Rasa Cukup

27 April 2014 - 09.22 WIB > Dibaca 1682 kali | Komentar
 
Rasa Cukup
Suatu petang yang lengang di Kantor Bank Mandiri Syariah, Bekasi. Orang-orang sudah pulang. Seorang office boy bernama Agus Chaerudin dengan tekun membersihkan kantor yang masih berceceran kertas-kertas.

Saat ia akan membuang kertas-kertas itu ke dalam tong sampah ia melihat ada amplop berisi sesuatu. Saat diambil dan dibuka..dug..jantungnya berdegup keras.

Uang ratusan ribu terikat bergumpal-gumpal di dalam amplop tersebut. Di tempat sampah itu dia menemukan uang pecahan Rp100 ribu dalam 10 bundel.

Agus tak berani menyentuh uang itu, dia lalu memanggil Satpam. Satpam kemudian melaporkan kepada staf bank. Uang dihitung dan ada Rp100 juta. Uang itu bukan milik nasabah, tetapi milik bank.

Uang itu tercecer karena ketidakhati-hatian seorang teller. Kisah nyata ini terjadi dua tahun lalu.

Pria yang pernah jadi tukang parkir, tukang jamu, tukang cuci piring yang juga ayah 3 anak yang ketika itu masih tinggal bersama mertua ini bukan orang berkecukupan.

Agus mengaku orang tuanya selalu mengajarinya untuk tak menjadi pencuri. Kejujuran harus diutamakan.  

“Saya ingat wejangan orang tua. Jangan mencuri, orang jujur tak akan ketuker. Kalau intan dikubur di sebuah tanah tetap akan menjadi intan,” kata Agus dalam bincang ringannya dengan wartawan.

Agus mungkin bukan siapa-siapa. Tapi diam-diam ternyata dia mendambakan pemimpin yang seperti khalifah Umar bin Khattab.

Agus mengaku pernah membaca kisah Umar bin Khattab kala menjadi khalifah. Sahabat nabi itu amat mengutamakan kesederhanaan dan kejujuran.

“Khalifah Umar bahkan hanya mempunyai dua helai pakaian,”kata Agus sambil menitikkan air mata.

Yang dia kagumi, bahkan Umar tak mau memakai fasilitas negara kala berbicara dengan anaknya. Agus menukilkan kisah Umar yang memadamkan lampu ketika berbincang dengan anaknya.

Lampu dimatikan karena menggunakan uang negara, sedang berbicara dengan anak urusan pribadi. Mungkin bagi kebanyakan kita kisah ini aneh.

Sebab yang terjadi kebanyakan adalah kebalikan dari kisah ini. Korupsi misalnya bukan dilakukan orang miskin atau tak berkecukupan seperti Agus Chaerudin. Korupsi justru dilakukan oleh orang kaya yang tak pernah merasa cukup.

Sebagai contoh terbaru. Bos PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo ternyata pernah memberikan cek pelawat kepada mantan Menteri Kehutanan Malam Sambat Kaban senilai Rp 50 juta.

Hal itu disebutkan dalam dakwaan jaksa pada sidang perdana kasus korupsi proyek pengadaan revitalisasi Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Kementerian Kehutanan.

Masih menurut dakwaan itu, Anggoro memberikan cek pelawat setelah menerima pesan singkat dari Kaban pada 25 Februari 2008.

Saat itu, Anggoro menarik secara tunai uang Rp 50 juta di Bank Permata dan dibelikan cek pelawat. Proyek SKRT sebenarnya sudah dihentikan pada 2004 oleh Menhut yang kala itu dijabat M Prakoso. Namun, proyek tersebut dihidupkan kembali atas permintaan Anggoro semasa MS Kaban menjabat Menhut.

Anggoro diduga memberikan uang kepada 4 anggota Komisi IV DPR yang menangani sektor kehutanan. Mereka yakni Azwar Chesputra, Al-Amin Nur Nasution, Hilman Indra, dan Fachri Andi Leluas.

Komisi IV yang saat itu dipimpin Yusuf Emir Faisal pun mengeluarkan Surat Keputusan Rekomendasi untuk melanjutkan proyek SKRT. Disebutkan, dalam SK tersebut Komisi IV DPR meminta Departemen Kehutanan (sekarang Kemenhut) meneruskan proyek SKRT dan mengimbau agar menggunakan alat yang disediakan PT Masaro untuk pengadaan barang dalam proyek tersebut.

Yusuf Emir Faisal, Azwar, Al Amin, Hilman, maupun Fachri telah divonis pidana penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta. Kita tidak tahu akhir persidangan ini apakah mantan Menhut MS Kaban benar-benar tersangkut atau tidak. Intinya bukan itu.

Intinya betapapun banyaknya harta yang kita miliki ternyata belum tentu membuat hati kita menjadi kaya (merasa cukup). Pikiran adalah pabrik keinginan.

Satu keinginan terpenuhi lahir seribu keinginan lainnya. Begitu seterusnya. Seperti meminum air laut makin diminum makin haus.

Maka korupsi lahir dari keinginan yang tak pernah terkendali ini. Lalu apa yang bisa mengendalikan keinginan ini? Itulah yang disebut qonaah (rasa cukup).

Sifat ini diajarkan Rosulullah SAW kepada umatnya. Itulah yang coba diamalkan oleh Agus Chaerudin.

Kata orang bijak, jika ditakdirkan tidak kita temui sesuatu yang dicari di dunia ini, terimalah hakikat ia memang tidak ada. Di akhirat sana tempat ‘ada’ dan sempurna segala. Jika ‘langit’ hendak runtuh, masakan jari yang kecil ini mampu menahannya. Dalam setiap yang kita miliki, pasti ada jemu dan letihnya.

Dalam setiap yang kita tidak miliki, pasti ada kesal dan sayunya. Jangan terlalu dalam segalanya.

Jangan terlalu cinta, jangan terlalu benci. Jangan terlalu suka, jangan terlalu duka. Sederhana itulah yang selalu menyelamaktkan ‘hati’ kita.

Jika kita tak punya sifat qonaah maka kita akan muda dijangkiti penyakit serakah. Dan fakta  telah banyak menunjukkan mereka-mereka yang mulanya dimuliakan oleh pangkat, akhirnya dihinakan oleh keserakahan yang dilakukan.***


Helfizon Assyafei
Wapemred Riau Pos.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us