Manuskrip Melayu Riau, Nasibmu Kini

4 Mai 2014 - 10.17 WIB > Dibaca 1982 kali | Komentar
 
Manuskrip Melayu menjadi bukti dan lambang kebijakan dan kejeniusan para cendikiawan Melayu dahulu. Kegiatan kepenulisan dan hasilnya dalam bentuk manuskrip atau naskah-naskah kuno tersebut seharusnya menjadi warisan ilmu pengetahuan mengenai suatu perkara kepada generasi muda Melayu hari ini dan mendatang.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

NASKAH-naskah kuno di Riau tersebar di daerah-daerah seperti Kampar, Siak, Rokan Hulu dan lainya. Bidang kepenulisan yang diketengahkan dari naskah tersebut meliputi ilmu-ilmu keagamaan yang meliputi tajwid, akhlak, tasawuf dan sejarah. Sedangkan di bidang tradisi, meliputi hikayat, peraturan perundang-undangan, bahasa dan sastra, serta ilmu tabib Melayu Riau.

Namun sangat disayangkan keberadaan manuskrip Melayu di Riau khususnya, masih dalam kondisi sangat memprihatinkan. Kebanyakan dari naskah yang terhimpun baik di tangan intitusi maupun masih di tangan masyarakat, semuanya tidak terjaga dan tidak terawat dengan baik. Naskah-naskah tersebut sudah sejak lama menjadi benda mati yang belum mampu memberikan nilai-nilai di masa sekarang ini. Bahkan ditemukan ada banyak sekali naskah-naskah kuno Melayu Riau yang akhirnya lepas ke tangan para mafia (kolektor) ke luar negeri.

Mantan Kepala Museum Sang Nila Utama, Yoserizal Zen yang saat ini menjabat sebagai Ka Biro Humas Pemrov Riau menceritakan, pernah satu ketika, pihak museum menemui naskah satu peti di suatu daerah. Namun sayangnya, ketika dicek lagi satu bulan ke depan, setelah berupaya mengajukan anggaran dana bantuan di DPRD dan proses lainnya. Ternyata naskah tersebut sudah dibeli oleh orang asing.

Porses kita inikan memang seperti itu, memakan waktu lama, sementara para mafia koleksi itu punya uang yang banyak, begitu jumpa langsung beli, kenang Yoserizal beberapa waktu lalu.

Sementara itu, manuskrip yang ada di museum juga mengalami hal yang serupa. Sebanyak 60 lebih naskah kuno Melayu Riau terpajang di sebuah lemari kaca dalam ruangan kepala museum. Naskah tersebut tidak dipajangkan di ruang pameran induk karena kondisinya sangat memprihatinkan yang juga dikhawatirkan akan rusak apabila dipajangkan begitu saja tanpa ada perawatan dan pengamanan yang memadai.

Kata Yoserizal, sampai saat ini, museum tidak punya alat khusus untuk merawat dan menyimpan naskah-naskah tersebut. Itulah sebabnya kesemua naskah di simpan di dalam lemari kaca dengan perawatan sederhana dan secara tardisional dengan diberi arang dan kopi.

Akibat keprihatinan itulah,  kita tidak memajang naskah di ruang pameran induk alasannya takut rusak. Makanya dibawa kemari, terlebih lagi kita tidak punya pengamanan yang bagus untuk menjaga koleksi yang ada di museum ini, semuanya serba terbatas, kata Yoserizal sembari menambahkan pihak museum sebenarnya sudah mengajukan keperluan itu semua kepada pemerintah namun belum terpenuhi.

Kesemua naskah itu, dikatakan Yose tinggal menunggu waktu saja untuk hancur seperti beberapa naskah yang sudah mulai menunjukkan hal itu. Naskah dari daun lontar misalnya, tampak di dalam lemari kaca empat tingkat itu, sisi ke dua ujungnya mulai melapuk. Hal itu diakibarkan tingkat keasaman di Riau ini bisa menghancurkan tengkorak manusia apalagi kertas atau daun-daunan dan kulit kayu seperti bahan-bahan naskah tersebut.

Kondisi seperti ini sebenarnya juga diakibatkan kurangnya sumber daya manusia di Riau. kurangnya filolog yaitu orang yang paham tentang naskah dan manuskrip. Orang yang tahu tidak hanya tentang arti dan makna yang terkandung di dalam sebuah naskah akan tetapi juga tahu tentang bagaimana merawat manuskrip.

Namun demikian, upaya-upaya lain juga tetap dilakukan pihak museum. Misalnya dengan melakukan proses komputerisasi. Artinya kesemua naskah yang ada setelah dipotret, dimasukkan ke dalam CD dalam bentuk file. Jadi bagi sesiapa, baik dari kalangan peneliti, mahaiswa, siswa yang memerlukan, tinggal melihat CD di komputer. Usaha lainnya seperti yang dikatakan Yose, tahun lalu (tahun 2013 res) dilakukan perawatan naskah tapi dengan jumlah yang terbatas. Tempatnya di Jakarta, di Pusat Arsip Nasional, di sanalah beberapa naskah dirawat dengan cara laminating dan sebagainya tetapi tidak bisa banyak, sistemnya bergilir, masih banyak museum di Indonesia ini yang juga mau merwat manuskrip, jadi kita pun harus menunggu giliran,jelas Yoserizal lagi seraya menambahkan perawatan yang bagus itu adalah program digitalisasi dalam bentuk ebook.

Pentingnya mengetahui dan mempelajari manuskrip Melayu disebutkan salah seorang peneliti asal Belanda, Gijs L Koster yang banyak meneliti pernaskahan Melayu yaitu untuk mengetahui identitas puaknya. Katanya yang penting untuk setiap manusia itu adalah identitasnya. Hal itu terkait dengan pertanyaan siapa saya, siapa orang tua, siapa nenek moyangnya dan Bagaimana pula pengalaman mereka. Nah, itulah mengartikan bahwa sejarah misalnya atau pengalaman yang tertuang dari karya sastra lama. Memang kita bisa hidup berbahagia dengan ekonomi yang sudah berfungsi dengan mulus tapi kalau identitas kita sendiri tidak diketahui, ini akan menjadi hal yang menurut saya tidak lucu juga, jelas dosen dari Universitas do Minho Portugal tersebut dalam sebuah pelatihan pernaskahan yang ditaja Manassa Riau beberapa waktu lalu di Lembaga Adat Melayu Riau.

Sebagai makhluk sosial, sudah seharusnya tatkala ada keraguan dengan identitas diri sendiri kemudian menyiapkan jawaban-jawaban akan hal itu. Gijs L Koster mengatakan setiap manusia, contohnya orang Riau pergi ke luar negeri, pastilah akan merasakan orang di luar negeri itu bukan bagian dari masyarakatnya secara kultural, Setiap kita juga pasti ingin mampu menjelaskan bahwa inilah saya, inilah identitas saya. Itu sangat penting, misalnya walaupun saya sedikit banyak tahu tentang orang Melayu. Tapi intinya saya tetaplah orang Belanda dan tidak pernah akan berubah karena saya lahir dan besar di sana. Jadi untuk manusia bisa berbahagia saya kira tidak cukup hanya dengan kamapanan secara ekonomi, ucap Koster yang pasih degan bahasa Indoensia itu.

Ditegaskannya juga bagi orang Belanda dan setiap manusia, ingatan kultural atau kebudayaan sangat penting dalam pengambilan keputusan termasuk keputusan ekonomi. Jadi ada baiknya kita jangan remeh temehkan kebudayaan sebagai satu permainan pinggiran yang biasa kalau perlu marilah kita buang sedikit uang untuk kegiatan itu. Tapi itu pandangan peribadi saya, jelas Koster tegas.

Gijs L Koster menceritakan awal pertemuannya dengan manuskrip Melayu diawali dengan pembacaan atas syair Ken Tambuhan dan cerita Panji Melayu. Baginya, manuskrip tersebut bersifat liris dan masalah penting didalamnya adalah kisah percintaan, dan perasaan emosi para watak lebih dari pada aksi. Bersama dengan rekan yang lain, Koster berusaha menterjemahkan keseluruhan teks tersebut sehingga akhirnya diterbitkan oleh penerbit yang besar di Belanda dan diterima oleh rekan-rekannya di Riau.

Dari hasil kajiannya itu kemudian Koster menjadi tahu sedikit banyaknya tentang seluk beluk kebudayaan Melayu dan juga menyimpulkan bahwa manuskrip-manuskrip Melayu dalam bentuk sastra sangat dekat dengan bentuk sastra Eropa abad pertengahan atau sekitar abad ke 14 yang menggambarkan sistem naratifitas. Selain dari pada itu, guru terbaik adalah teks itu sendiri. Seperti yang dijelaskan Koster kemudian bahwa teks itu banyak memberi petunjuk kalau dibaca dengan teliti. Banyak nilai-nilai yang ditemukan terkait dengan sikap, pengalaman masyarakat Melayu dalam proses pembacaan saya terhadap manuskrip tersebut. artinya, hal ini menjlaskan kalau igin tahu tentang suatu bangsa, tentang pemikiran, antara lain caranya adalah pembacaan dalam sastra mereka. Itulah memang satu cara memasuki dunia itu yang mugkin masih asing, katanya lagi.

Lalu kemudian hal penting lainnya saat ini perlu diperhatikan sebagai peneliti bukan saja keberadaan naskah-naskah lama saja. Membaca juga sudah menjadi sebagai suatu kelaziman yang teracncam mati yang diakobatan televisi, media sosial. Koster menyikapi hal itu dengan mengatakan hanya bisa berkata dan menasehatkan kepada sesiapa yang mempunyai ambisi dalan hal mempelajari pernaskahan supaya mengansingkan diri dari dunia.Sebaiknya menutup dan mengunci pintu di dalam kamar dan membuang kunci, itulah caranya. Isolasi kadangkala penting untuk kualitas, kalau tidak perhatian kita akan tersebar kemana-mana dan akhirnya tak ada hasil, katanya.

Sebagai pecinta manuskrip, Koster memiliki impian bagaimana sastra Melayu lama sebagai benda museuman menjadi sesuatu yang hidup lagi, masalahnya ialah, dia tidak tahu apakah impian dan usahanya hanya bisa menghidupkan teks untuk dirinya sendiri dan apakah pembaca bisa mengikutinya dalam kegiatan yang sama karena menurut  Koster, kalau pembaca tidak membaca tentu saja hasilnya nol koma nol. Disinilah saya kira tugas peneliti muda yakni memberi makna kekinian, memberi makna seuatu yang dianggap sudah menjadi barang museum. Terus terang saya memperhatikan, yang menajdi masalah saat ini adalah generasi muda kita selalu digodai oleh media ini dan media itu.

Kalau ada sesuatu yang ingin mereka kenali hanya dengan cara melihat Google. Akibatnya tidak baik untuk kegiatan serupa penelitian dan pengkajian. Jadi mereka semacam komputer yang  tak ada kata kunci untuk mencari sesuatu. Jadi yang perlu digalakkan adalah keinginan untuk membaca. Kalau kebiasaan itu tidak dimasyarakatkan, semua usaha akan sia-sia belaka. Meskipun saya tidak bisa memastikan apakah media sekarang ini merupakan suatu masalah besar untuk ilmu pengetahuan karena saya sudah orang tua, saya sudah dinosaurus jadi jangan terlau dengar cakap-cakap saya. guraunya. (fed)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us