Depan >> Opini >> Opini >>

Ardianto Ahmad

Biogas, Pengganti Minyak Tanah dan Elpiji

12 Juli 2011 - 05.33 WIB > Dibaca 1618 kali | Komentar
 

PROVINSI Riau mempunyai potensi besar dalam pengembangan bidang peternakan, terutama peternakan sapi karena letak geografis dan topografi yang sangat mendukung hal tersebut. Di samping itu, permintaan pasar dunia terutama negara Singapura dan Malaysia sangat besar sehingga peluang ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di Provinsi Riau. Pengembangan bidang peternakan ini sejalan dengan program pemerintah Provinsi Riau yakni Program K2I (Kemiskinan, Kebodohan dan Infrastruktur) dimulai sejak tahun 2006 hingga saat ini telah mencapai 4.740 ekor sapi (Riau Pos, 2 Desember 2010).

Prospek pengembangan biogas sebagai sumber energi terbarukan membantu masyarakat agar ketergantungan terhadap minyak tanah dapat dikurangi karena potensi bahan bakar gas sebagai pengganti tersebut dengan mudah diperoleh oleh masyarakat pedesaan.

Kemudahan tersebut disebabkan oleh mudahnya mendapatkan bahan baku untuk pembuatan biogas yakni kotoran sapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seekor sapi dalam satu hari dapat menghasilkan kotoran sebanyak 10-20 kg, sedangkan setiap 10 kg kotoran sapi berpotensi menghasilkan 360 liter biogas. Pengolahan kotoran sapi menjadi biogas memberikan manfaat ganda yakni menghasilkan energi alternatif dan bahan sisa fermentasi dapat digunakan sebagai pupuk cair. Penerapan bioteknologi dalam pembuatan biogas dapat meningkatkan jumlah peternak dan peternak dapat memanfaatkan biogas untuk memasak dengan harga murah, bersih, dan ramah lingkungan.

Biokonversi limbah padat peternakan sapi secara biologis dapat dilakukan dengan sistem anaerob. Biokonversi secara anaerob mempunyai keuntungan antara lain tidak membutuhkan biaya untuk aerasi, lumpur yang dihasilkan sedikit dan menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi untuk pemanasan, pembakaran dan lain sebagainya (Ahmad dan Wenten, 1999) dan cairannya dapat digunakan sebagai pupuk cair yang laku untuk dijual. Di samping itu, pemanfatan biogas sebagai sumber energi bahan bakar alternatif di pedesaan dapat mewujudkan program pemerintah tentang Desa Mandiri Energi. Diharapkan, permasalahan pencemaran lingkungan dan kebutuhan minyak tanah serta kebutuhan kayu bakar di Provinsi Riau dapat diatasi dan dikurangi dengan pemanfaatan kotoran sapi menjadi bahan bakar gas alternatif dalam rangka mewujudkan Desa Mandiri Energi.

Mekanisme Bioproses Anaerob
Mekanisme bioproses melalui proses fermentasi bahan yang mengandung senyawa organik berupa karbohidrat, protein dan lipid yang terdapat pada kotoran sapi. Biokonversi senyawa karbohidrat, protein dan lipid secara anaerob melalui beberapa tahap yakni tahap pembentuk asam (terdiri dari proses hidrolisis, proses asidogenesis, proses asetogenesis) dan tahap pembentuk metan (proses metanogenesis). Tahap pembentuk asam merupakan tahap penguraian senyawa karbohidrat, protein dan lipid menjadi asam lemak volatil seperti asam asetat, asam propionat, asam butirat dan gas berupa CO2 dan H2.

Selanjutnya, tahap pembentuk metan merupakan tahap perubahan (konversi) asam asetat menjadi gas metan dan CO2 bersama dengan H2 menjadi gas metan (50-70 persen), karbon dioksida (25-45 persen) serta sejumlah kecil hidrogen, nitrogen dan hidrogen sulfida. Gas metan merupakan komponen utama biogas yang menghasilkan energi. Proses fermentasi bahan baku tersebut menggunakan mikroorganisme jenis bakteri yang terdapat pada kotoran sapi.

Pengganti Minyak Tanah dan Elpiji
Hasil penerapan teknologi pembangkit biogas yang dikembangkan oleh Ahmad (2011) melalui Program Pengentasan Kemiskinan Ikatan Alumni (IA) ITB di Dusun II Desa Batubelah Kabupaten Kampar dengan pasokan bahan baku dari dua ekor sapi untuk tangki pembangkit biogas kapasitas produksi 1.000 liter telah mampu menghasilkan api biru yang dapat dipakai selama 90 menit per hari dengan laju alir biogas sebesar 14,8 m3 per hari. Gas metan yang diperoleh mempunyai nilai kalor 71.040-99.160 kkal yang dapat digunakan sebagai bahan pengganti minyak tanah dan elpiji. Di samping itu, pembakaran biogas menghasilkan energi ekivalen setara dengan 103,6 Kg minyak tanah, 51,4 kg kayu, 0,9 liter kerosin, 9,0 liter solar, 22 Kg batubara, 6,  kg LPG atau 7,4 kg butan.

Sebagai energi alternatif, biogas bersifat ramah lingkungan dan dapat mengurangi efek rumah kaca karena akan mengurangi penggunaan kayu bakar sehingga mengurangi penebangan pohon di hutan dan ekosistem hutan tetap terjaga sehingga dapat mencegah perubahan iklim. Dengan demikian, untuk keperluan memasak bagi peternak sapi tidak membutuhkan lagi minyak tanah, kayu bakar atau elpiji. Di samping itu, pupuk cair yang dihasilkan setiap hari sebesar 35 liter  dapat digunakan untuk pemupukan lahan perkebunan atau dijual sebagai pendapatan baru (income generating) bagi peternak sapi.

Penutup
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa 4.740 ekor sapi pada tahun 2010 akan menghasilkan limbah padat sebesar 94.800 kg per hari maka potensi biogas yang diperoleh dari proses biokonversi sebesar 3.412.800 liter per hari atau 3.412,8 m3 per hari. Gas metan tersebut dapat dikonversi menjadi energi listrik dan energi pembakaran dan cairan hasil fermentasi dapat digunakan sebagai pupuk cair yang mengandung nitrogen, posfor dan kalium.

Dengan demikian, potensi energi yang berasal dari limbah padat peternakan sapi K2I Provinsi Riau mempunyai prospek yang menguntungkan untuk dikembangkan di Provinsi Riau dalam rangka mengantisipasi kelangkaan minyak tanah dan LPG di masa yang akan datang dan mencari terobosan baru untuk mengembangkan energi terbarukan di Provinsi Riau sebagai upaya pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) dalam mewujudkan sistem inovasi daerah (SIDa) dan mendukung sistem inovasi nasional (SIN as) sehingga mampu meningkatkan daya saing bangsa.***

Ardianto Ahmad
Guru Besar Teknik UR, Ketua IA ITB Daerah Riau.
KOMENTAR
Terbaru
BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 WIB

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 WIB

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi
Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan
Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 WIB

Follow Us