Pementasan Teater Jalang

Potret Intimidasi pada Perempuan

20 April 2014 - 09.49 WIB > Dibaca 1193 kali | Komentar
 
Realitas kehidupan sehari-hari selalu menjadi ide dan gagasan untuk diangkat dan dikemas dalam sebuah karya seni. Dengan kemampuan daya imajinasi kreator, ragam peristiwa yang tampak dalam keseharian, menjadi sesuatu di atas panggung yang dibungkus dalam tataran wilayah estetika seni.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Pentas Teater berjudul Jalang produksi Komunitas Seni Rumah Sunting yang dipentaskan dua malam berturut-turut (11-12 April 2014) di gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin memotret kisah tentang intimidasi perempuan. Penulis naskah Jalang, Rian Harahap mengatakan naskah yang pernah mendapat prestasi sebagai naskah teater favorit Festival Teater Indonesia (FTI) 2012 itu mengisahkan tentang perempuan Melayu pesisir yang tak lekang oleh kurungan-kurungan. Meskipun zaman telah maju tetapi masih ada saja kurungan-kurungan dalam bentuk yang lain.

Tak hanya kasur, sumur dan dapur tapi perempuan hari ini, masih saja ada yang terperangkap oleh hal-hal lain, misalnya tingkah laku suaminya yang buruk. Nah, naskah teater Jalang ini juga memotret hal seperti itu, kata Rian.

Di tangan sutradara, Kunni Masrohanti, karya Rian Harahap itu kemudian dibongkar lagi dan diubahsuai sesuai dengan keperluan pemanggungan yang diharapkan. Pementasan nya dipertajam lagi dengan konflik kehidupan satu keluarga yang hancur berantakan dikarenakan keterbelakangan pendidikan, sosial, kebudayaan dan tipisnya keimanan. Keteguhan, kepatuhan, kelembutan, sakit hati, dendam kesumat, keangkuhan, tidak adanya rasa tanggung jawab, kekerasan dan ketidakberdayaan cukup terasa dalam cerita ini.

Jalang hanya sepenggal kisah dari sekian banyak kisah tragis di sekitar kita yang membuat perempuan semakin tidak berdaya. Dalam kisah ini, hidup memang benar-benar jalang. Jangan sampai kita mengalaminya, kata Kunni.

Dalam kaitannya dengan keadaan yang ditemui di beberapa kasus, pentas Jalang juga menggambarkan ketidakseimbangan kekuatan perempuan dalam kesetaraannya dengan lelaki. Masih banyak perempuan yang kalah, mengalah dan dikalahkan. Kekalahan itu sendiri bisa disebabkan banyak hal seperti keadaan, perempuan itu sendiri dan bahkan disebabkan lelaki. Makanya perempuan itu harus kuat, jangan sampai seperti dalam cerita Jalang. Perempuan harus bangkit, semangat dan fleksibel, jelas Kunni lagi.
Pragmatisme Kehidupan dalam Pentas Jalang

Berbeda dari pentas-pentas sebelumnya seperti Peri Bunian dan Sengketa Cinta, Komunitas Seni Rumah Sunting menampilkan sesuatu yang berbeda pada pementasan kali ini. Meskipun sama-sama diangkat dari akar kebudayaan masyarakat Melayu, karya Jalang digarap Kunni dengan konsep modern.

Penonton dan para pengunjung dihantar dengan suasana mencengkam ketika memasuki gedung Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT). Lampu di lobi semua padam, yang ada hanya nyala obor dan colok yang disediakan di beberapa tempat. Miniatur-miniatur yang menyimbolkan kekalahan, intimidasi, kesadisan telah pula terpajang di beberapa bagian. Happening art dalam bentuk miniatur tersebut  kontan pula menimbulkan kesan penasaran begi pengunjung. Tampak beberapa diantara penonton yang harus berhenti memperhatikan miniatur yang beraneka ragam itu seperti patung perempuan yang terikat dan tersandar di dinding tak berdaya, rantai-rantai besi simbol keterpasungan dan keterikatan, dan juga perahu serta lainnya.

Pentas dibuka dengan pernyataan-pernyataan sekitar proses kreatif dari pentas teater Jalang oleh para tim Komunitas Seni Rumah Sunting. Kemudian dilanjutkan dengan adegan pertama, seorang perempuan hamil terpasung di dalam sebuah ruangan. Perempuan bernama Siti yang diperankan oleh Ade Aisyah FJ. Seorang perempuan yang menyimpan kebencian dalam keterpasungannya. Berkurung antara ketakutan, kecemasan, dan harapan. Siti dalam monolognya membeberkan penderitaan serta nasib diri yang hancur luluh serta ketidakberdayaannya yang diakibatkan perilaku bejat dan nafsu birahi abang iparnya sendiri, Syamsul.

Pada adegan berikutnya, sebuah peristiwa, di mana Syamsul yang diperankan oleh Rian Harahap menunjukkan kejenuhan dalam kesehariannya menangkap ikan karena tidak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan. Akhirnya, Syamsul membujuk istrinya, Tijah diperankan oleh Siti Salmah (kakak kandung Siti) agar memberikan uang simpanan yang ada untuk mendapat hasil yang lebih besar dengan jalan berjudi. Dengan mimpi-mimpi dan harapan yang ditanamkan oleh Syamsul, akhirnya Tijah setuju dan menyerahkan uang simpanan yang ada.

Adegan berikutnya menggambarkan ketersiksaan Siti dalam keterpasungan yang diakibatkan oleh abang iparnya (Syamsul) mengatakan kepada orang kampung, Siti mulai gila karena dihamili orang gila. Ketersiksaan Siti tidak hanya sampai di situ, Siti juga harus melayani nafsu bejat pemuda kampung bernama Buyung diperankan oleh Muhammad Fakhri Azhari. Dengan ancaman dan ragam rayuannya, akhirnya Siti dengan penuh tertekan harus melayani nafsu kebinatangan lelaki yang tak lain hanya ingin mendapatkan kenikmatan sesaat belaka.

Konflik demi konflik mulai menanjak pada adegan-adegan berikutnya, sampailah akhirnya Siti melahirkan anak haram dari buah hasil Syamsul tanpa seorang dukun beranak. Di sanalah bermulanya segala petaka, Siti dengan segala kemampuan dan sisa semangatnya memberikan isyarat kepada kakak kandungnya, Tijah bahwa anak yang telah lahir adalah anak Syamsul. Kontan saja, kebencian mulai menyentak di hati Tijah yang memang selama ini tidak bisa memberikan keturunan. Sepulang suaminya Syamsul dari judi dan mabuknya, Tijah meminta kebenaran atas apa yang berlaku dalam kesedihan yang melanda, tidak saja karena menemukan kenyataan yang ada akan tetapi demi melahirkan bayi tersebut, Siti adiknya telah pula mengorbankan nyawanya.

Mendapati hal itu, Syamsul tidak lagi berkutik, semua rahasia kelam yang tersimpan selama ini, dibeberkan semuanya. Tak tahan dan tertekan dengan segala kebenaran, Tijah mulai naik serap. Entah sadar atau tidak, sosok suami yang begitu dicintainya selama ini, di kapaknya bertubi-tubi hingga tewas seketika. Untuk sesaat Tijah menggelinjang dalam tekanan pikiran dan perasaannya. Sosok perempuan yang selama ini terkesan setia dan lemah lembut, akhirnya menjadi buas tak terkendali. Tak sampai di situ, anak hasil dari suami dan adiknya pun kemudian dihempaskan di lantai dalam ketidakwarasannya. Tijah benar-benar lepas kendali dan akhirnya harus rebah dalam ketidakberdayaannya menerima kenyataan di depan mata.

Seniman Teater Riau, Suharyoto Sastro Suwitnyo yang datang langsung dari Bangkinang, Kampar, menangkap pesan dari pentas Rumah Sunting terkait dengan kritik-kritik terhadap pragmatisme. Katanya, teater pada hakikatnya adalah merupakan pewarisan bersama dari pelaku-pelaku sebelumnya.Secara tematik, pentas teater Jalang ini saya kira mengkritik nilai pragmatisme yang terjadi di masyarakat kita hari ini, ucapnya.

Ditambahkan teaterawan yang terkenal dengan meta teaternya itu bahwa hubungan-hubungan antar sesama kita hari ini sangat pragmatis, kalau tidak ada nilai-nilai ekonomis, tak akan ada terjalin hubungan yang baik. Justru saya tidak takut melihat dan menyaksikan adegan tragis yang disuguhkan di atas panggung tapi saya ngeri akan rapuhnya relasi sesama kita saat ini, ucap Aryo, sapaan Suharyoto.

Sementara itu, salah seorang teaterawan muda Riau, Monda Gianes melihat jelas ada pesan atas ketidakberdayaan perempuan dalam pentas Jalang. Katanya, memang situasi itu yang secara nyata sedang dihadapkan oleh beberapa tokoh perempuan yang ada dalam lakon. Tapi dalam pemanggungannya, hal itu menjadi sebuah peristiwa yang memperkuat keinginan dan ambisi sutradara untuk mengendepankan tragis dan sadisnya kehidupan yang dibungkus dan dikemas dengan elemen atau unsur teaternya sehingga dengan demikian muncul kesan-kesan baru selain ketidakberdayaan perempuan misalnya sadisme di balik sosok seorang perempuan yang setia, ucap salah seorang anggota Sanggar Teater Matan itu.

Tragis
Pentas teater produksi Komunitas Seni Rumah Sunting yang dipentaskan selama dua malam beturut-turut di ASIT tersebut mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat pecinta teater di Pekanbaru. Selama dua malam, penonton berdesak-desakan di Gedung Anjung Seni Idrus Tintin bahkan  penonton yang rata-rata adalah mahasiswa itu rela duduk di tangga-tangga yang ada di dalam gedung pertunjukan.

Keinginan penonton untuk terus menyaksikan pementasan bahkan tidak terganggu dengan persoalan teknis seperti yang terjadi di malam ke dua. Di pertengahan adegan pada pementasan malam kedua itu sempat terganggu disebabkan listrik padam. Angin kencang, petir dan hujan deras membuat listrik di gedung pertunjukan terganggu. Namun demikian, pementasan yang diperkuat empat aktor dan lima belas orang pemusik tetap berlangsung meski hanya dengan penerangan lampu senter seadanya hingga pertunjukan benar-benar berakhir.

Rangkaian kisah tragis dan miris tersebut begitu terasa di hati penonton, seperti yang diutarakan salah seorang mahasiswa UIN, Nur Anita. Kisah ceritanya tragis tapi cukup membuat hati miris dan bersedih. Rasanya air mata ini tak dapat ditahan saat menyaksikan pertunjukan teater Jalang meskipun terganggu dengan pemedaman listri oleh PLN, ucap Nita sapaan akrabnya.

Senada dengan itu, seniman teater dan film asal Rohil, Walid Singkit juga mengakui kisah yang diproduksi Komunitas Seni Rumah Sunting adalah sebuah potret kehidupan yang sangat menyayat hati. Saya sudah menyaksikan pementasan ini sejak masih gladi bersih. Setiap kali sampai klimaksnya, rasanya tak tahan juga untuk tidak menitikkan air mata, ucap Walid yang juga bertugas sebagai penata artistik yang diundang Kunni langsung dari Rohil.

Bagi penonton lainnya, Anju menyebutkan pementasan menjadi menarik karena diangkat dari kisah nyata. Katanya, banyak hikmah yang bisa diambil dari pementasan teater Jalang tersebut. Dicontohkan Anju pada adegan Syamsul harus menggadaikan imannya hanya karena takut hidup melarat. Artinya sesulit apapun hidup jangan sampai iman tergadai, ucap salah seorang anggota Komunitas Sastra Paragraf tersebut.

Ditambahkannya Anju, perbuatan Syamsul yang  juga memalsukan kebenaran bahwa sebenarnya adik iparnya, Siti hamil tidaklah diakibatkan perbuatan orang gila melainkan oleh nafsu bejatnya sendiri. Tetapi akhirnya kan waktu juga yang menjawab seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh ke tanah jua. Mungkin untuk konflik Syamsul ini, saya ingin mengatakan jangan pernah meremehkan perempuan, ucapnya.

Seorang teaterawan lainnya yang juga hadir, Aal Rahim Sekha dari Rohil  mengapresiasi pertunjukan teater Jalang. Apalagi katanya, keberanian seorang sutradara perempuan menghadirkan adegan sadis serta vulgar di panggung pertunjukan. Artinya saya melihat, memang perlu upaya-upaya baru untuk terus memberi warna perteateran di Riau meski barangkalai pada awalnya kita mendapat kecaman-kecaman dari kawan-kawan. Yang pasti saya salut dengan keberanian sutradara dalam pentas Jalang ini, katanya.

Usai pemantasan malam ke dua , Kunni Masrohanti selaku Sutradara menyatakan syukur karena pentas teater Jalang diparesiasi banyak orang, mendapat tempat di hati masyarakat. Selain mahasiswa, penonton juga kata Kunni terdiri dari orang tua dan para dosen yang diantara mereka masih ada beberapa yang bertanya dan mengira masih ada pertunjukan di malam ketiga. Setidaknya, ini menunjukkan bahwa apa yang kami targetkan tercapai sebagai upaya bagaimana mengajak masyarakat semakin dekat dan cinta dengan teater dengan datang dan tunak menyaksikan pentas teater yang berlangsung di Riau, jelas Kunni.

Ditambahkannya juga, sebagaimana fungsi dari teater itu sendiri yaitu sebagai media edukasi, Komuntias Seni Rumah Sunting berusaha memberikan yang terbaik dengan ketentuan khusus dan disesuaikan dengan muatan cerita. Makanya pentas Teater Jalang khusus diapresiasi untuk 17 tahun ke atas. Hal ini sebagai sebagai bentuk pertanggung jawaban moral agar tidak salah kaprah. Sadar semua ini merupakan sebuah proses, maka saya sutradara juga sadar masih banyak yang harus diperbaiki dengan terus belajar dan belajar. Hanya saja besar harapan saya agar masyarakat Riau tetap antusias menyaksikan setiap ada pentas teater di Riau ini. Saya juga berharap semoga kawan-kawan teater tetap bersemangat mementaskan teater sehingga muncul aktor-aktor, sutradara teater baru, khususnya perempuan. Ya mungkin karena saya perempuan, tutupnya.

Pentas lakon Jalang, selain diperkuat oleh empat aktor, juga dibantu penari Arfan, Melati dan Ami, Aci serta lima penari pendukung lainnya. Sedangkan untuk penata musik dikerjakan Taufiq Yendra Pratama bersama 14 pemusik lainnya yang tergabung dalam Muara Takus Etnic Music (MTEM).(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us