Laba-laba Menyerang Desa

6 April 2014 - 09.45 WIB > Dibaca 2081 kali | Komentar
 
Nyeri ... nyeri ...

Masihkah seluruh anggota tubuhku menyatu? Tiba-tiba aku merasa seperti terlempar jauh ke dimensi lain saat mendapati gelap mengakap membungkus nyeri sekujur tubuhku. Kucoba raba-raba.

Dada. Ada yang nyeri di situ. Di bagian pinggir. Aku ingat, saat itu aku meronta-ronta ketika mereka menyergapku di pinggiran hutan karet yang sunyi. Lalu sebuah pukulan telak menghantam di situ. Kameraku?! Ah, amarah mereka yang membabi buta pasti sudah melumatnya, sama seperti ketika mereka menendangi tubuhku yang lunglai ke tanah akibat bius yang mereka sumpalkan ke hidungku di temaram senja itu. Mereka tahu bahwa kamera itulah senjataku. Tak seperti Ayah, yang seperti si Pahit Lidah, sanggup memengaruhi orang lain hanya dengan mulut.

Ada laba-laba menyerang desa kita, tiba-tiba Ayah hidup lagi di hadapanku. Bagian tengah dadaku kurasakan begitu nyeri.
 Dia mengincar tanah leluhur kita, Ayah meracuni makan malam kami dengan ketegangan.

Ayah lalu menyebarkan berita konyol itu ke seluruh warga desa. Alangkah malunya aku. Aku pun begitu menyesali mengapa orang-orang desa begitu mudah percaya dengan cerita macam itu. Mungkin karena Ayah adalah salah seorang yang telah menjadi panutan bagi mereka.

Awal mulanya Ayah hanya mengumpulkan dua belas perangkat desa. Hari berikutnya kulihat banyak  orang mulai percaya dengan cerita Ayah. Tak terkecuali anak-anak kecil. Sehingga mereka begitu antipati dengan apapun yang berbau laba-laba.

Ayah sekolahkan kau tinggi-tinggi, tapi akhirnya malah jadi orang yang tak mau membela kaumnya sendiri. Orang macam apa kau ini, Zak?! gusar Ayah saat aku menolak mempengaruhi teman-teman sebayaku.

Ayah hanya menyebar fitnah! bantahku sekali lagi.

Besok akan Ayah tunjukkan laba-laba itu!

Apa yang ditunjukkan Ayah itu ternyata hanyalah tiga orang asing yang bertamu di rumah Kepala Desa. Aku mendengar percakapan alot bahwa karet akan diganti  kelapa sawit dengan imbalan ganti rugi.

Nyeri ... nyeri .... Dadaku semakin terasa nyeri.

***

... ... ...

Apakah itu suara orang? Orang yang sedang berdoa?

... ... ...

Mirip suara rintihan. Ataukah itu suaraku sendiri?

Srek ... srek ... srek ... krincing ... srek ...

Buk ... buk ... buk ...

Tiba-tiba dadaku berdetak keras.

Ayahmulah yang cari perkara, Badar, teman sekampusku, menepuk pundakku. Bukankah ganti ruginya tak kecil-kecil amat? Buat apa ayahmu ngotot seperti itu? Jaman sudah berubah, Zak. Ini era internet. Ini era perdagangan bebas. Seharusnya ayahmu malah mengarahkan orang-orang untuk membuka pikiran agar kehidupan mereka tak tertambat pada karet terus, komentar Badar ketika kuceritakan bahwa Ayah adalah salah seorang yang ikut menggerakkan orang-orang untuk mengadakan aksi balas ke kantor Kabupaten. Tiga hari sebelumnya jalan masuk ke desa kami diblokir oleh para polisi yang telah menjadi kaki tangan laba-laba itu. Sepekan lamanya warga kelimpungan dalam tempurung. Lalu akhirnya terjadilah aksi balas itu. Apa alasan Badar berkomentar demikian, adalah karena ayahnya  pengusaha perkebunan sawit pula.

Para pekerja didatangkan dari luar desa. Sedangkan warga yang jelas-jelas tanahnya telah diambil malah dipinggirkan, hanya dijadikan penonton. Bukankah itu memang tidak adil? bantah Ayah saat kusambung suara Badar ke mulutku.

Bukankah negosiasi masih bisa terus diupayakan? Jangan pakai kepala batu, Yah! Cari jalan tengah yang sama-sama melegakan, kusambung suara Badar ke mulutku lagi.

Kau tak mengerti, Ayah menggeleng, Kau belum mengerti.

***

Srek ... srek ... srek ...

Sepertinya sedang berdiri persis di hadapanku.

Krincing ...

Dapat kurasakan hawa jahat tengah mengepungku. Ingin kuhardik. Tetapi saat itulah baru kusadari mulutku tak bisa kugerakkan. Rasa sakit itu bermuara dari perut. Sudah berapa harikah ia tak melakukan tugasnya, menyuplai tenaga untukku?
Krincing ... cklek ...

Tubuhku menggelosor ke lantai. Gelap mengakap. Ataukah kedua mataku telah dibuat buta?!

Sebuah tangan mencengkeram tengkukku. Aku dipaksa berdiri dengan kedua kaki yang sangat kesemutan. Ia menyeretku menyusuri kegelapan. Kesunyian mendera dadaku.

Berhari-hari Ayah dan Badar berperang dalam kepalaku. Membuatku sulit tentukan keputusan apakah harus kubantu langkah Ayah ataukah diam saja menjadi penonton.

Namun  Ayah dan beberapa warga desa menghilang kemudian. Kata Emak, kemungkinan besar mereka diculik oleh laba-laba yang ingin menjadikan desaku sebagai sarang yang entah keberapa.

Beberapa hari kemudian, sebagian warga yang hilang itu  tiba-tiba saja muncul dan kembali pulang. Tidak termasuk Ayah dan beberapa orang lainnya yang kutahu sama kerasnya membela tanah kami. Saat kutanyakan ihwal apa yang menimpa mereka, Emak malah melarangku.

Apa kau tak lihat bahwa mereka telah dikendalikan laba-laba busuk itu?! Emak yakin orang-orang itu pasti telah dicuci otak dan dikendalikan oleh laba-laba busuk yang hendak menyerang desa kami.

Kami hanya diundang mengikuti pelatihan pengelolaan kebun sawit, jawab mereka saat kutanyai tentang keberadaan mereka yang entah selama berhari-hari yang lalu itu.

Kukira Ayah bersama kalian.

Ah, bukankah ayahmu tak menyukai kebun sawit? Buat apa dia mengikuti pelatihan pengelolaan kebun sawit? Mungkin saja ayahmu sedang pergi menenangkan pikiran karena menyesal telah menolak tawaran bagus itu.

Pikiranku terus tertuju ke Ayah. Aku merasa jadi seorang pengkhianat jika mengabaikan persoalan itu. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami Ayah. Tak mungkin Ayah menyesali pandangannya itu. Jika tanah ulayat lepas dari tangan warga desa kami, tentu hilanglah sudah kisah kehidupan warga desa yang bersumber dari hasil berladang, mengumpulkan dan menjual hasil hutan, serta tentunya perkebunan karet di lahan pekarangan.

***

Nyeri merambati sekujur tubuhku ketika tengkukku ditarik paksa menyusuri lorong-lorong gelap kematian. Mereka pasti akan menghabisiku kali ini. Setelah semua yang telah aku lakukan untuk membuka kedok mereka.

Peta tanah yang kami peroleh dari Bakorsurtanal tak bisa menjadi daya tawar. DPR, Kepolisian, bahkan hingga Komnas HAM, tak berkutik menghadapi jaring-jaring yang dibentangkan oleh laba-laba busuk itu. Maka kami lalu memilih api. Ribuan pohon sawit muda kami hanguskan. Meski kemudian kami tahu bahwa izin hak guna usaha mereka baru keluar setelah kami memakai api, toh kami masih saja terseok-seok melawan.

Sepertinya aku dipindahkan ke ruangan lain. Ruang eksekusikah? Jasadku dijatuhkan begitu saja di lantai semen bau pengap.

Kau pernah mampir duduk di bangku kuliah, tapi kenapa pikiranmu sama sempitnya seperti ayahmu? langkah itu mengitari jasadku yang lungkrah. Remang cahaya semakin mengaburkan pandang.

Seharusnya kau lebih berpikiran maju, berpikiran jauh ke masa depan. Kalian takkan mungkin terus bisa bertahan melawan arus jaman jika hanya mengandalkan hutan.

Bukankah yang kalian incar adalah hutan itu?! Teriakan itu tak bisa membuka mulutku yang semakin berat terkunci. Hanya bergaung dalam dada, hingga rasa menggelegak mengaduk-aduk.

Kau minta berapa, ayo katakan saja! kaki bersepatu itu berhenti tepat di depan hidungku. Bau tanah basah. Bau hutan.

Apakah aku hanya seorang diri? Pasti tidak. Suara erangan tadi, pasti dia telah melakoni yang satu ini. Apakah Ayah juga?

Ayo katakan, berapa yang kamu inginkan?! bentakan itu menghantam perutku. Entah liur entah darah seketika muncrat dari mulutku.

Baiklah. Kau ingin tahu apa yang telah kami lakukan terhadap ayahmu?!

Plok! Plok!

Beberapa langkah kaki mendekatiku. Menarik punggungku. Mendudukkan tubuhku yang lungkrah di sebuah kursi. Tak ayal kepalaku lunglai ke dada. Rambutku dijambak untuk menegakkan kepalaku.

Samar kulihat sosok berbulu gelap. Tangan-tangannya begitu cepat dan deras menarik jaring putih yang keluar dari belakang tubuhnya. Mata yang ... enam biji itu menatap tajam ke arahku. Dengan taring yang meneteskan liur warna putih susu.

Aku berusaha mengumpulkan segenap kekuatan pada tangan dan kakiku yang perlahan mulai terbungkus jaring putih. Sosok itu merambat ke atap untuk memudahkan menggulung jasadku. Air liurnya menetes-netes di ubun-ubunku. Aku berontak. Wajah Ayah, Emak, Rahman,  Badar, dan wajah orang-orang desa yang turut berjuang bersamaku berlintasan tak karuan. Rasa sesak itu berakhir dengan sebuah sengatan keras tepat di ubun-ubun.

Tidaaa...kk!! rontaku terakhir kali. Aku merasa telah kehilangan semua. Seperti ada yang menghisap sari-sari tubuhku.

***

Kak Razak sudah bangun, Mak. Tuh, matanya sudah meriap-riap.

Suara cempreng itu menyeruak telingaku. Terang menampar-nampar kedua mata yang masih berat.

Ya Allah, Zak. Waktu ashar hampir habis. Cepat mandi sana.

Kutemukan tubuhku yang masih utuh. Tak jadi ampas disesap laba-laba pemangsa manusia. Ayah, di mana, Mak? baru kuingat, alasan kepulanganku adalah surat lelaki itu. Kata beliau, kemarin sempat dibui tersebab jadi pelopor pembela tanah ulayat kami.

Masih di rumah Kepala Desa. Membicarakan orang-orang yang hendak mengganti karet di tanah ulayat kita dengan sawit. Heh, sudah, jenakkan dulu istirahatmu, Emak mendorongku. Memang baru tadi pagi kepulanganku dari kota rantau memburu ilmu.
Moga-moga saja mimpiku itu tak jadi nyata.***

Kalinyamatan, Jepara, 2012-2014.


Adi Zam-Zam

adalah nama pena dari Nur Hadi Tahun 2002, beberapa cerpen dan puisi dipublikasikan di  Bahana Sastra-nya RRI Pro II Semarang. Tahun 2004, menang juara harapan Lomba Menulis Cerpen Islami Majalah UMMI. Tahun 2005, juara harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke- VII) majalah ANNIDA. Tahun 2008, menang juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami ( LMCPI ke-VIII) majalah ANNIDA. Tahun 2009 dan 2010, dua buah cerpen menjadi  karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE Selsun Golden Award. Tahun 2010, masuk nominasi Krakatau Award 2010. Tahun 2012, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke XI) Majalah ANNIDA.
Cerpen tersebar di Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Tribun Jabar, Radar Surabaya, Bali Post, Riau Pos, Inilah Koran, Surabaya Post, Solo Pos, Joglosemar, Koran Merapi, Banjarmasin Post, Bangka Pos, Sumut Pos, Jurnal Medan, majalah UMMI, NooR, PARAS, KARTINI, STORY, ANNIDA, POTRET, SABILI, Cahaya Nabawiy, Annida-online, majalah budaya Sagang, Tabloid NOVA, CEMPAKA, Minggu Pagi, Serambi Ummah
Cerbung pernah dimuat di Annida-Online. Cerpen Anak pernah dimuat di KOMPAS Anak, Junior(lembar anak Suara Merdeka), dan Lampung Post. Juga menulis Resensi Buku di Koran Jakarta, Jateng Pos, Harian Nasional, Koran Muria, Rimanews.com, Dakwatuna.com, Wawasanews.com, Berita99.com. Opini, esai, dan artikel lainnya tersebar di Suara Merdeka, Kompas Anak, Radar Surabaya, SABILI.



Beberapa cerpen termaktub dalam antologi bersama:
1) SEBUAH KATA RAHASIA -- Kumcer Pilihan Annida-online (SMG Publishing, 2010).
2) MEMBUNUH IMPIAN 15 Inspirasi Cerpen Pilihan Annida-online 2011 (e-book)
3) Tahun-tahun Penjara   Antologi Cerpen Joglo 12 (Taman Budaya Jawa Tengah, 2012)
4) SERIBU TANDA CINTA  Antologi Cerpen Milad Uda Agus ( deKa Publishing, 2012)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 14:30 wib

Desember, Awal Pemeriksaan JCH

Kamis, 15 November 2018 - 14:13 wib

Pembangunan Berbasis Pengurangan Risiko Bencana

Kamis, 15 November 2018 - 14:00 wib

Ganti Bola LHE Terkesan Proyek

Kamis, 15 November 2018 - 13:49 wib

Greysia/Apriyani Lolos ke 16 Besar

Kamis, 15 November 2018 - 13:45 wib

Maksimalkan Pelayanan Kesehatan untuk Vaksinasi MR

Kamis, 15 November 2018 - 13:15 wib

Azis: Pakai Uang Rakyat, OPD Harus Tanggung Jawab

Kamis, 15 November 2018 - 12:23 wib

Tropicana Slim Ajak Ikuti Senam Sehat di CFD

Kamis, 15 November 2018 - 12:00 wib

Kirim 12 Atlet Ikuti Kejurnas Ski Air

Follow Us