Manuskrip Riau Makin Terabaikan

4 Mai 2014 - 10.17 WIB > Dibaca 1165 kali | Komentar
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Di Riau khususnya sebenarnya sudah lama menganggap artefak kebudayaan itu penting. Sudah lama manuskrip, benda-benda cagar budaya dan penanda-penanda budaya itu dianggap suatu hal yang perlu dilestarikan. Tapi sudah lama juga hal itu hanya sebatas wacana, secara praktiknya hampir tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan betapa pentingnya itu.

Menurut Ketua Harian Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Al Azhar ada dua pihak sebenarnya yang diharapkan dalam hal terkait dengan pernaskahan yaitu pemerintah dan. para peneliti, para pekerja, para aktifis dan para ilmuan. Nah ini saya perhatikan tidak pernah berjalan seiring. Pemerintah asyik dengan dirinya, sementara para pengkaji dan aktifis kebudayaan asyik memelihara ingatan terhadap keadaan artefak yang makin merana itu dan ini tidak pernah bertemu. Dua pihak yang diharapkan berdiri di garda terdepan itu, tidak pernah satu tindakan, kata salah seorang budayawan Riau tersebut.

Manuskrip Melayu itu kemudian akan menjadi isu penting bagi pemerintah Indonesia pada umumnya manakala naskah itu terbukti kemudian dibawa orang ke luar teritorial Indonesia. Ketika benda itu sudah lepas ke tangan orang laiin, barulah ada teriakan. Tapi jarang sekali terdengar, argumen mengapa itu dianggap penting ketika naskah sudah pindah ke negara lain.

Atau barangkali pemerintah menggangap penting karena mereka merasa harga diri dan marwah itu hanya ditempatkan kepada kepemilikan saja bukan kepada bagaiman milik kita itu diurus. Pememrintah kita sangat kemaruk ingin memiliki tapi di lain pihak ketika sudah dimiliki, tidak pernah mau mengurusnya. Itu yang terlihat pada politik kebudayaan Indonesia pasca ordebaru. Itu terlihat di pusat dan juga berlaku di daerah, jelas Al Azhar.

Akhirnya nasib naskah-naskah tersebut hanya bergantung pada minat komunitas-komuntias tertentu, pada sejumlah anak muda, seniman ,sasatrawan, akademisi, organisasi budaya yang bisa dikatakan kemampuan atau daya pertahanannya tidak seberapa untuk katakanlah bukan hanya sekedar mempertahakannya tetapi juga untuk membeirkannya makna baru apalagi untuk membuat kembali berkilau seperti sebelumnya.

Manuskrip itu kemudian dikatakan Al Azhar dipekikkan oleh semua kalangan akan begitu pentingnya untuk diselamatkan disebabkan begitu berharganya naskah tersebut pada masanya tapi sebaliknya hari ini dapat dilihat kondisi naskah-naskah tua tersebut begitu parah dan terabaikan. Nah, saya punya beberapa teman dari luar yang ketika meilhat langsung kondisi yang terjadi, mereka tidak mengatakan apa-apa tapi kerut keningnya mengisyaratkan keprihatinan melihat sisa-sisa kagungan masa lampau, sisa kaitifats kebudayaan masa lampu terbiar dan kita tidak sadar bahwa naskah yang sudah rapuh di museum atau di mana saja, secara langsung maupun tidak, mencerminkan sudah lapuknya kebudaaan Melayu. orang tidak banyak meyadari hal itu. Di lain pihak, kita berteriak juga, menzikirkan Melayu tapi kenyataanya lihatlah sendiri, kata Al azhar.

Harus ada upaya tekhnis untuk mengekalkan manuskrip Melayu Riau baik sebagai benda tantibel atau benda yang tampak tetapi kemudian yang tak kalah pentingnya adalah upaya penyelamatan di luar penyelamatan tekhnis, yaitu upaya mengkajinya, membangunkan nya dari tidurnya yang lelap itu agar bangkit dan kemudian memberikan ilham bagi persoalan,  isu-isu dan harapan-harapan di hari ini, dan itu hanya bisa dilakukan dengan mengkaji, kata Al azhar.

Selain itu, penting juga memberikan peluang dan membela komunitas yang selama ini mendekati naskah tersebut dengan rasa empati yang tinggi dan memasuki wilayah pengkajian untuk memberikan dan menemukan makna masa kini dari apa yang terkandung dalam manuskrip. Artinya lembaga pengkajian terhadap naskah dan benda budaya harus ditolong dan dibantu mengatasi kekurangannya dan kita tidak bisa mengatkan hanya uang tapi juga peluang bagi anak muda seruap ini untuk memperoleh ilmu yang lebih dalam agar mampu memberikan makna kini yang lebih signifikan, lebih kuat suaranya dibandingkan yang sebelumnya, kata Al ahar.

Ditambahkan Al azhar, keberadaan manuskrip Melayu itu seperit mitos karena di Riau sendiri hampir tidak ada penerbitan edisi-edisi atas naskah yang sudah atau pernah diterjemahkan oleh beberapa orang. Kajian yang sudah dilakukan hanya tersimpan di rak-rak perpustakaan, tidak pernah diterbitkan sehingga orang awam tidak punya peluang yang leluasa untuk memperolah hasil-hasil kajian itu. Disinilah dapat dibuktikan peranan pemerintah dalam membangun jembatan antara apa-apa yang diproduksi peneliti dengan khalyak itu tidak jalan. Pemerintah hanya berhasil membangun jembatan kongkrit tetapi jembatan pengetahuan dan kebudayaan, hasilnya nol.

Padahal keberadaan Sumber Daya Manusia terkait dengan ilmu pernaskahan itu di Riau ini meskipun tidak banyak tetapi ada. Hanya saja selama ini terserak karena mereka tidak diberi perhatian apapun, tidak mendapatkan jembatan apa pun. Al Azhar yakin, jika sekiranya ada kepedulian pemerintah untuk membagun jembatan pengetahuan yang dimaksud, mereka yang  selama ini surut di tempat sunyi akan datang lagi. Saya katakan juga, yang pergi ke tempat sunyi itu bukan merajuk tapi terus bekerja.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us