Lancang Kuning di Tangan Asrizal Nur

15 Januari 2012 - 07.31 WIB > Dibaca 4865 kali | Komentar
 
PEKANBARU(RP) - Cerita Lancang Kuning cukup populer di negeri-negeri melayu seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunai Darusalam. Selain menjadi pemersatu secara emosional, cerita tersebut banyak diapresiasi para seniman menjadi karya baru dengan tafsir yang berbeda-beda. Salah satunya, teks drama karya dramawan Riau Temul Amsal yang ditampilkan Sanggar Semenanjung asal Jakarta asuhan Asrizal Nur, Selasa (10/1) di Gedung Pauh Janggi, komplek kediaman Gubernur Riau.

Pementasan teater berdurasi 60 menit tersebut memperpanjang sederatan catatan kian maraknya pagelaran seni pertunjukan di Pekanbaru, terutama seni drama. Apalagi baru-baru ini, Riau Beraksi berjudul Bengak mementaskan karyanya di Gedung Teater Tertutup Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru, ISI Padangpanjang dan Taman Budaya Padang, Sumatera Barat. Paling tidak, pentas Lancang Kuning yang disutradari Asrizal Nur sebagai pembuka semangat seni pertunjukan di tahun ini.
Kisah Lancang Kuning sendiri, beberapa kali telah di pentaskan di Riau dan Malaysia oleh seniman-seniman Riau, namun belum pernah digelar di Jakarta. Dengan semangat mengangkat kebudayaan Riau di forum nasional dan internasional maka kami mencoba mengangkat Lancang Kuning, ujar Asrizal Nur.

Berbagai macam gaya dan sentuhan dilakukan untuk menarik agar budaya Riau dapat tersosialisasi dengan baik dan efektif. Namun tetap berupaya mempertahankan kekuatan budaya Melayu sehingga idealisme kebudayaan tetap teratas. Pergelaran Lancang Kuning yang disutradarainya diusahakan dengan mengemas kesenian tradisional dan sentuhan tekhnologi modern. Seperti menggunakan teknologi multimedia dan LCD Proyektor penganti layar berlapis-lapis yang selalu digunakan teater klasik. Di samping memudahkan penataan artistik juga mampu perkuat adegan agar lebih hidup dengan latar yang hidup.

Pada permainan multimedia pergelaran Lancang Kuning ini menampilkan latar belakang laut yang hidup. Adegan Zubaidah dilindas Lancang Kuning, Panglima Umar berlayar dengan Lancang Kuning dan beberapa adegan lain yang diperkuat multimedia sehinga adegan tampak lebih hidup.    

Pementasan tersebut baik yang telah ditampilkan di Taman Budaya Yogyakarta (8 Januari 2012) dan di gedung Daerah Riau, Pekanbaru (10 Januari 2012) adalah cuplikan pementasan sebenarnya, ditampilkan dalam durasi satu jam. Gong dari pementasan Lancang Kuning direncanakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Juli 2012 dengan durasi dua jam dengan kemasan Opera.

Opera diupayakan tetap mempertahankan melodi melayu dan meminimalisasi warna opera Barat. Memang bukan pekerjaan mudah menampilkan opera dengan warna lagu Melayu namun jika tidak diupayakan dicemaskan yang dilihat orang adalah opera barat dengan pemain berpakaian Melayu. Kami berupaya agar opera itu nantinya tidak terlihat seperti opera barat berpakaian melayu, tegas Asrizal.

Proses penggarapan teater melayu Lancang Kuning yang dipentaskan di Yogyakarta dan Pekanbaru ini, cukup menyita pikiran dan tenaga. Dengan latihan yang meraton tanpa istrahat, latihan demi latihan dilakukan dengan semangat tinggi, adik-adik Sanggar Semenanjung yang notabene bukan seniman teater akan tetapi adalah mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu akhirnya dapat juga menyelesaikan proses latihan tersebut.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Jumat, 21 September 2018 - 11:24 wib

Komitmen Tolak Politik Transaksional

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 wib

Terima 278 Formasi CPNS

Jumat, 21 September 2018 - 10:52 wib

Tim Yustisi Amankan 58 Warga Tanpa Identitas

Jumat, 21 September 2018 - 10:11 wib

UAS Jadi Perhatian Peneliti

Jumat, 21 September 2018 - 10:05 wib

Curi Besi Alat Berat, Dua Sekawan Dibekuk Polisi

Jumat, 21 September 2018 - 09:55 wib

Polisi Wajib Ikuti Tes Dapatkan SIM

Follow Us