Mati Ketawa Ala Riau

27 April 2014 - 08.44 WIB > Dibaca 1903 kali | Komentar
 
Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru fedliazis@riaupos.co

Seni pertunjukan komedi memberikan kontribusi pada kekayaan ragam seni di Riau. Terbukti dengan keberadaan tradisi Memboka di Kabupaten Kampar, Coloteh Yong Dolah di Bengkalis dan daerah pesisir lainnya, Randai Kuantan di Kuansing, Madihin di Indragiri Hilir dan lain sebagainya.

Kebanyakan dari seni komedi tradisional tumbuh dan berkembang serta masih tetap terjaga di daerahnya masing-masing sebagai warisan budaya leluhur negeri ini.

Sebagai upaya untuk mengangkat keragaman jenis komedi yang ada, Pengurus Daerah Persatuan Artis Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) Riau menaja helat seni bertajuk Riau Comedy Expo 2014.

Acara yang dilaksanakan selama dua malam (19-20 April 2014) dan dipusatkan di gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT).

Riau kaya dengan seni budaya dan tradisi. Bentuk seni komedi tak juga bisa dipungkiri telah memberikan kontribusi pada kekayaan dan ragam seni pertunjukan di Riau ini. Nah, acara yang kita taja ini tak lain bertujuan untuk mengangkat keragaman bentuk seni komedi itu ke permukaan yang barangkali selama ini  hanya berkembang di daerah masing-masing. Pokoknya, kali ini kita buat helat dengan slogan mati ketawa ala Riau, ujar Project Manager, Ahmad Benny J yang biasa disapa Bens itu.

Berangkat dari semangat itulah lanjut Bens, Pengda PaSKI Riau tertarik untuk menghimpun dan menampilkan seni komedi yang ada di Riau dalam sebuah helat besar yang kemudian kiranya bisa memberi keleluasan bagi para seniman komedi untuk mengeksplorasi seni komedi tradisi dari berbagai kabupaten/kota se Riau.

Seperti halnya telah kita tampilkan seni pertunjukan komedi Memboka dari Kampar, Rantai Kuantan dari Kuansing dan sebagai perbandingan, kita juga tampilkan seni pertunjukan komedi dari Pengda PaSKI Sumbar dengan ala Minang Kabau-nya dan Pengda PaSKI Jawa Tengah dalam bentuk Dagelan, jelas Bens lagi.

Sementara itu, Ketua Pengda PaSKI Riau, Fakhri Semekot menyebutkan acara yang juga dimeriahkan oleh komedian-komedian dari Jakarta seperti Didin Bagito (Sekjen PaSKI Pusat), Jarwo Kwat, Komeng (Ketua PaSKI Jawa Barat), Yadi Sembako (Ketua PaSKI Banten), Rudi Sipit, Mono Dbeejee, dan Matsol Kosan, ini bertujuan di samping sebagai ajang silaturahmi antara sesama seniman komedi di Indonesia juga berupaya bagaimana seni komedi terus bergairah dan tetap eksis di Indonesia terutama di Riau.

Salah satu tugas PaSKI tentu saja bagaimana berupaya untuk melakukan pembinaan dan melahirkan komedian-komedian yang handal dan berkualitas. Dengan ditaja acara ini diharapkan menjadi permulaan untuk memulai sesuatu yang lebih akbar lagi ke depannya, ucap komedian senior Riau tersebut.

Pelawak Itu Cerdas
Dalam rangkaian acara Riau Comedy Expo 2014 yang ditaja, Panitia juga melaksanakan acara sarasehan, bertempat di ruangan Dewan Kesenian Riau (DKR).  

Komedian dari Jakarta yang jadi pembicara dalam acara tersebut, disambut antusias oleh peserta sarasehan yang terdiri dari peserta lomba lawak dan juga mahasiswa dari Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR), Unilak dan lain-lainnya.

Berbagai pertanyaan terkait dengan proses melawak yang baik serta diselingi guyonan dan canda tawa dari Komeng Cs membuat suasana sarasehan tersebut begitu akrab.

Sekjen PaSKI Pusat, Didin Bagito menyebutkan melawak yang benar, lucu dan cerdas itu tidak bisa serta merta didapat begitu saja.

Tetapi perlu pembelajaran yang serius dan intens untuk menghasilkan lawakan yang bermutu. Katanya, saat ini bisa dilihat di layar televisi, banyak sekali candaan-candaan yang tidak wajar alias tidak cerdas.

Kebanyakan yang kita saksikan di layar televisi terutama, banyak sekali candaan yang ianya hanya bisa dipahami oleh mereka yang sedang melakukannya saja.

Artinya apa? Kurangnya kemampuan pelawak-pelawak masa kini untuk terus memepelajari dan menemukan anekdot-anekdot yang sifatnya universal, apalagi diperparah dengan gaya-gaya lelaki yang keperempuanan. Maaf, saya kira itulah lawak yang paling rendah mutunya, tegas lelaki yang memulai karir di dunia komedi pada 1978 itu.

Lawakan itu pada intinya memang berisikan kelucuan namun demikian lawak juga merupakan sebuah produk komunikasi. Oleh karenanya, proses untuk menghasilkan kelucuan itu juga perlu dipelajari dan diperhatikan oleh pelaku komedi. Didin menyebutkan, ada aksen-aksen serius yang mesti dapat dipelencengkan dengan baik dan benar karena adakalanya sesuatu menurut kita sudah lucu tetapi ketika dilemparkan kepada penonton justru tidak lucu.

Jadi bagi saya, melawak itu sama dengan proses berperang. Audience adalah musuhnya. Saya harus mempersiapkan strategi, rencana dan amunisi untuk menyerang. Melawak yang berhasil itu adalah apa yang diinginkan dan apa yang diharapkan oleh pentonton, jelas Didin.

Dalam kesempatan itu juga, selaku Sekjen PaSKI Pusat, Didin mengajak kepada peserta yang hadir untuk melihat dan kalau pun menjadi pelawak, melawaklah dengan cara yang sehat dan cerdas.

Karena melawak juga memiliki tanggung jawab moral atas apa yang disampaikan.

Mutu dari lawakan itu biasanya dapat terlihat jelas oleh penonton sendiri sebagai apresiator. Dan bisa dilihat, insan-insan komedi yang masih eksis hari ini, merupakan hasil yang didapat dari proses belasan dan bahkan puluhan tahun yang lalu. Sekaranglah baru mereka dapat memetik hasilnya, kata Didin.

Senada dengan itu, Ketua Pengda PaSKI Banten, Yadi Sembako mengemukan bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau belajar. Yadi mengakui, dia yang dulunya hanya bertugas sebagai supir, mengantarkan para komedian melaksanakan shownya, mencuci baju dan juga menyetrika

pakaian para pelawak. Tetapi dalam prosesnya, kenang Yadi, dia  terus belajar sampailah akhirnya mendapat tempat di hati masyarakat.

Seperti kata pepatah, kalau kita dekat dengan tukang jual minyak wangi, kita kebagian juga wanginya, ucap komedian Jakarta termuda dari yang hadir dalam acara sarasehan itu.

Seperti halnya perang, melawak juga demikian. Kata Yadi, kalau tidak berhasil menggunakan bambu runcing, pakailah senjata api, bila perlu serang dengan menggunakan bom atau granat, pokoknya serang terus.

Nah, di sinilah pentingnya belajar, karena kalau kita menyerang tanpa ada atau kehabisan amunisi, bagaimana mungkin akan berhasil menang, jelasnya seraya menambahkan bahwa karir melawak itu juga ibarat arisan, di mana suatu saat nanti akan keluar juga kita sebagai pemenangnya.  

Untuk menjadi pelawak, terlebih dahulu harus mencintai dunia lawak. Dalam artian, kenali terlebih dahulu dunia lawak, belajar apa itu lawak, bagaimana sejarahnya.

Untuk menjadi pelawak yang handal, tidak bisa dilakukan dengan iseng-iseng saja. Awalnya harus rajin belajar dan membaca buku anekdot-anekdot yang merupakan bahan dasar dari lawakan.

Seperti yang disampaikan komedian Rudy Sipit yang saat ini lebih memfokuskan diri di bidang kepenulisan konsep dan naskah komedi, belajar menjadi komedian itu hendaknya bisa mengembangkan anekdot yang dibaca dengan cara cari poin yang paling lucu kemduian dikembangkan sendiri, Disitulah proses penting untuk terus mengasah pikiran kita sehingga lama-kelamaan, kita bisa membuat anekdot sendiri. Dan juga sering nonton  lawawakan yang bermutu. Kalau tak ada di televisi, cari di you tube. Jadi intinya, melawak itu perlu belajar dan terus belajar karena dunia lawak ini ada masanya. Setiap hari, para komedian bermunculan saja di layar televisi. Maka agar kita tidak tergilas, harus pandai memenej diri sampai kita benar-benar menemukan karakter. Lawakan yang berkarakter dan alami itu akan tetap hidup terus menerus, jelas lelaki yang selalu mengenakan topi tersebut.

Komeng yang juga turut membagi pengalamannya kepada peserta sarasehan mengungkapkan dengan serius bahwa sampai hari ini, selaku komedi profesional, dia tidak begitu saja percaya dengan yang namanya popularitas.

Setiap hari dalam satu pekan, Komeng masih saja belajar dan latihan sendiri di rumah. Dia selalu membuat catatan dan tulisan tentang anekdot-anekdot apa saja yang  menurutnya menarik. Dicontohkannya seperti botol, gelas, meja, dan apa saja yang tampak setiap harinya.

 Dari objek yang saya lihat kemudian saya kembangkan menjadi anekdot-anekdot saya sendiri yang tercatat di dalam buku dan pikiran. Sehingga ketika show, kesemua yang tersimpan itu, keluar begitu saja secara spontan, jelasnya sembari menambahkan melawak itu wajib belajar dan latihan.

Pengat Berjaya di Lomba Lawak
Rangkaian acara lainnya yang dilaksanakan sempena memeriahkan Riau Comedy Expo 2014 adalah lomba lawak se Riau. Sebanyak 21 grup ikut serta dalam perlombaan yang dinilai oleh tiga dewan pengamat yaitu Fakhri Semekot, Chaidir MM dan Musthamir Thalib.

Setelah menyisihkan 21 grup yang tampil, akhirnya grup Pengat dari Kabupaten Siak meraih juara 1 dalam lomba lawak se Riau tersebut. Disusul juara II, Grup Kakap dari Pekanbaru, sedangkan juara III, jatuh pada grup Caleco dari Kampar Kiri. Untuk harapan I, dinobatkan grup Riau Beraksi, Harapan II diperoleh grup Mahebel dari Rokan Hilir dan harapan III jatuh pada grup Pelengeh dari Pekanbaru.

Masing-masing peserta yang terdiri dari beberapa kabupaten/kota itu menampilkan lawak sesuai dengan bentuk dan ragam dari daerah masing-masing.

Hal itu tampak tatkala mereka (peserta lomba lawak red) tampil di panggung Anjung Seni Idrus Tintin. Pekanbaru dengan bentuk urbannya, Rohil dengan logat dan gaya Bagan, Kampar, Kuansing dan Siak dengan logat pesisirnya.

Hal itu juga diakui Ketua dewan juri, Fakhri Semekot. Katanya masing-masing grup yang tampil membawakan ciri khas daerahnya, baik dari logat bahasa, gaya dan permainan lawaknya.

Ragam bentuk lawakan tersebut dinilai Fakhri sebagai sebuah kekayaan yang apabila dikemas akan menjadi bentuk seni komedi yang beraneka ragam pula.

Hanya saja lanjut Fakhri perlu diketahui juga bahwa melawak itu bukan berarti asal membuat lucu dalam artian tidak serta merta melakukan aksi jatuh-jatuhan atau gaya-gaya yang dipaksakan tampak bodoh akan disambut lucu oleh penonton, yang terpenting itu adalah bagaimana seorang pelawak bisa menguasai materi lawakannya dengan benar. Lawak ini jugakan akting tetapi tantangannya adalah bagaimana bisa membuat orang tertawa menyaksikannya, jelas Fakhri.

Dikatakannya juga, melawak itu tidak ada SK-nya. Makanya salah  satu upaya untuk melahirkan seniman-seniman komedi dengan cara mengadakan even-even seperti ini.

Tentu saja diharapkan dari lomba lawak ini agar bisa melahirkan generasi komedi yang bisa saja modern sekalipun tapi tetap berpijak kepada komedi tradisional yang kita punya di Riau ini, jelas Fakhri lagi.

Komedian Beraksi, Tawa Pun Pecah
Tidak seperti biasa yang tampak di Anjung Seni Idrus Tintin di malam puncak Riau Comedy Expo 2014. Jika selama ini, pengunjung atau penonton disuguhkan dengan seni pertujukan yang serius baik itu teater, tari maupun musik.

Tapi malam itu, ledakan tawa terdengar dari penonton yang hadir ketika melihat polah tingkah komedian yang tampil.

Apalagi tatkala komedian senior Riau, Fakhri Semekot dan Udin Semekot berkolaborasi dengan komedian Jakarta, Jarwo Kwat, Komeng, Didin Bagito dan Yadi Sembako.

Mereka berkolaborasi dalam konsep berbalas pantun kelakar. Kontan saja, gelak tawa membahana, seolah-olah pecah mewarnai aksi-aksi serta anekdot yang disuguhkan para komedian tersebut.

Wiwik, salah seorang mahasiswa UR yang hadir bersama kawan-kawannya mengaku tak tahan melihat pola tingkah pelawak yang tampil. Katanya, masing-masing komedian beraksi sesuai dengan karakternya apalagi melihat Komeng yang senantiasa mengeluarkan jurus-jurus komedi yang menggelitik hati.

Sakit mulut ketawa dibuat orang-orang (pelawak red) itu. Macam tak mau berhenti ketawa dibuatnya, ucap Wiwik yang diamini oleh beberapa kawannya.

Salah seorang guru di SMA Muhamadiyah Pekanbaru, Iwan yang juga hadir mengatakan sengaja membawa  emaknya yang baru tiba dari desa Sungai Rawa-Kabupaten Siak untuk menyaksikan malam puncak Riau Comedy Expo 2014.

Di sela tawanya, Iwan mengatakan luar biasa dan berpuas hati dapat menyaksikan pertunjukan-pertunjukan komedi yang ditampilkan. Apalagi melihat semua komedian itu berbalas pantun kelakar, macam nak pecah perut ni ketawa, ucapnya.

Selain itu tampil  juga di malam puncak itu, Pengda PaSKI dari Jawa Tengah yang membawakan dagelan Mataram Mbah Broto Gandrung, Pengda PaSKI Sumbar dengan lawakan khas Minang Kabaunya berjudul Malin Kundang.

Sedangkan mewakili Riau, grup dari Kampar yang membawakan komedi tradisonal Memboka. Sebagai persembahan penutup, tak ketinggalan grup Randai Sarinam dari Kuansing.

Mendengar  dan menyaksikan teater komedi yang ada aksi tari dan nyanyinya itu, penonton pun naik ke panggung, ikut menari bahkan komedian-komedian dari Jakarta pun tidak bisa menahan hasrat untuk sama-sama menari di atas panggung.

Melihat antusias masyarakat terhadap acara yang ditaja Pengda PaSKI Riau, Pelawak Nasional asal Riau Jarwo Kwat mengatakan minat generasi di Riau terhadap seni sangat tinggi.

Namun hal itu tidak cukup saja sampai disitu karena menurut Jarwo, pelawak yang berbakat di Riau ini harus ke Jakarta, harus punya hasrat dan keinginan yang kuat merantau untuk meningkatkan potensi diri.

Pilihannya cuma satu, kita harus fokus dan kepada anak-anak muda di Riau, harus tetap semangat, jelas pelawak yang memulai karirnya dari nol ini.

Pada kesempatan itu juga, tepatnya pukul  00:00 WIB, seluruh pengurus PaSKI Indonesia yang ada merayakan ultah PaSKI yang ke 9 tahun.

Prosesi perayaan yang sengaja diset ala komedi hanya menyediakan sebatang lilin putih dan sepotong roti pau.

Setelah menghembus lilin bersama-sama, masing-masing anggota PaSKI yag hadir mencubit kue pau dan mencicipinya sedikit demi sedikit.

Didin Bagito selaku Sekjen PaSKI Pusat dalam sambutannya menceritakan sekilas tentang awal terbentuknya organisasi PaSKI ini.

Katanya tepat pada tahun 2014, bermulalah sejarah yang tak dapat dilupakan. Saat itu, ada pertemuan halal bi halal pelawak seluruh Indonesia. Dan pada saat itulah disebarkan sebuah wacana untuk membentuk sebuah organisasi pelawak.

Hampir satu tahun menggodok semua persiapan, tepat pada 21 April 2005, terbentuklah organisasi PaSKI yang sebagai ketua pertamanya adalah Indro Warkop. Jadi malam ini dengan tidak mengurangi rasa khidmat, kita merasa bangga bisa merayakannya bersama-sama di Riau, ucapnya.

Didin juga mengucapkan terima kasih yang tak berhingga kepada Pengda PaSKI Riau yang telah bersungguh-sungguh mengadakan acara Riau Comedy Expo Riau adalah Pengda PaSKI yang pertama di seluruh Indonesia.

Semoga bendera PaSKI tetap berkibar di bumi Indonesia ini, siapa lagi kalau bukan kita, insan-insan komedi yang mengaibarkannya. Hidup PaSKI, teriak Didin menutup sambutan ultahnya.

Sementara itu, Project Manager Riau Comedy Expo 2014, Ahmad Benny menyatakan dengan melihat animo masyarakat khususnya insan komedian di Riau dan Nasional, diharapkan Riau Comedy Expo ini menjadi event tahunan dengan tetap konsisten pada pengembangan komedi tradisi.

Tidak menutup juga kemungkinan memadukannya dengan genre-genre lain seperti tari komedi, musik komedi dan stand up komedi. Karena memang keanggotaan PaSKI tidak hanya dari kalangan pelawak tetapi semua yang bersifat komedi bisa bergabung di organisasi ini, harap Bens seraya mengatakan tentunya butuh dukungan dari semua pihak untuk merealisasikannya.

Dalam kesempatan itu juga, Bens mengucapkan terima kasih atas dukungan dari beberapa pihak diantaranya RTV dan Riau Pos Grup (RPG), Museum Sang Nila Utama, DKR, BSP, RAPP, Pindang Palembang Resto, Ayam Lomak Sambal Ijo, Yayasan Pendidikan An Namiroh, APHI Komda Riau, Hotel Pangeran, Hotel Ratu Mayang Garden.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us