitik merebut kursi legislatif. Bukan rahasia umum lagi, mulai dari akan didudukkan menjadi seorang Caleg, ditetapkan, hingga melakukan serangkaian kerja politik merebut hati pemilih memerlukan uang pelancar yang tidak sedikit.

Maka sebagian besar, para kontestan legislatif ini, mencari berbagai cara untuk mendapatkan sokongan dana. Mulai menguras uang simpanan, meminjam sana sini, menjual harta benda, hingga berpartner dengan “investor” politik. Khusus investor politik ini, biasanya imbal baliknya jika terpilih duduk menyiapkan berbagai proyek atau memback up segala urusannya. Khusus kategori Caleg yang meminjam uang sana sini, tentunya akan tersangkut masalah jika tidak berhasil duduk di kursi legislatif, dan depresipun bertambah-tambah.  

Depresi sebenarnya lumrah, siapapun bisa terjangkit. Di sisi ilmu psikologi atau kejiwaan, depresi suatu gangguan tonus atau perasaan yang secara umum ditandai rasa kesedihan, apatis, pesimisme dan kesepian. Manifestasi klinis dapat berbeda-beda bagi masing-masing individu, namun saling berkaitan seperti perubahan pada pola tidur, nafsu makan, gangguan psikomotor, gangguan konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya serta gejala terberat adalah gagasan untuk bunuh diri.

Depresi berat yang bisa berujung gila berpotensi besar dialami para Caleg gagal dan tim suksesnya yang menghalalkan segala cara. Melakukan berbagai pelanggaran adalah hal biasa. Tebar uang, mencuri suara Caleg lain, mempengaruhi penyelenggara Pemilu untuk berbuat curang dengan iming-iming uang, menyiapkan pemilih siluman, hingga menciptakan keonaran adalah bentuk pelanggaran yang bagi sebagian Caleg adalah biasa dan lumrah dalam strategi politik.

Pikiran seperti itu biasanya sebab ketidaksiapan seorang Caleg dalam segi strategi politik yang sebenarnya. Strategi politiknya instan, pragmatis bahkan kacangan. Kadang tanpa sadar, seorang Caleg yang menggelontorkan uang menyogok pemilih sebenarnya ia mempermalukan dirinya sendiri. Tapi bagaimana seorang Caleg yang akhirnya berhasil duduk padahal ia curang atau menebar uang? dilema yang sulit terelakkan, memang, ditengah minimnya tingkat pendidikan dan pendidikan politik bagi masyarakat kita.

Waktu tinggal tiga hari lagi untuk menentukan tepatnya Rabu 9 April ini. Caleg gagal akan jauh lebih banyak jumlahnya ketimbang yang berhasil. Depresi bukan hanya Caleg, tim sukses saja. Bisa pula kita semua menjadi stres, depresi, sebab lama benar menunggu berakhirnya masa Pemilu yang penuh hingar bingar, huru hara, tipu daya, berbagai atribut menyesakkan mata, hingga ruang pribadi rumah kita sendiri disuguhkan acara televisi berupa kampanye yang sebenarnya tidak mengenakkan untuk ditonton.**
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us