Gadis Penunggu Hujan

27 April 2014 - 09.01 WIB > Dibaca 2211 kali | Komentar
 
Oleh: Dessy Wahyuni

Aroma hujan mengingatkanku pada masa itu....    
Pada rindu yang tak berkesudahan...

Rintik itu mengingatkanku padamu. Rintik yang mengantarkanmu padaku, dan sekaligus membawamu pergi dariku. Ke negeri entah.

Gadis Penunggu Hujan.  Begitulah aku kerap disapa. Sejak kecil aku memang menyukai hujan. Aku tak pernah melewatkan setitik pun air yang turun dari balik kaca jendela tiap kali hujan menyapa. Itu menjadi kebiasaan yang tidak ada seorang pun bisa melarangku.

Berawal dari sebuah mimpi. Ketika aku berusia 5 tahun, seorang lelaki muncul begitu saja dalam mimpiku. Ia muncul bersama hujan.

Dengan kuyupnya, ia datang menghampiriku. Tapi tidak menyapaku. Hanya melihatku dengan tatapan mata yang syahdu, tatapan yang mengundangku untuk lari ke pelukannya. Aku terhanyut.

Keesokan harinya, lelaki hujan itu menjadi nyata. Sosoknya seketika hadir di hadapanku. Hujan tercurah ke bumi dengan derasnya, dan lelaki itu muncul dengan tiba-tiba. Mengagetkan. Seperti siluet di antara bebutiran air yang  menghantam bumi. Aku ternganga.

***
Kata ibu, ayah pergi. Ayah pergi karena marah.  Ayah dan ibu,  memang kerap bertengkar. Ayah selalu mempersoalkan apa saja. Sekecil apa pun itu. Kata ibu, saat aku berusia 3 tahun, ayah sangat marah karena ibu tidak menyiapkan makan malam.

Malam itu ayah pulang dengan mata merah. Katanya sibuk kerja seharian.  Ia langsung menuju meja makan dan membuka tudung saji. Namun, yang didapatinya hanya sepiring kecil sambal terasi.

Gubraaaakkkk!!!

Terdengar bantingan tudung saji di meja makan. Ibu tergopoh-gopoh keluar kamar.

Istri macam apa ini! Ayah menghardik ibu.

Maaf, Bang. Tadi aku tak sempat...

Ah, sudahlah. Memang istri tak berguna! Ayah pergi. Dan tidak kembali.

Ibu hanya bisa bergumam, Tadi aku tak sempat masak, Riani demam tinggi. Tapi ayah telah menghilang.

***
Ayah kini telah kembali. Aku merasakan bahagia yang tiada tara. Kehidupan yang rumpang tidak kurasakan lagi. Hidupku begitu sempurna. Ada ibu yang selalu sabar memenuhi segala inginku, dan ayah yang mewarnai setiap hariku.  

Ternyata itu semua sementara. Hanya empat tahun lamanya. Entah kenapa, ayah hilang tanpa berita. Aku terpana.

Bunga-bunga liar bermekaran. Ilalang dan semak menyelingi. Pepohonan memberi keteduhan di sana-sini. Gemericik air tak henti mengalir.

Sungai-sungai kecil berlengkungan, seperti sabit para petani yang bersiap menunggu musim panen. Sawah dan ladang berundak-undak membentuk anak tangga menghiasi perbukitan.

Semilir angin selalu datang dan pergi, tak pernah bosan menemani pepucuk dedaunan. Sungguh sebuah keindahan yang ditawarkan alam pada masa kanak-kanakku. Meski sudah berlalu jauh di belakang waktu, masa itu telah banyak menyimpan cerita.

Hingga usiaku enam belas tahun kini, cerita silih berganti menghampiri. Jalanan usiaku membentuk gambar-gambar dalam benak, kadang riang, dan tak jarang membuat air mataku mengalir tak terbendung. Titik-titik hujan selalu setia menemani setiap liku cerita itu.  

Aku menyukai air, dan sejak itu pula aku jatuh cinta pada hujan. Beribu kenangan yang telah kami ukir bersama. Aku dan ceritaku, serta hujan dan rerintiknya. Kami saling mengerti dan memahami.

Pada hujan kuceritakan bahwa ayah telah pergi. Entah ke mana. Kata ibu, ayah pergi ke kota, membelikan aku sepeda, sebab aku kerap minta sepeda agar bisa mengitari pematang. Bersama ayah tentunya.  

Namun, sudah tujuh tahun aku menanti. Ayah tak kunjung kembali.

Dengan ayah, aku memiliki banyak permainan. Meski aku perempuan, ayah membuatkanku mobil-mobilan dari jeruk bali.

Terkadang ayah memperlakukanku seperti seorang putri dengan membuatkan aku seuntai kalung dari tangkai daun singkong. Tak jarang pula kami hanya bermain petak umpet. Ayah sembunyi dan aku mencari. Begitu pula sebaliknya.

Ayah pernah kelabakan mencariku. Setengah menjerit ayah memanggil, Riani... Riani... Riani Arifin.... Ayah panik, sehingga memanggil nama panjangku. Aku tak menyahut, sebab aku tertidur di ceruk pohon randu yang lubangnya cukup dalam. Dan kemudian itu menjadi tempat favoritku.

Sering pula aku dan ayah berlarian dalam hujan. Kami kuyup bersama. Aku riang, ayah senang. Ibu hanya memandang dengan senyuman yang terkembang.

Ibu, ayo ikut bermain hujan, seruku suatu waktu.

Ibu hanya menggeleng, tapi aku setengah memaksa dan menarik tangan ibu. Ibu hampir pasrah dengan ajakanku. Namun, ayah segera mencegah.

Jangan, Ibu tidak boleh bermain hujan, nanti asma Ibu kambuh.

Aku merengek, sebab tak lengkap rasanya tanpa ibu. Apa boleh buat, ayah ibu mengalah. Namun, tiba-tiba kami terkejut. Nafas ibu sesak.

Ayah segera menggendong ibu ke dalam rumah. Aku sangat menyesal. Ayah memeluk ibu, sangat lama dan terasa mendalam. Kulihat ayah mengusap matanya yang tiba-tiba membasah. Aku hanya mampu memandang dari balik kelambu.

Ternyata itu pelukan terakhir ayah. Keesokan pagi aku tidak menemukan ayah di semua tempat. Aku juga sudah memeriksa ceruk pohon randuku. Ayah raib. Kutanya ibu, ia hanya tersenyum dengan wajah sembab.

Kini tak ada lagi teman bermain sehangat ayah. Aku juga tak menemukan teman untuk memetik asoka, yang kerap dilakukannya bersama ayah.

Biasanya kami memetik bunga-bunga merah itu bersama, mengambil tangkai sarinya, dan mencecap madu di pangkalnya. Kemudian ayah akan merangkainya menjadi sebuah mahkota yang menghias kepalaku. Terasa begitu indah.

Namun, semua sirna. Aku hanya bisa meringkuk di ceruk randu dalam tahun-tahunku. Ditemani bebutiran air yang jatuh dari langit. Makin lama ceruk itu semakin sesak, tetapi aku masih betah.


***

Ada segumpal asa yang kau hanyutkan bersama derai rintikmu. Sesungguhnya terasa pilu. Namun tak boleh ada sesal, sebab aku gadis penunggu hujan.

Aku Gadis Penunggu Hujan. Kebiasaan lamaku kembali muncul, sebab aku mengusung harapan. Dalam impianku, lelaki itu muncul bersama hujan, persis ketika aku berusia lima tahun.

Aku menanti berbilang hari. Aku menanti berbilang bulan. Aku menanti berbilang tahun, tetapi lelaki itu tak jua menampakkan diri. Ke manakah?

Hanya hujan yang setia menemani. Bahkan ibu pun sudah bosan tiap kali aku merengek minta ditemani. Hanya hujan. Ya, hanya hujan kini yang menjadi teman sejati. Juga ceruk yang kian sesak.

Tiap hujan datang, aku bersembunyi dalam ceruk. Kucurahkan berbagai rasa yang kupunya. Kuceritakan pada hujan, dan berharap ia akan mengantar pesan itu pada lelaki yang kunanti.

Aku menyukai air, dan aku jatuh cinta pada hujan. Sebab tersimpan harapan akan sebuah kedatangan. Lelaki hujan pujaan, di manakah gerangan?  Hujan, datanglah.

Bawa serta rinaimu untuk menyejukkan kalbuku. Dekap aku selalu dalam rintikmu. Penantian, hanya itu yang bisa kulakukan.

Tak peduli seberapa panjang. Sebab ada sesak di dada yang harus segera diuraikan. Akan aku ceritakan segala kisahku kepadamu.

Bukan untuk membebanimu. Namun, agar aku bisa berbagi, membuat seluruhku menjadi terasa ringan. Hanya kepadamu. Dalam gontai penantian, aku yakin kau akan selalu menemani. Rintikmu senantiasa ada untukku.

Hujan, memang selalu kunanti. Aku kerap menikmati tiap derai yang tercurah. Meski harus kuyup, tak ada penyesalan (semestinya). Harus setia mencari makna dari tiap gigil yang dihasilkan. Menunggu dengan setia setiap kaki rerintik air menapak di atas tanah basah dan rerumput pasrah....

Tak ada sedikit pun keraguan dalam penantian. Meski harus meniti genangan sembari tertatih, mengharap hujan kembali datang.

Hai, rerintik hujan, meskipun aku seolah berteduh di bawah pohon rindang, atau berlindung di balik atap, kuharap tidak ada keraguan padamu untuk selalu mengguyurku, sebab aku selalu bisa rasakan hadirmu menyentuh kulit keringku.


***

Gelap. Sepi mulai menelusup. Sendiri menyusuri sunyi. Ke mana harus pergi?

Kelam semakin pekat. Sunyi menyelimuti. Sendiri. Haruskah kususuri terusan ke negeri awan? Sebab, konon katanya terdapat banyak titik hujan di sana.

Menunggu...    
Selalu...
Dengan setia.
Menunggu membuatku mengerti makna pergeseran waktu.
Takut. Aku takut. Takut terpejam, sebab aku tak mau melewatkan rinaimu sedikitpun.
    
Mimpi itu datang lagi. Persis seperti yang pernah kualami saat aku berusia lima tahun. Seorang lelaki muncul begitu saja. Ia datang bersama hujan. Dengan kuyupnya, ia menghampiriku. Tapi tidak menyapa. Hanya melihatku dengan tatapan mata yang syahdu, tatapan yang mengundangku untuk lari ke pelukannya. Aku terhanyut.

Bertahun-tahun sudah aku menanti. Tak ingin kusia-siakan begitu saja. Segera aku berlari menghampiri, dan tak mau menunggu pagi. Lelaki itu merentangkan tangan, bersiap menyambutku dalam dekapan. Dadaku sesak, seluruh rasa membuncah. Rindu yang meluap memberi dorongan yang sangat dahsyat. Lengannya yang perkasa menggapaiku. Aku merengkuhnya. Dan aku tersentak, hanya angin. Ya, hanya angin yang aku rengkuh. Di mana ia? Haruskah aku kehilangan lagi?

Tiba-tiba aku terbangun. Ibu menggugahku dengan agak tergesa. Ia menarikku dan mengeraskan volume televisi.

Hujan deras sejak siang hari menyebabkan dua kenagarian di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dilanda banjir bandang. Banjir ini menenggelamkan 150 rumah dan sekitar 100 hektar sawah, Senin 24 Maret 2013. Bambang Warsito, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam, mengatakan banjir terjadi sekitar pukul 16.00 WIB setelah hujan deras mengguyur daerah pinggiran Danau Maninjau ini. Dari hasil pantauan BPBD Agam, malam tadi banjir sudah mulai menyusut.

Warga sudah mulai membersihkan rumahnya dari sisa-sisa materil yang dibawa arus banjir. Meski rumahnya terendam banjir, tidak ada masyarakat yang mengungsi. Untuk membantu masyarakat, Pemkab memberi nasi bungkus untuk makan malam.

Selain di Tanjung Raya, banjir bandang juga terjadi di Nagari Salareh Aie, Kecamatan Palembayan. Di lokasi ini, tidak ada rumah yang terendam. Tapi, satu jembatan telah putus. Ditemukan seorang lelaki berusia 50-an hanyut terbawa arus. Dari KTP yang ada dalam dompet di saku celana korban, terlihat nama M. Arifin....

Kulihat ibu semakin pasi. Keringatnya menetes di dahi.  Ia lalu bergumam, Ayahmu berasal dari Nagari Salareh Aie...

Belum usai ibu menuntaskan kalimatnya, air mataku mengalir. Bergulir deras. Pupus sudah harapku. Haruskah kususul ke negeri entah?

Aku menyukai air, dan aku jatuh cinta pada hujan. Ia sahabat (sejati) yang ternyata mampu melukai. Haruskah aku benci padamu, hujan? Mestikah aku merasa dendam?

Dan kini, aku masih setia menanti. Akulah Gadis Penunggu Hujan. Meskipun kau telah mengangakan lukaku, dan perih itu terasa seperti diasami, ngilu, aku tetap setia menantimu.

Tak usah kau ragu ataupun malu untuk hadir di hadapku, sebab aku tak akan dendam padamu.

Akulah Gadis Penunggu Hujan, meminta kebesaran hatimu. Usaplah asap jerebu yang kini merajaiku, mengusik kenyamanan cerukku. Hibur aku yang selalu merindu akan rerintikmu yang perkasa. Aku menyukai air, sebab Aku Gadis Penunggu Hujan.***


 Untukmu, Papa. Rinduku kian membuncah.


Dessy Wahyuni tercatat sebagai pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau. Rajin menulis cerpen dan esai. Bermastautin di Kota Bertuah Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 14:00 wib

Diprioritaskan untuk Koridor Rumbai dan Tenayan Raya

Rabu, 21 November 2018 - 13:45 wib

Bupati Motivasi Anak Siak Terus Berprestasi

Rabu, 21 November 2018 - 13:36 wib

Oknum Polisi Pesta Narkoba

Rabu, 21 November 2018 - 13:30 wib

Pencegahan Kejahatan, Buat Pelaku Tidak Nyaman

Rabu, 21 November 2018 - 13:15 wib

Syamsuar Hadiri Haul Marhum Pekan

Rabu, 21 November 2018 - 13:07 wib

2019, Satu Suara Dihargai Rp1.000

Rabu, 21 November 2018 - 13:00 wib

Pelajar Jadi Korban Tabrak Lari

Rabu, 21 November 2018 - 12:45 wib

Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK

Follow Us