Sajak-sajak Tihtian Asmoro

20 April 2014 - 10.00 WIB > Dibaca 4485 kali | Komentar
 
Nada Tinggi

udara meninggi
di ketinggian langit-langit mulut
menyuarakan bisikan hati yang telah berlumut
yang dihakimi waktu

“Sekarang, anggap saja kisah kita tak ada,
aku tak bisa lagi denganmu,” katamu
“jaga kesehatanmu. Aku pergi.”

kau berlalu begitu cepat, tanpa isyarat
pada akhirnya tak ada yang kita dapat
setelahnya, tiba-tiba pula
sajak ini terhenti sampai di sini.

Pekanbaru, 2014.



Ruang Tunggu

Setabah Dropadi bagi para Pandawa
Juga setenang arus dingin Batang Kuantan
Barangkali, begitulah ia selama ini menanti
: perempuan yang bersekongkol dengan harap

Tapi purnama selalu saja tenggelam
oleh terang yang dijanjikan matahari

memangnya, berapa banyak air mata yang dimau bahagia
untuk menukarnya dari kesedihan?
berapa jauh pula langkah yang ditempuh saat menunggu?
Adakah sebanyak dan sejauh morse-morse yang tercipta dari kepergian
Kosong. Tak ada kepergian paling menyenangkan untuk ditunggu
selain kepergian untuk pulang.

Buku Harian Perempuanku, 9 Maret 2014.


Pagi yang Urung Terbit

menjelang pagi
di peron utara kota, gadis berlidah dua
menyanggul cemas di dadanya
dari rok mininya, aku tahu
ia sedang menunggu dengan buru-buru
bibirnya pun teramat pasi
membayangkan nyanyian perutnya siang nanti

“bolehkah kupinjam rokokmu?”
padaku, teriaknya dari seberang jalan.
saat itulah aku berbalik membuka pintu kegelapan, sebagai pahlawan
yang tak pernah kutemukan satu alasan saat nanti ditanya Tuhan.

2011-2013.


Di Ambang Kenangan
: Kartika Dewi

(A/)
Ada yang tersisa di sela jemariku
Kesedihan 1000 tahun yang terus mengalun
tak kenal jeda sepanjang waktu
hanya berawal dari hujan minggu lalu

bukan sesal jika tak datang terlambat
padaku, setelah hujan yang begitu lebat
senja itu, tanahku kian lepek
di atas sekali, pipiku sangat becek

(B/)
Kini guntur mulai berteriak-berteriak
Bahkan pada hatiku yang beriak
Pada hatiku yang dalam
Semakin keras menghujam

Sekali saja aku ingin menatap matamu
Tepat tempat kujatuhkan hatiku
untuk kuambil kembali sebelum jalan jadi sunyi

(C/)
Aku takkan mempertanyakan
Perihal perih perpisahan
Janji yang teringkari
Mimpi yang dihapus pagi

(D/)
Lusa setelah namamu dan namanya disahkan para saksi
Dan jika kau bertemu aku di simpang cuaca rumah barumu kemudian hari
Saat itu aku tak sedang mencarimu
Saat itu aku akan dikutuk batu bila berjalan denganmu ke masa lalu
Sekalipun itu untuk mengambil hatiku—sebentuk alasan kepergianmu
Maka sebaiknya sore nanti kau kembalikan hatiku itu
Sekalipn telah sewarna kelabu.

Kuantan Singingi,  2014.



Harus Kusebut Apa Penyair yang Menuliskan Ayat-ayat Selat Sakat Halaman Kesepuluh, yang Telah Menghapus Kabut di Hatiku.
: Cikie Wahab

Ini bukan perihal perih merindukan seseorang yang dicintai, ini tentang halaman kesepuluh Ayat-ayat Selat Sakat. Tentang hati yang melepuh dan seseorang yang sekarat, oleh kabut, oleh nubuat yang dijanjikan hidup.
Ini bukan tentang perpisahan atau kembang yang baru saja mekar di tepian hati, ini tentang luka yang saling meredam, sama-sama ditinggalkan orang yang disayang.

Aku ingin terbang lagi dengan kepak sayap-sayap ilusi paling basi, yang kauajarkan lewat kicau rancau lidahmu di mulutku.

Lalu harus kusebut apa kau—seorang penyair yang menirukan berat kepakan nafas dua bibir yang saling memburu?
: menerbangkan kabut di hatiku jauh-jauh dengan lontaran riuh angin nafasmu di telingaku dengan gemuruh.

Kita—kau hanya sebatas huruf hidup, aku deretan huruf mati. Sisanya, barangkali hanya kalimat-kalimat berantakan tanpa spasi. Tapi aku tak peduli, umpama cinta tak perlu logika. Atau pada kepergian dengan absurd-nya alasan yang diberikan.

Aku ingin mendengar lagi, tentang Ayat-ayat Selat Sakat yang tak sempat kuingat, yang kauajarkan lewat lidahmu yang kacau parau di mulutku.

Lalu harus kusebut apa kau—seorang penyair yang menyibakkan kabut di hatiku lewat butir hujan yang kautuliskan pada sajakmu dan kaubacakan di dalam mulutku.?
Anggur yang tertumpah berlimpah di mulutku tak begitu memabukkan dibanding sedikit liur sajakmu yang tertuang dari ngarai bibirmu, yang jatuh hingga ke dasar hatiku saat kita bergumul di dalam sajak kebosanan.

Kabut beringsut

Jika bagimu aku berlebihan, maka sebuah kewajaran bagi yang menyaksikan. Sebab kau kurindukan. Kau kuinginkan.

Sepanjang Jalan Jendral Sudirman, Maret 2014.


Catatan: Ayat-ayat Selat Sakat, adalah judul antologi puisi pilihan Riau Pos, 2013.



Tihtian Asmoro
lelaki lulusan SMA Negeri 2 Singingi, Kuantan Singingi, ini lahir pada 8 September 1989, di Semarang. Saat ini ia tinggal di kota Taluk Kuantan. Selain aktif menulis puisi dan menulis cerpen, menonton film adalah kesenangannya sehari-hari. Beberapa bulan terakhir, ia menjadi salah satu penggerak iven baca puisi bulanan di cafe-cafe, yang bertajuk Malam Puisi Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us