Aksi Bela Muslim Uyghur, Diwarnai Bakar Bendera dan Foto Presiden Cina

Internasional Sabtu, 22 Desember 2018 - 15:13 WIB

Aksi Bela Muslim Uyghur, Diwarnai Bakar Bendera dan Foto Presiden Cina
BELA UYGHUR: Massa yang tergabung dalam Forum Persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB) menggelar aksi damai Bela Muslim Uyghur di Kota Serang, Banten, Jumat (21/12/2018). Aksi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama saudara muslim. (DEDI KURNIAWAN/JPG)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Aksi Bela Muslim Uyghur di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Cina di Jakarta diakhiri dengan aksi bakar bendera Cina dan foto Presiden Xi Jinping. Aksi pembakaran ini sebagai bentuk kekecewaan massa terhadap Cina yang melakukan pelanggaran HAM terhadap Muslim Uyghur. Aksi ini dilakukan sejumlah organisasi masyarakat (ormas). Tujuannya mengecam Pemerintah Cina atas perlakuan intimidasi terhadap Uyghur. “Bakar benderanya, tapi tertib ya, bakar!” kata salah satu orator di depan Kedubes Cina, Jumat (21/12).

Sebelumnya, sejumlah orator telah menjelaskan tuntutan agar menyampaikan kepada pemerintahnya di Cina. Salah satunya memberikan kemerdekaan kepada Muslim Uyghur.

“Kami menyerukan kepada umat Islam sedunia, khususnya umat Islam Indonesia untuk melakukan aksi solidaritas dengan menyalurkan bantuan dan pertolongan bagi saudara Muslim Uyghur,” kata salah satu orator saat membacakan tuntutan.

Aksi ini juga dihadiri Ketua Umum Front Pembela Islam KH Sobri Lubis, aktris senior Neno Warisman, novelis Pipit Senja, KH Ustaz Bachtiar Nasir, dan Jonru Ginting.

Saat ini nasib etnis Uyghur menjadi perhatian dunia. Ini menyusul tingginya krisis kemanusiaan yang kembali menimpa jutaan warga Uyghur di Xinjiang. Masyarakat ramai membincangkan hak asasi etnis Uyghur yang kini dibelenggu regulasi Pemerintah Cina. Protes disuarakan. Termasuk dukungan kemanusiaan dari seluruh elemen bangsa Indonesia.

Sebagai bagian dari elemen bangsa yang humanis, Aksi Cepat Tanggap (ACT) turut menyatakan sikap atas adanya bentuk kezaliman terhadap nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Salah satunya tuntutan terhadap Pemerintah Cina untuk mengakhiri penindasan terhadap etnis Uyghur. Hal ini disampaikan Presiden ACT Ahyudin di sela konferensi pers terkait pernyataan sikap dan aksi kemanusiaan untuk Uyghur, Jumat (21/12).

“Hari ini dunia tahu seperti apa krisis yang menimpa Uyghur yang bersumber dari kezaliman pemerintah mereka, seperti pelarangan hak untuk beribadah. Siapa pun dan di mana pun umat yang mengalami kekejaman atau kezaliman, maka sudah sewajarnya ACT, lembaga kemanusiaan, menyuarakan dukungan kemanusiaan bagi  Ahyudin.

Ahyudin juga mengajak seluruh rakyat Indonesia agar terus menyuarakan keadilan dan pembelaan atas etnis Uyghur di Cina dan di berbagai negara tempat mereka mencari suaka.

“Kami sangat berharap, apa yang kami lakukan ini dapat mempelopori gerakan kepedulian umat atas tragedi yang menimpa etnis Uyghur. Kami tengah berikhtiar untuk memberikan dukungan advokasi, dan juga bantuan kemanusiaan seperti yang selama ini ACT lakukan untuk warga dunia yang terdampak krisis kemanusiaan,” imbuh Ahyudin.

Terkait dukungan kemanusiaan, ACT telah mengirimkan Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Uighur I. Tim kemanusiaan ini diberangkatkan secara bertahap, menuju wilayah-wilayah di mana etnis Uyghur mengungsi dari tindakan represi Pemerintah Cina di Xinjiang. Sejumlah wilayah tersebut di antaranya Turki, Kirgistan, Kazakhstan, dan Uzbekistan.

“Keempat negara itu bertetangga dengan Xinjiang dan menjadi destinasi utama warga Uyghur dalam mencari suaka. Ada ratusan ribu jiwa Uyghur tersebar di empat negara tersebut. Ke sana lah tim kami menuju,” terang Syuhelmaidi Syukur selaku Senior Vice President ACT.

Tidak hanya itu, Syuhelmaidi menambahkan Tim SOS untuk Uyghur I juga tengah berikhtiar untuk dapat menjangkau warga Uyghur di Xinjiang.

Ikhtiar menjalankan aksi kemanusiaan di Xinjiang, menurut Syuhelmaidi, akan menjadi upaya yang menantang. Ini mengingat wilayah tersebut menjadi pusat krisis Uyghur saat ini.

 “Kami hanya bisa berusaha yang terbaik dan berdoa kepada Allah SWT. Dengan pengalaman 13 tahun menjalankan aksi-aksi kemanusiaan, kami yakin ada jalan dan kita bisa masuk ke wilayah tersebut. Misi ini kan misi baik, yakinlah banyak orang-orang baik yang akan membantu kita. Atas nama lembaga dan bangsa, kami memberanikan diri mengirimkan tim ke sana,” ungkap Syuhelmaidi.(met/jpc/jpg)




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook