Nol atau Kosong

27 April 2014 - 09.02 WIB > Dibaca 1456 kali | Komentar
 
Oleh: Yeni Maulina

Dilihat dari makna/artinya, nol dan kosong merupakan dua kata yang berbeda. Sesungguhnya antarkeduanya bersinonim pun tidak.

Nol ‘bilangan yang dilambangkan dengan 0; tidak ada kenyataannya; tidak ada hasil’, sedangkan kosong ‘tidak berisi; tidak berpenghuni; berongga; hampa’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:737 dan 965). Itulah sebabnya nol dan kosong pada kalimat (1) dan (2) berikut ini tidak dapat dipertukarkan.

(1) Janji-janji caleg itu umumnya nol besar.

(2) Kapal-kapal tanker yang bersandar di Pelabuhan Duku mengangkut peti-peti kosong sisa ekspor.

Entah apa sebabnya, dalam berbahasa sehari-hari, orang sering menyebut bilangan 0 (nol) dengan kosong (dan tidak pernah sebaliknya: kosong disebut nol).

Kesalahan seperti itu dapat dengan mudah ditemukan pada penyebutan nomor telepon. Pembawa acara (pewara) kuis televisi, misalnya, tak jarang ketika mengajak pemirsa/penonton agar ikut berpartisipasi dalam acara yang dibawakannya akan berkata, “Baik, line telepon (akan) kami buka di nomor kosong delapan kosong sembilan triple empat satu dua tiga.” Percayalah bahwa nomor telepon yang disebutkan itu adalah 0809444123.

Mengapa kesalahan itu terus terjadi? Ada dua jawaban yang mereka berikan. Pertama, sebagian dari mereka mengaku karena sudah biasa (banyak orang yang melakukannya) sehingga diyakini bukan sebuah kesalahan.

Kedua, sebagian lainnya mengaku karena kesulitan penyebutan/pelafalan; menyebutkan kata kosong lebih mudah daripada menyebutkan kata nol.

Dapatkah kedua alasan (jawaban) itu diterima? Tentu tidak. Kebiasaan orang dalam mengukur kebenaran dengan jumlah peserta/pengikut (yang banyak) justru harus diakhiri. Ukuran kebenaran adalah aturan/kaidah/norma, bukan yang lain. Korupsi, misalnya, tidak boleh dianggap benar karena (sudah) dilakukan oleh banyak orang.

Begitu pun alasan (jawaban) kedua. Karena belum (dapat) dibuktikan, pengakuan bahwa menyebutkan kata kosong lebih mudah daripada menyebutkan kata nol juga pantas diragukan kebenarannya.

Bukankah justru sebaliknya, menyebutkan kata nol (karena pendek) jauh lebih mudah daripada menyebutkan kata kosong?

Mungkin benar kata para pengamat bahasa bahwa pada umumnya orang Indonesia tidak kritis dalam berbahasa. Menurut Danardana, saat memberi sambutan pada acara pembukaan  Penyuluhan Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Kabupaten Kepulauan Meranti di Teluk Belitung, 18 Maret 2014, hal itu dapat dilihat pada kebiasaan orang dalam berbahasa sehari-hari.

“Orang yang tidak kritis dalam berbahasa itu, salah satu tandanya, adalah suka meniru dan/atau tidak kreatif. Mereka asal meniru, tak peduli yang ditirunya itu benar atau salah,” kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau itu.

Contohnya adalah kata merubah dan kita. Dua kata itu digunakan secara semena-mena oleh banyak orang: merubah ‘berubah wujud menjadi rubah’ digunakan untuk menggantikan mengubah (me + ubah, bukan me + rubah) dan kita digunakan untuk menggantikan kami, saya, bahkan kamu.

Celakanya, contoh yang salah seperti itu justru dipertontonkan oleh para pemuka masyarakat, orang-orang yang seharusnya menjadi anutan.

Contoh lain yang  diberikan Danardana pada sambutan yang sama adalah “tragedi” kata kudapan, makanan ringan/kecil, atau camilan.

Bukan semata-mata karena kata-kata itu telah tergusur oleh snack, melainkan karena penggusuran itu telah mengikis sensibilitas bangsa.

Bayangkan, sejak menggunakan snack tidak banyak lagi orang yang dapat menyebut jenis-jenis kue, seperti lemper, lopek bugi, dan kue lapis.

Semuanya disebutnya snack. Artinya, kepekaan/kemampuan orang dalam mengenal sesuatu secara detail (me)lemah.

Sejalan dengan hal itu, kini juga tidak banyak lagi orang yang dapat secara cermat menggunakan kata sebutan sehelai, selembar, seutas, sebutir, sebongkah, dan sejenisnya. Semua dipukul rata dengan satu sebutan: sebuah.

Lalu, bagaimana dengan kata nol dan kosong? Karena bersinonim pun tidak, sebaiknya kedua kata itu diperlakukan secara berbeda pula.

Bukankah dulu film James Bond, “007” itu, juga disebut/dilafalkan nol nol tujuh, bukan kosong kosong tujuh? Oleh karena itu, penghargaan justru pantas diberikan kepada petugas-petugas SPBU yang sudah berlabel “Pasti Pas”.

Umumnya, sebelum mengisikan bahan bakar ke tangki kendaraan, mereka sudah membiasakan diri dengan mengatakan, “Dimulai dari nol ya, Pak/Bu,” kepada pemilik kendaraan.

Terlepas dari kemungkinan bahwa kebiasaan itu diwajibkan oleh perusahaan, upaya mereka perlu mendapat apresiasi dan pantas ditiru.

Karena dianggap sama dengan kosong ‘tak berisi, hampa’, nol sering pula dianggap tidak memiliki fungsi apa pun sehingga diperlakukan secara suka-suka.

Dalam (urutan) penomoran peserta kegiatan, misalnya, kebanyakan orang menganggap sama antara 1, 01, dan 001. Padahal, 0 (nol) pada 01 mengasumsikan jumlah peserta puluhan (1—99), sedangkan pada 001 mengasumsikan jumlah peserta ratusan (1—999).

Bagaimana dengan nomor 1 (tanpa 0)? Tentu saja itu mengasumsikan juga bahwa jumlah pesertanya di bawah sepuluh (1—9).

Di salah satu kecamatan sebuah kabupaten di Riau terdapat SDN 006 .... Namun, setelah dicek ternyata jumlah SD negeri di daerah itu hanya 14. Lebih kacau lagi ada RT 002/RW 004 Kelurahan ....

Padahal, di RW itu hanya ada 7 RT dan di kelurahan itu hanya ada 6 RW. Hebat kan? Ternyata nol juga dapat digunakan untuk gagah-gagahan: seolah-olah ....

Akhirnya, hubungi saja kami di nomor (telepon) nol tujuh enam satu enam lima sembilan tiga nol (076165930) jika ada masalah kebahasaan (dan kesastraan tentunya) yang ingin ditanyakan.

Salam.

Yeni Maulina, Staf Teknis Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us