Konser Riau Rhythm Chamber Indonesia

Merekam Keagungan Svarnadwiva Lewat Bunyi

13 April 2014 - 08.52 WIB > Dibaca 1088 kali | Komentar
 
Merekam Keagungan Svarnadwiva Lewat Bunyi
Musisi yang tergabung dalam grup Riau Rhythm Chambers Indoneisa beraksi dalam konser ‘Jejak Suara Svarnadwiva’, 3-5 April 2014 di Anjung Seni Idrus Tintin. Foto: Defizal/Riau Pos
MUSIK pada mulanya adalah bunyi. Dia menjadi tanda penciptaan semesta. Bunyi bermain di sekitar frekwensi dan getaran. Demikian halnya zikir. Apapun bahasa yang digunakan manusia, Tuhan menafsir qalbu hambanya melalui getaran frekwensi hati, kemudian bernama niat.

Kesejatian dirilah yang hendak dikedepankan dalam Konser Riau Rhythm Chamber Indonesia (RRCI) yang digelar 3 malam berturut (3-5 April 2014) di Anjung Seni Idrus Tintin. Mengusung tema Jejak Suara Suvarnadvipa, RRCI menggelar sajian musik yang berangkat dari suara atau bunyi dari sebuah berita tentang kejujuran, ketaatan manusia, pengorbanan, semangat, kekuatan dan kejayaan. “Ini sebuah jejak perjalanan. Dalam konser kali ini, kami mencoba untuk membawa penonton pada sebuah perjalanan melalui jejak suara,” ujar Rino Dezapati selaku komposer.

Sebutan Suvarnadvipa berasal dari India untuk sebutan ‘pulau emas’ yang berada di Sumatera. Kata Rino, kononnya masa itu jauh di atas Sriwijaya dan Damasraya. Rino juga mencari-cari dalam Kitab Negara Kartagama, meraba-raba dalam terang sejarah yang barangkali terkabuskan oleh penguasa dan menyendiri di Museum Sang Nila Utama Riau untuk lebih mendekatkan imajinasi kepada konsep yang diusung.

“Awalnya saya berpikir, ‘Jejak Suara Suvarnadvipa’ menjadi konsep yang berat untuk dihadirkan serta merta. Kebesaran sejarahnya itu sempat menjadi beban untuk di hadirkan ke atas panggung. Namun saya dan rekan-rekan di RRCI membunuh ketakutan itu dengan terjun ke daerah-daerah seperti Kampar untuk menelusuri jejak-jejak. Dan di Kampar kami telah mohon izin kepada Datuk Ramli yang bergelar Sri Maharaja Diraja Ninik Datuk Raja Dubalai. Oleh karenanya kami juga mengusung sebuah sastra lisan yang tertulis di Candi Muara Takus untuk dijadikan lirik mantra dalam musik garapan. Tulisan yang berbahasa Sansekerta tersebut berisi tentang bagaimana pembangunan Suvarnadvipa dulunya,” jelas Rino.

Delapan karya yang dipentaskan menurut Rino, terkemas dalam gaya permainan instrumen yang rumit serta penataan konsep yang segar dengan konsep baru RRCI yaitu Etno Cotempo yaitu percabangan World Music di mana musik tradisi menjadi acuan untuk menghasilkan karya baru yang didekati dengan musik-musik Barat, musik populer. Kesederhanaan serta kejujuran dalam keseharian masyarakat wilayah rural juga menjadi inspirasi yang sangat penting sebelum proses penciptaan.

“Nilai edukasi sejarah, entertainmen hingga tradisi seni tutur mejadi dasar dari delapan karya kami. Keindahan, kekayaan dan kemakmuran Suvarnadvipa dahulu juga menjadi sumbu inspirasi kita saat ini untuk tetap menjaga peninggalan. Dan intinya, sejarah besar itu ada di tanah yang kita pijak saat ini. Kita mencari sensasi-sensasi di lingkungan kita, bahwa di sinilah pusat peradaban itu berasal,” ucap Rino.

Kepala Museum Sang Nila Utama Riau, Yoserizal Zen yang hadir menyaksikan konser musik RRCI, menyebutkan tema yang diusung oleh Rino dan kawan-kawan menarik. Penggalian terhadap nilai-nilai sejarah dipandang sangat penting untuk dilakukan baik dalam bentuk pengkaryaan maupun penelitian. Niali-nilai tersebut akan terkubur selamanya apabila tidak ada upaya untuk mengangkatnya kembali hari ini. Sepengetahuan Yoserizal,  ‘Suvarnadvipa’ yang merupakan sebutan oleh bangsa India untuk Pulau Sumatera dulunya memiliki wilayah kesatuan yang luas. Bahkan keberadaan puncak Candi Muara Takus yang sampai sekarang tidak tergali kedalamannya itu diprediksi sebagian orang sebagai pusat dari daerah ‘Suvarnadvipa’.

“Svarnadvipa memang menjadi pembicaraan dunia, bahkan di beberapa kitab seperti Kitab Negara Kertagama menjelaskan bahwa pusat peradaban dunia itu terletak di Sumatera. Di beberapa situs online pun menjelaskan bahwa kerajaan-kerajaan besar dulunya, banyak melirik Sumatera sebagai pusat peradaban yang memiliki tambang emas yang luas,” ucap Yos sapaan akrabnya.

Peradaban Sumatera diperkirakan telah ada semenjak abad ke-7. Penemuan fosil seperti Batu Penetak yang terjadi di zaman Paliolitik mempertegas pernyataan itu. Temuan artefak Paliolitik itu juga menandakan Riau merupakan negeri tua sehingga fase kehidupan di Riau berawal dari era pra-sejarah, Klasik, Hindu Budha, Islam dan Modern. “Jika Suvarnadvipa dikaitkan dengan Candi Muara Takus kemungkinan besar memang benar adanya,” jelas Yose tegas. Dalam ingatan orang bahwa keberadaan Provinsi Riau berawal dari provinsi tetangga karena Riau dulunya bagian dari Provinsi Sumatera Tengah. Namun, menggali Suvarnadvipa ini membuktikan Riau lebih besar dan lebih dulu ada menjadi pusat peradaban dari provinsi lainnya,” kata Yos lagi.

Sementara itu, seniman Riau, Hang Kafrawi menyebutkan dengan mengapresiasi konser RRCI dapat ditemui upaya Rino membongkar peradaban masa lalu, menjalin peristiwa demi peristiwa identitas Riau melalui suara. “Provinsi Riau memiliki masa lalu yang cemerlang. Bukti peninggalan kecemerlangan itu pun masih bisa disaksikan pada hari ini. Salah satunya adalah Candi Muara Takus yang terletak di Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar. Candi Muara Takus merupakan bukti kawasan Riau pada masa lalunya telah memiliki peradaban yang tinggi. Perjalanan waktu seakan tidak memihak kepada Riau, sehingga sumbangan peradaban dari negeri kaya ini selalu dipandang sebelah mata,” ucap Kafrawi tegas sembari menambahkan musik RRCI suatu cara menjelajah ketinggian peradaban masa lalu yang patut direnungkan.

Katanya, masa lalu merupakan cermin pada hari ini untuk mengetahui kesejatian orang-orang hari ini dengan kecemerlangan orang masa lalu dan inilah fungsi karya seni itu, mengingatkan kepada khalayak ramai bahwa dalam diri manusia memiliki kekuatan. Kekuatan itu harus senantiasa diingatkan, dan karya seni selalu mengambil peran dalam membongkar ingatan kekuatan tersebut. “Jejak Suara Suvarnadvipa yang diolah RRCI menjadi percikan untuk orang Riau mengenali kekuatan mereka hari ini. Hanya saja sebagai penonton yang awam dengan musik, saya merasakan ada keterputusan tema di pertengahan pertunjukan. Kebesaran Suvarnadvipa yang dihadirkan lewat musik pada awal-awal pertunjukan, saya rasa terputus sebelum sampai ke penghujung  tapi barangkali, ini pula yang dimaksudkan dengan jejak-jejak itu yang membuat kita sebagai penonton untuk sama-sama menyusun jejak tersebut menjadi keutuhan nilai-nilai dari sejarah yang kita punya. Sabas Riau Rhythm Chamber Indonesia,” kata Kafrawi.

Hadir menyaksikan di malam ke tiga, beberapa Ahli waris Candi Muara Takus, Datuk Sati, Datuk Bandaro, Datuk Gindo Sajelo, Dasri Ulwan dan Wali Desa Muara Takus dan Engku Suhaimi Zen. Dalam sambutannya usai konser, disebutkan Suhaimi bahwa upaya yang dilakukan RRCI cukup baik dan sangat disupport terutama merasa terbantu dalam memperkenalkan Candi Muara Takus kepada masyarakat luas. “Selama ini kami pun heran kenapa orang jauh-jauh mencari dan menggali peradaban Sriwijaya yang sebenarnya ada di Riau, di ‘Mutakui’. Kami selaku ahli waris kadang tak bisa berbuat apa-apa dan tak berdaya. Untunglah masih ada anak-anak muda yang mau menggali dan peduli meski dengan karya seni seperti yang dilakukan RRCI ini. Semoga ke depan, ada banyak pihak yang mau berbuat sama dalam banyak hal,” ucap Suhaimi.

Suhaimi juga mengakui bahwa kepedulian pemerintah masih minim terhadap keberadaan Candi Muara takus. Benda peninggalan tersebut kian hari, kian rapuh dimakan usia. “Bukankah seharusnya benda peninggalan Melayu tua seperti ini perlu terus digalakkan sehingga tetap lestari hingga akhir zaman,” tutupnya. (*6)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us