Monumen

4 Mai 2014 - 10.22 WIB > Dibaca 2419 kali | Komentar
 
Monumen
Monumen ‘bangunan atau tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting dan karena itu dipelihara dan dilindungi negara’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2008:928), pada kenyataannya, tidak hanya dapat menjadi pengingat (memorial), tetapi juga sering menjadi kebanggaan. Bahkan, monumen juga sering menjadi ciri khas (landmark) sebuah kota/negara tertentu. Monas, misalnya, menjadi ciri khas kotaJakarta. Begitu pun Patung Liberty, Menara Eifel, Lapangan Merah, Piramida, Tembok Besar Tiongkok, dan Kabah, masing-masing, mengingatkan orang pada kota New York (USA), Paris (Perancis), Moskow (Rusia), Kairo (Mesir), Tiongkok (Cina),dan Mekah (Arab).

Meskipun dapat menjadi pengingat (memorial), kebanggaan, bahkan ciri khas sebuah kota/negara, monumen juga sering menimbulkan kontroversi: perbalahan antara yang pro dan yang kontra. Bagi yang pro, keberadaannya sangat dipuja-puji. Sebaliknya, bagi yang kontra, keberadaannya akan dicaci-maki. Itulah sebabnya, untuk membuat/mendirikan monumen, dibutuhkan kajian yang komprehensif.

Salah satu aspek penting dalam membuat/mendirikan monumen adalah nama. Sekalipun Shakespeare (melalui Juliet dalam lakon Romeo and Juliet) mengatakan, “Apalah arti sebuah nama,” bagi banyak orang (muslim utamanya), nama adalah doa. Nama merupakan sumber energi bagi setiap orang. Bahkan, menurut ahli metafisika (Arkand Bodhana Zeshaprajna, doktor dari University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat), melalui nama itulah obyek dikenal dan kekuatan laten dalam nama itu diaktifkan. Sebaliknya, jika obyek tidak dinamai, obyek itu tidak memiliki kekuatan. Oleh karena itu, nama memiliki kekuatan lebih besar daripada obyek yang dinamai (Tempo, 18 Februari 2014). Nama Amir, Suharto, dan Naratungga, misalnya, termaktub harapan (doa) agar (kelak) penyandangnya menjadi pemimpin, kaya, dan terpilih. Ketiga nama itu, bahkan, juga dapat merujuk pada identitas/jati diri: Amir (Islam), Suharto (Jawa), dan Naratungga (Indonesia).

Pada 25 April 2014 lalu Riau Pos memuat berita tentang keinginan Pemprov Riau untuk menggesa renovasi Wisma Riau yang ada di Jakarta. Konon, gedung baru 32 lantai (hasil renovasi, yang sekarang ini proses pembangunannya sudah dalam tahap pelelangan) itu nanti akan (di)ber(i)nama Riau Tower.

Jika berita itu benar, pengubahan nama (dari Wisma Riau menjadi Riau Tower, alih-alih Menara Riau) itu tentu pantas disayangkan karena gedung itu seharusnya (dapat) menjadi monumen kebanggaan masyarakat Riau di tanah rantau (Jakarta). Di samping dapat mengurangi kemegahan bangunan (yang mungkin sudah dirancang bernuansa Melayu), penggunaan kata asing: tower itu juga bertentangan dengan visi untuk menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu. Hal itu sekaligus memperlihatkan kebenaran pendapat bahwa pemujaan berlebihan terhadap segala sesuatu yang berbau asing sedang menghegemoni sebagian besar bangsa Indonesia. Sebagai akibatnya, bangsa ini pun mulai kehilangan kedaulatan dan jati diri. Tidak hanya itu, sejak badai krisis moneter menerjang dan isu globalisasi bergulir belasan tahun lalu, Indonesia bahkan benar-benar luluh lantak, kehilangan orientasi. Tanpa disadari, tiba-tiba rakyat Indonesia banyak yang mengidap penyakit fobia (rasa takut yang berlebihan) untuk sekadar mengakui (apalagi membanggakan) barang miliknya sendiri, tak terkecuali bahasanya.

Tradisi/kebiasaan pemberian nama dengan bahasa/kata/tokoh khas Melayu (sebagai jati diri Riau) sebenarnya sudah terjadi di Pekanbaru. Di sepanjang Jalan Sudirman, misalnya, terdapat (bandar seni) Raja Ali Haji, (gedung teater) Idrus Tintin, (museum) Sang Nila Utama, (perpustakaan) Suman Hs., dan dulu (gedung pertemuan) Dang Merdu. Namun, entah apa sebabnya, tradisi itu hilang dan berganti dengan tradisi “berasing ria”. Puncaknya, terlihat ketika Riau menggelar PON XVIII pada 2012 lalu. Momentum yang seharusnya dapat dijadikan ajang promosi untuk menunjukkan jati diri (Melayu) itu justru menyisakan “duka”. Hingga kini nama beberapa arena/gelanggang, seperti renang, menembak, dayung, dan wushu, masih terpampang gagah, bersanding dengan bahasa asing (Inggris): venue. Bahkan, pengelola bandara (Angkasa Pura) pun ikut-ikutan mengubah nama: dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II menjadi Sultan Syarif Kasim II Int’l Airport. Bersyukurlah, stadion sepak bola di kompleks Universitas Riau (yang sekarang terbengkalai itu) telah berlabel Stadion Utama Riau, bukan Main Stadium (sebagaimana yang diniatkan semula).

Sesungguhnya, mengutamakan penggunaan bahasa Melayu/Indonesia di atas bahasa asing mencerminkan pandangan hidup dan sikap budaya masyarakat. Sikap seperti itulah yang akan membuat bangsa Indonesia berdiri tegak di dunia ini dengan tetap dapat mengaku sebagai bangsa yang berdaulat, menjadi tuan di tanahnya sendiri, karena mampu menggunakan bahasa nasionalnya sendiri untuk semua keperluan modern.Untuk penamaan kawasan dan bangunan, misalnya, bahasa Indonesia memiliki segudang kosakata: pondok, wisma, gedung, menara, mercu, pura(i), taman, bustan, wastu, grama, dsb. Begitu pun kosakata/istilah lainnya telah terhimpun dalam Glosarium Bidang Ilmu (1—6), di samping KBBI.

Globalisasi tidak hanya melanda Indonesia. Seluruh kawasan di dunia ini tidak ada yang tidak terkena arus globalisasi. Namun, negara-negara yang rakyatnya tidak berbahasa Inggris (seperti Jerman, Perancis, Italia, Jepang, Cina, dan Korea) tidak mengalami proses penginggrisan yang memprihatinkan seperti Indonesia.

Begitulah, bahasa Melayu (Riau), sebagai unsur utama pembentuk kebudayaan Melayu, belum (jika tidak boleh dikatakan: tidak) mendapat perhatian serius. Alih-alih membuat aturan (perda/pergub) tentang penggunaan bahasa Melayu, melaksanakan undang-undang/aturan tentang bahasa yang sudah ada pun belum dilakukan oleh Pemprov Riau. Perlu diketahui bahwa, setidaknya, telah diundangkan dua aturan tentang bahasa, yaitu UU Nomor 24 Tahun 2009 (tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan) dan Permendagri Nomor 40 Tahun 2007 (tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah). Sebagai akibatnya, karut-marut berbahasa pun terjadi. Masyarakat berbahasa secara suka-suka. Mereka (terutama pendatang) cenderung menggunakan bahasa daerah asalnya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pun di ruang-ruang publik dan di media massa terlihat penggunaan bahasa asing (terutama Inggris) semakin merajalela.
Salam.


Agus Sri Danardana
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us