Cergas Berbahasa

13 April 2014 - 09.01 WIB > Dibaca 2721 kali | Komentar
 
Cergas Berbahasa
Sungguh, tidak semua orang mampu berbahasa secara cergas. Agar dapat berbahasa dengan cergas, seseorang harus memiliki kemampuan yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Di samping harus mampu memilih dan menguasai kosakata dalam jumlah yang banyak sertamau dan mampu memanfaatkan buku-buku acuan, ia juga harus memiliki kepekaan bahasa yang baik. Bagaimana caranya agar kepekaan bahasa itu dapat dimiliki? Beberapa hal berikut ini dapat dijadikan bahan pertimbangan.

Dulu orang yang beroleh malu mungkin akan berkata, “Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah.” Begitu pula seorang mamak yang ingin segera mengakhiri perundingan,biasanya, akan berkata kepada rapat, “Kata tak lagi berjawab, gayung tak lagi bersambut.”

Pemakaian kedua ungkapan itu pada mulanya memang sangat berdaya guna: hal yang semestinya harus diungkapkan dengan panjang lebar (dalam beberapa kalimat) dapat dikatakan dengan sebuah ungkapan saja. Namun, karena terlalu sering digunakan, ungkapan seperti itu lama-kelamaan kehilangan daya tariknya. Itu pula sebabnya sekarang ini kecantikan seorang gadis tidak lagi diungkapkan dengan, “Mukanya bulat sebagai bulan purnama empat belas hari, matanya seperti bintang timur, alisnya bagai semut beriring, pipinya bak puah dilayang, dagunya sebagai lebah bergantung, telinganya seperti telepuk kayu, bibirnya bagai delima merekah, dst..

Apakah ungkapan-ungkapan klise seperti itu tidak boleh digunakan? Ungkapan klise tetap boleh digunakan (tetap memiliki daya tarik) asal tidak terlalu sering. Penggunaan kambing hitamdankuda hitamdalam kalimat (1) dan (2) berikut ini, misalnya, jelas lebih cergas daripada tertuduh dantim yang (semula) tidak diperhitungkan(tetapi akhirnya menjadi pemenang) dalamkalimat (3) dan (4).

(1) “Mengapa aku yang dikambinghitamkan dalam perkara ini?

(2) Sebagai kuda hitam, Indonesia harus dapat mengambil keuntungan dalam pertandingan Pra-Olimpiade di Bangkok nanti.

bandingkan dengan

(3) “Mengapa aku yang dituduh dalam perkara ini?

(4) Sebagai tim yang (semula) tidak diperhitungkan (tetapi akhirnya menjadi pemenang), Indonesia harus dapat mengambil keuntungan dalam pertandingan Pra-Olimpiade di Bangkok nanti.

Kata (yang bersinonim sekalipun) sering kali memiliki cakupan makna yang tidak tetap dan tidak sama luasnya. Hal itu menyebabkan frekuensi penggunaan (kepopuleran) kata-kata itu tidak dapat diramalkan karenakekerapan penggunaannya sangat bergantung pada perkembangan cita rasa mesyarakat pemakainya. Oleh karena itu, kata yang kekerapan penggunaannya sangat tinggi, pada suatu ketika mungkin akan mengalami penurunan.

Kata mantap, bakda, dan rileks, misalnya, dulu frekuensi pemakaiannya sangat tinggi. Namun, setelah muncul kata mapan, pasca, dan santai, kata-kata itu mulai ditinggalkan. Dalam tempo yang singkat orang-orang pun telah bercita rasa sama: gemar memakai kata mapan, pasca, dan santai. Begitu pula kata manuver, negoisasi, antisipasi, dan antusias. Kata-kata itu, yang kini sedang berebut hati cita rasa pemakainya, bisa jadi akan dilupakan mana kala ada pilihan lain yang lebih cergas.

Menghidupkan kembali kata-kata lama, baik dengan makna yang sama maupun dengan makna baru, merupakan langkah yang baik. Langkah itu tidak hanya bermanfaat bagi usaha pemekaran kosakata, tetapi juga bermanfaat bagi pembangunan karakter bangsa. Dengan dihidupkannya kembali kata canggih, misalnya, rasa percaya diri bangsa pun terbangun. Buktinya, canggih laris manis bak kacang goreng, menenggelamkan sophisticated(Inggris).

Beberapa kata lama, selain kata canggih, yang dihidupkan kembali untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia adalah sulang, berangus, mapan, mutakhir, pariwisata, kendala, dan pewara. Ketujuh kata itu, masing-masing, dapat dimanfaatkan untuk menampung konsep makna yang terkandung pada kata toast, breidel, established, up to date, tourist, constraint, dan announcer.

Dalam suasana dan dengan alasan-alasan tertentu, orang masih gemar memakai ungkapan-ungkapan klise, seperti banyak makan garam (alih-alih berpengalaman) dandiam seribu bahasa (alih-alih jarang). Bahkan, agar daya bayang (imaji) pembaca atau pendengar lebih mudah terangsang, bentuk (kalimat) yang panjang-panjang, seperti tampak pada kalimat (5) dan (6) berikut inimasihdapat dengan mudah ditemukan.

(5) Berjam-jam dia duduk di Wilhemminapark, seperti dahan yang patah terkulai dari batangnya.

(6) Lama sekali ia tertegun, tegak berdiri seperti tonggak di tepi jalan.

Padahal, ungkapan seperti dahan yang patah terkulai dari batangnya pada kalimat (1) dan ungkapan seperti tonggak di tepi jalan pada kalimat (2) sesungguhnya dapat dihilangkan, tanpa merusak informasi yang hendakdisampaikan.

Dalam berbahasa, baik lisan maupun tulisan, orang sering menyulih kosakata tertentu dengan kosakata lain yang secara nalar mungkin tidak sewajarnya. Mukanya pucat, misalnya, sering disulih dengan mukanya sebagai bulan kesiangan. Sementara itu, Gunung Merapi meletus dan Ia dihadapkan ke pengadilan sering dikatakan Gunung Merapi marah dan Ia dihadapkan ke meja hijau.Itulah yang disebut majas.

Dalam karya sastra, karena dimungkinkan untuk tidak berbahasa secara lugas,  sastrawan selalu menciptakanmajas (baru) untuk mencapai keaslian pengungkapan. Misalnya: /pintunya mulut sepi/rapat terkunci/derita lumat dikunyahnya.Kesegaran puisi itu tidakhanyaterdapat padakeunikan metafornya, tetapi jugapada ketidaklaziman pembandingannya. Hal seperti itu tentu tidak dapat dilakukan dalam karya tulis ilmiah.

Lalu, bagaimana dengan kebiasaan anak-anak muda sekarang ini. Umumnya mereka tidak kreatif. Kalaupun berkreasi, mereka seperti kehilangan kata-kata. Dalam memuji pacar/ kekasih, misalnya, umumnya mereka akan berucap, “Pokok ganteng/cantik abis deh kamu.”

Betul-betulkehabisan kata-katakah mereka? Wallahualambissawab. Yang pasti, mereka tidak memperlihatkan kecergasannya dalam berbahasa.

Salam.***


Agus Sri Danardana
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us