Panggung Publik Sumatera III

Menjadi Batu, Suarakan Perlawanan

6 April 2014 - 09.14 WIB > Dibaca 1705 kali | Komentar
 
Teater sebagai sarana untuk menyuarakan persoalan kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat sangatlah efektif.  Dengan dialog dan laku para aktor, peristiwa demi persitiwa yang kemudian terbangun dari pengadeganan yang dikemas sutradara dapat langsung dapat disaksikan dan dirasakan oleh penonton.

Laporan EDWIR SULAIMAN, Padangpanjang edwirsulaiman@riaupos.co

Teater Selembayung dalam helat Panggung Publik Sumatera III yang digelar di Padang Panjang, Sumatera Barat beberapa waktu lalu mementaskan sebuah naskah teater yang berjudul Menjadi Batu.  Pentas teater tersebut seperti halnya yang diakui Sutradara, Fedli Azis menyebutkan pentas Menjadi Batu diangkat dari cerpen Sastrwan asal Riau, Taufik Ikram Jamil yang  judulnya sama, tidak dirubah sama sekali.

Cerpen Menjadi Batu menjadi pilihan pentas Teater Selambayung kali ini dikarenakan menurut Fedli, kisah yang ditawarkan penulis tetap aktual bahkan kian terasa terutama bagi puak-puak Melayu tua. Salah satu diantaranya, suku Sakai (Montai). Praktik main mata antara pemerintah dan pengusaha membuat kehidupan mereka (suku montai red) kian tak menentu. Lebih menyedihkan lagi, akibat dari praktik busuk itu, sendi-sendi kehidupan, kebudayaan bahkan peradaban mereka terkikis sampai pada titik nadir. Mereka kian terombang ambing tak berdaya, itulah daya tarik cerpen ini yang kemudian saya coba untuk memindahkannya menjadi pertunjukan panggung, jelas Fedli.

Yang lebih miris lagi, tambah Fedli, akibat main mata antara penguasa dan pengusaha yang mencaplok wilayah hutan ulayat kampung suku Sakai secara membabibuta itu mengakibatkan  suku Montai kekurangan lahan untuk mata pencaharian. Mereka menjadi orang asing di negeri sendiri. Tak ada yang membela dan akhirnya mereka memutuskan untuk melawan. Dalam hal ini melawan  mereka dengan menggunakan kekuatan terakhir yakni Menjadi Batu, tambah pimpinan Teater Selembayung tersebut.

Menjadi Batu dengan Konsep Eksploratif

Tidak mudah memindahkan cerita yang berangkat dari cerpen ke atas panggung seni pertunjukan. Dalam hal ini Fedli menyikapi hal tersebut dengan mengatur serta menghadirkan adegan-adegan lewat kehadiran tokoh-tokoh sebagai penguat jalan atau alur cerita. Tokoh-tokoh di dalam cerpen Taufik Ikram Jamil yang hanya disebut didalam cerita, dihadirkan langsung dalam pertunjukan teater Menjadi Batu tersebut. Masing-masing yang diantaranya, Batin, Niru, Siah, Raut dan Bontik benar-benar hadir dengan perannya. Setiap gerak-gerik yang dilakukan aktor tersebut, menjadi simbol-simbol perlawanan di dalam pentas yang berdurasi sekitar 1 jam tersebut. Selain itu, dua tokoh lainnya sebagai penyampai informasi yaitu Jim seorang antropolog dan Ikram sebagai Jurnalis.

Hal itu dilakukan sebenarnya menjadi kebutuhan panggung sehingga cerita bisa benar-benar sampai ke penonton tidak berbentuk naratif layaknya sebuah cerpen saja, jelas Fedli ketika ditanyai mengenai proses kreatifnya dalam garapan teater Menjadi Batu.

Sesuai dengan konsep pemanggungan dari acara Panggung Publik Sumatera (PPS) III yakni teater sebagai media informasi bisa tampil di mana saja atau bahkan berinteraksi dengan masyarakat setempat secara langsung. Hal itu dijelaskan kurator PPS III, Tya Setiawati bahwa konsep PPS semula bagaimana seniman bisa berinteraksi langsung kepada masyarakat. Seniman tidak berdiri sendiri tapi ketika turun di lapangan, seniman bisa langsung berinteraksi dengan kondisi dan situasi yang terjadi di tempat itu.

Menyikapi hal itu, Teater Selembayung memilih tempat di sebuah lapangan di Pusat Dokumentasi Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM). Setting yang dibuat layaknya sebuah perkampungan di daerah suku pedalaman dengan penerangan hanya dari lampu-lampu obor. Kemudian tampak beberapa properti lainnya seperti alat-alat masak tradisional, peralatan berburu, jala untuk menangkap ikan dan lain-lain. Pentas yang dipergelarkan pada malam hari itu, dengan suara binatang-binatang malam dan diperkuat dengan  audio dari penata musik, Ridho semakin memperkuat suasana, penonton seolah-olah sedang dibentangkan keadaan dan situasi di tengah-tengah masyarakat suku pedalaman yang asli. Kayak serasa di daerah suku pedalaman asli ya, celetuk salah seorang penonton disela-sela penampilan yang sedang berlangsung.

Kisah diawali dengan kehadiran Bomo atau dukun sebagai pemimpin secara spritual dalam puak Montai tersebut. Setelah mengelilingi panggung dengan mantera-manteranya kemudian masuk beberapa pemain dengan gerak-gerik yang menunjukkan keterombang-ambingan kehidupan mereka (suku Montai red).

Tak lama berselang, masing-masing aktor yang berperan sebagai masyarakat suku Montai itu melakukan aktifitas sesuai dengan perannya. Namun diatara aktifitas itu, tampak pula keadaan mereka sudah berangsur-angsur menjadi batu yang dimulai dari kaki. Tapi yang anehnya, para penduduk suku asli tersebut, tidak mempermasalahkan apa yang sedang menimpa tubuh mereka dan itulah yang kemudian membuat tokoh lainnya, Jim menjadi panik dan heran ketika hadir di dalam panggung.

Jim adalah seorang peneliti atau antropolog yang melalui perantara Ikram, seorang jurnalis akhirnya bertemu dengan Niru (salah seorang suku Montai). Gelar profesor kemudian diraih Jim atas penelitiannya terhadap suku Montai. Setelah 17 tahun, Jim kembali lagi untuk reuni dengan Niru dan orang kampungnya, Jim melihat kenyataan di luar batas.  Dia tidak melihat hutan rimba lagi tapi sawit, akasia dan pipa minyak yang kian menimbun negeri Niru. Bahkan Jim menyaksikan dengan mata kepala sendiri orang-orang kampungnya menjadi batu.

Lalu kemudian, Jim segera menelepon rekannya, Ikram seorang jurnalis tetapi Jim juga tidak mendapat respon yang menggembirakan. ketakutan, kesedihan dan kepanikan Jim tidak justru terobati ketika berbicara dengan Ikram lewat handphone tersebut. Disinilah konflik dalam cerita ini yang kemudian terus berkembang hingga sampai ke ending cerita.

Cerita diakhiri dengan gantung oleh sutradara karena menurut Fedli sebagaimana kasus-kasus serupa yang masih terjadi di Riau, sampai hari ini juga belum pernah tuntas. Ini tidak saja terjadi bagi puak Sakai tapi juga Talang Mamak, Petalangan, Bonai, Akit, Duano (laut) bahkan orang-orang Melayu keseluruhannya termasuk kita yang hidup hari ini. Kita hanya bisa jadi penonton tanpa bisa berbuat apa-apa, jelas Fedli seraya menambahkan makanya ketika di ending cerita, para aktor atau tokoh semuanya menjadi batu  tapi mata mereka liar, tidak ikut bersamaan menjadi batu sebagai simboilasasi dari apa yang terjadi hari ini.

Fedli juga menjelaskan kehadiran tokoh-tokoh diatas panggung dalam juga menjelaskan simbolisasi perlawanan dalam pertunjukan. Dicontohkannya, tiap-tiap tokoh dengan aktifitas sebagai upaya untuk memperlihatkan bahwa mereka bukan pemalas, suku Montai adalah para pekerja tangguh yang menghidupi kekuatan kebudayaannya dengan kearifan lokal secara turun temurun. Khusus bagi tokoh bernama Raut dan Bontik sebagai simbol perlawanan atas ketidakadilan. Sayangnya, mereka juga tidak tahu harus melawan siapa. Makanya dihadirkan aktifitas mereka hanya mengasah dan mengasah parang dan tombak sampai akhirnya menjadi batu.

Selain itu, Batin dalam suatu puak suku pedalaman, merupakan seorang pemimpin spritual yang dihadirkan untuk menjadi simbol spirit perlawanan, sebagai pemompa semangat. Ini beralasan agar puka mereka tidak pasrah begitu saja meski harus melawan rakasasa ekonomi. Makanya selain menghadirkan bahasa-bahasa Sakai, saya juga menghadirkan mantera-mantera asli pemanggil semangat dari suku Sakai, jelas Fedli lagi.

Pimpinan sanggar teater Kami-Jakarta, Aris Priadi Bah menyebutkan bentuk dan konsep pertunjukan Menjadi Batu adalah eksplorasi dari banyak unsur. Katanya, barangkali dikarenakan adaptasi dari sebuah cerpen sehingga sutradara mencoba membuat pengadeganan-pengadeganan yang sifatnya eksploratif. Menarik, dan saya yakin bila dipentaskan lagi akan ada perubahan bentuk karena konsep ekploratif seperti ini cendrung akan selalu berubah ketika dipentaskan lagi, jelas Aris.

Ditambah Teaterawan asal Jakarta itu bahwa dari segi tematik yang diusung Selembayung sangat unik dan tidak umum. Tentang masyarakat lokal yang bertarung dengan kekuatan besar. Tidak banyak grup teater yang mengangkat problem tematik seperti itu, kata Aris.

Melihat dan mengapresiasi pertunjukan yang telah dipentaskan Teater Selembayung, Kurator PPS III yang juga merupakan tokoh teater di Padang Panjang, Tya Setiawati menyebutkan apabila pentas Menjadi Batu ini dipentaskan di tanah terjadinya peristiwa tersebut, tentulah akan ada interaksi yang lebih menarik yang sesuai dengan konteks atau konsep dari PPS itu sendiri. Tema yang dipilih Teater Selembayung menarik, sebuah bentuk kritik sosial. Memang selalu menjadi menarik ketika tetear menjadi media kritik sosial terhadap persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Karena menurut saya itulah bagian terpenting dalam proses teater, jelas Tya.

Sementara itu, Pimpinan Teater Selembayung sekaligus sutradara Menjadi Batu, Fedli Azis  mengatakan sengaja memilih tema  dan cerpen karya sastrawan senior, Taufik Ikram Jamil yang tentu saja, kisah yang diangkat mewakili salah satu persoalan dari sekian banyak persoalan yang terjadi di Riau. Diakuinya juga semula konsep pertunjukan eksploratif tersebut, lebih dikemas dalam bentuk yang bermain di tengah-tengah penonton, sesuai dengan konsep ideal PPS tetapi dengan kondisi dan situasi yang ada, akhirnya konsep diubah menjadi konsep rezim panggung. Dan ini juga masih dalam konsep yang sederhana dan boleh dikatakan embrio saja karena setelah ini, Teater Selembayung akan berupaya bagaimana pentas Mnejadi Batu ini bisa dipentaskan keliling Riau dengan konsep yang lebih disempurnakan, jelas Fedli. (*6)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us