PENYAIR PEREMPUAN INDONESIA (PPI) TERBENTUK

Dan, Palung Puisi itu Bernama Perempuan

Kebudayaan | Minggu, 16 Desember 2018 - 14:34 WIB

Dan, Palung Puisi itu Bernama Perempuan
Para Penyair Berfoto Bersama

(RIAUPOS.CO) - "Jika laut berpalung dalam, berbatu karang, maka palung puisi itu bernama perempuan"

Sepenggal kalimat ini mengundang tepuk gemuruh peserta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) yang berkumpul di Gedung Aisyah Sulaiman, tiga pekan lalu di Tanjungpinang, Kepulauan Riau Mereka bergantian membaca puisi pada penutupan kegiatan yang  banyak sastrawan di Indonesia, Singapura dan Malaysia tersebut. Saat itulah para sastrawan ini mendengar sepenggal kalimat yang diucapkan penyair perempuan Indonesia asal Riau, Kunni Masrohanti.

Kata-kata itu merupakan sepenggal kalimat dari teks panjang yang diucapkan Kunni saat mendeklarasikan Penyair Perempuan Indonesia (PPI) yang baru dinakhodainya dan lahir dari rahim pertemuan sastrawan itu. Ia berdiri di atas panggung tidak sendiri, tapi bersama enam penyair perempuan lainnya yang hadir dalam festival tersebut dan pastinya tergabung dalam PPI. Mereka adalah, Rini Intama (Banten), Ratna Ayu Budhiarti (Jabar), DM Ningsih (Riau), Umi Rissa (Jabar), Ade Novi (Jabar) dan Yuanda (Kepri). 

Kunni Masrohanti


Kunni menegaskan bahwa, PPI lahir bukan kerana gender, bukan karena merasa kalah atau ditinggalkan kaum lelaki, tapi karena ingin maksimal berbuat lebih banyak melalui puisi dengan menyadari akan kekuatan yang dimiliki perempuan.

PPI lahir bermula dari perbincangana kecil sebelum menyusuri jejak Hang Tuah pada hari kedua festival bersama penggagas FSIGB Rida K Liamsi dan kritikus sastra Indonesia Maman S Mahayana atau di sela-sela seminar pagi itu. Keduanya kemudian diangkat menjadi pembina PPI. Sedangkan Presiden penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri sendiri belum datang. Ia baru hadir setelah makan siang. Di hadapan mereka dan para sastrawan lainnya inilah teks deklarasi itu dibacakan.

Salah satu gagasan yang paling ingin dikemukakan Kunni dengan hadirnya PPI adalah tentaing pentingnya menulis karya sastra, khususnya puisi dengan tidak meninggalkan tradisi yang dilahirkan para ibu pendahulu, terutama sastra lisan. Dulu, katanya, tidak ada sastra tulis, yang ada sastra lisan, seperti nandung, dodoi, batimang, ratik dan sebagainya. Semua itu disenandungkan ibu saat menidurkan anak dalam buian. Semua syair di dalamnya berisi nasehat, harapan dan doa-doa untuk sang anak. Karena itulah Kunni menyebutkan, bahwa sesungguhnya palung puisi itu adalah perempuan dan akan lebih mudah difahami, lebih terawat di tangan perempuan.





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook