Menolak Lupa

13 April 2014 - 08.40 WIB > Dibaca 2895 kali | Komentar
 
Menolak Lupa
Tulisan ini bukan membahas pantun salah seorang pengurus Parpol pengusung pemerintah yang ‘’menyerang’’ partai lain pada masa kempanye lalu.

Juga bukan membahas isu yang menjadi trending topic di media sosial dengan hashtaq (tanda pagar) #MenolakLupa, saat pengumuman nama Capres oleh partai yang sepuluh tahun terakhir berada di luar pemerintahan. Meski diakui belakangan, serangan di media sosial menjadikan partai yang untuk sementara meraih suara terbanyak Pemilu Legislatif (Pileg) 9 April versi quick count itu, tidak meraih suara seperti yang mereka prediksi. Bahkan untuk memajukan calon presiden sendiri tanpa bekerja sama dengan partai lain pun belum bisa.

Namun, tulisan ini lebih kepala meminjam jargon ‘’Menolak Lupa’’ itu. Isu yang seharusnya berlaku bagi yang memilih dan tentunya yang dipilih saat Pileg lalu, khususnya yang bakal menduduki kursi dewan yang terhormat.

Kenapa yang memilih juga harus menolak lupa?

Salah satu contoh menarik seperti yang diungkapkan seorang pengurus Parpol di Kecamatan Mandau, Bengkalis. Kalimat sederhana si pengurus terkait kegalauannya dengan hasil Pileg partainya lebih kurang begini, ‘’Berpacaran dengan Awak, Nikah dengan Orang’’.

Ini Curhat bagaimana tidak mangkusnya jurus sosialisasi yang dilakukan partai dan Calegnya selama bertahun-tahun di masyarakat dengan berbagai kegiatan. Kerja bertahun-tahun yang diibaratkan orang berpacaran itu, lenyap di masa injury time hanya dengan sekali ‘’pemberian’’. Meski tidak bisa digeneralisir, namun harus diakui dengan jujur, praktik ini jamak terjadi dengan berbagai modus.

Apakah masyarakat sudah pragmatis dan melupakan janjinya pada si Caleg untuk memilih atau memang program dan figur sang calon yang tidak mengena? Akibatnya, si pemilih tidak melihat sosok Caleg dan program yang ditawarkan lagi. Atau mungkin juga dipengaruhi semacam ‘’imbauan’’ saat kampanye lalu. ‘’Ambil uangnya, jangan coblos Calegnya biar kapok’’. Padahal ini menjadi semacam justifikasi terhadap praktik budaya koruptif.   

Masyarakat sebagai pemilik suara memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Bisa saja mereka lupa karena memang tidak ada program yang mengena yang ditawarkan. Sehingga, di masa injury time, siapa yang mendekati itulah yang dipilih karena saking banyaknya Caleg dan tawaran. Sehingga seakan ada prinsip, hari ini pikir untuk hari ini. Besok terserah. Tapi, sampai kapan masyarakat akan dididik memberikan hak politiknya seperti ini?

Mungkin ini juga harus dimulai dari Caleg sendiri saat terpilih nanti. Ketika melupakan konstituen selama menduduki kursi dewan yang terhormat, baru tersadar bahwa perlu pemilih saat akan ikut Pileg lagi. Maka berbagai cara pun dilakukan agar konstituennya tidak lupa dan melupakan janjinya yang belum terpenuhi. Tawaran pragmatis pun diberikan ke calon pemilih. Politik uang dan politik transaksional skala kecil pun berlaku di level terbawah ini.

Bagaimana bila si Caleg ketika duduk di kursi dewan terhormat itu mananamkan jargon menolak lupa itu. Tidak lupa akan hak, tugas, kewajiban termasuk janjinya ke konstituen dan ditunaikan secara kontinyu. Sehingga saat Pileg lagi, warga pun tidak lupa dan tidak diajarkan cara-cara pragmatis tadi.

Memang tidak semua orang lupa memenuhi hak memilih dan dipilih itu secara jujur dan benar. Namun bagaimanapun harus diakui, sebagian besar lupa.

Memang, Allah SWT memaafkan orang yang lupa hingga ia ingat dan sadar untuk menunaikan kewajibannya. Tapi, lupa ini tidak sama dengan lupanya para Caleg dan pemilih tadi. Waallahua’lam.***


Firman Agus
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us