Kematian Udin Sitol, dan Sahak Harahap

4 Mai 2014 - 10.27 WIB > Dibaca 1851 kali | Komentar
 
 TAR ! Tiba-tiba saja menyelusup suara letusan meletup, meledak menyeruak malam. Meski belum begitu larut, Paritsentosa, dusun Sungaidurian telah disergap gelap gulita. Kebanyakan rumah, cuma diterangi temaram cahaya pelita. Hanya beberapa rumah saja yang benderang oleh cahaya listrik yang dinyalakan dengan tenaga genset.  Listrik dari PLN padam, karena digilir lat hari. Menyalanya pun sejak pukul lima petang hingga tujuh pagi, tidak sepanjang hari sebagaimana di kota-kota.

Entah apa yang meledak, belum ada yang dapat menebak. Meski cuma sekali, sejenak dentum letusan pada Jumat malam, 29 Muharom l428, itu sungguh mengejutkan. Juga mengecutkan hati menjadi ciut.

Utih Bodeng yang berjalan pulang, usai mengajar mengaji di masjid, terkelenjat seketika. Arah letusan itu tepat dari halaman rumah di samping kanan jalan yang dilaluinya. Refleks dia meletik, melompat ke balik batang embacang yang tumbuh rimbun di susur-rajab pekarangan. Seolah ada yang menyuruh,  dia duduk mencangkung menyuruk di situ sembunyi bagai menghindari incaran dan kejaran musuh. Hatinya bergemuruh rusuh.

Orang-orang yang asyik bermain batulacak, dan yang berbual-bual, serta yang menon-ton siaran televisi di kedai yang terletak di sisi lebuh raya, serempak menganingkan telinga mendengar letusan itu. Mereka seolah menanti ada atau tidak lagi, letusan susulan.

Itam Nuar yang punya kedai, menggelompar keluar. Terkejut. Tapi langkahnya terhenti di depan pintu kedai, karena tak ada lagi bunyi letusan.  Anjang Bidin dan Yusuf Comel yang tak ikut bermain, mengelihkan pandangan ke alur jalan poros. Mereka yang belacak tetap bermain, tak peduli.

Suara apa itu ? Apa yang meletus berdentam, tu...?! seseorang bertanya  sekadarnya entah kepada siapa. Ha.... senyap. Sekali letus cuma, ucapnya pula.

Ah, mungkin ban honda pecah, jawab Pak Andak Syam sekenanya. Matanya ke batu-lacak yang masih bersisa tiga, yang bersusun di hadapannya.

Mungkinlah. Tadi memang ada tiga honda yang beriringan lewat. Mereka menduas, bergegas tanpa mengelih memandang, kata Mok Ludin yang juga tak ikut bermain.

Mereka, lazim menyebut semua sepeda motor, honda, apa pun mereknya.

Tampaknya terburu-buru, seperti ada sesuatu, tambah Yusuf Comel.

Biar sajalah. Kalau ban hondanya yang meletus, tentu ke sini kelegi menggantinya, kata Ngah Wahab mandan main Pak Andak Syam.

Mudah jugalah rezeki engkau, Suf. Bertambah rezeki, cepat pula engkau menikah, kata Pak Alang Keta yang main bermandan dengan Pak Kuneng Seman,  bercanda menyindir.

1
Yusuf Comel memang membuka bengkel, di samping kedai sampah milik Itam Nuar itu. Kedai di tepi jalan raya yang melintasi dusun itu, lebih besar dan lebih lengkap barang dagangannya  jika dibandingkan dengan  kedai lainnya. Selasarnya lapang, selesa untuk duduk-duduk berbual atau sekedar menonton televisi. Meja bermain lacaknya pun ada dua - bahkan jika ramai ditambah pula meja di depan bengekl Yusuf comel.  Malam hari,  memang selalu ramai dikunjungi  tua dan muda. Kadang-kadang, meski bengkel dah tutup, ada saja yang datang menambalkan ban atau yang mengganti businya yang mati api.

Jalan raya itupun, satu-satunya penghubung kecamatan ke antar kabupaten dan antar propinsi.  Lebih  kurang sepuluh tahun terakhir ini jalur transportasi darat terbuka. Sebelum-nya melalui jalur sungai Batanggangsal. Sayang, jalannya diaspal dan dibangun asal jadi, pa-dahal di daerah rawa bergambut. Akibanya,  telah banyak bagian jalan yang rusak melesak dan berubang. Jika hujan mengguyur, di beberapa bagian bagai kubangan kerbau.

Suasana Paritsentosa dan daerah sekitarnya relatif aman, karena dihuni orang yang ada hubungan kekerabatan dekat dan jauh. Pendatang dapat dihitung dengan jari, dan telah diang-gap pula seperti famili. Jarang terjadi peristiwa menghebohkan seperti pencurian, perampok-an, atau pembunuhan. Bunyi letusan tadi tidaklah menjadi perhatian nian. Tidak pula dicuri-gai sebagai sumber petaka. Mereka tak hendak menduga-duga apa gerangan yang terjadi.

***

Tak ada honda yang datang, Suf, kata Kuneng Seman sambil mengocok batulacak. Alamat bakal lambat juga kau berbini guraunya.

Yusuf Comel yang belum juga menikah, meski umurnya telah lebih tiga puluh itu, memang kerap jadi bahan canda dan olok-olokan. Tapi Yusuf cuma tersenyum-senyum saja menanggapi. Dia tak marah, walau terasa sedikit jengah.

Tiga honda yang lewat tadi? tanya Ngah Wahab .

Ya, Ngah. Tiga .., dan tergesa-gesa, jawab Yusuf Comel.

Siapa mereka ? tanya Pak Kuneng Seman pula ingin tahu.

Entahlah. Tapi pensen polisi, Mok Ludin pula yang menjawab.

Polisi ?! Tanya Pak Andak Syam agak penasaran ingin memastikan.

Ya. Mereka berlima. Dua honda berboncengan. Satu lagi sensorang, ujar Yusuf pula.

Nak kemana mereka malam-malam begini ? Pak Andak Syam bertanya tak bertanya. Bergegas, dan berlima , ucapnya bergumam.

Mungkin ke Pulaukijang, Pak Andak. Tapi entahlah Mereka tak melapor kepada saya, ujar Mok Ludin  sedikit bercanda.

Ah, Pulaukijang! Pulaukijang ! Pak Andak Syam bergumam seperti geram.

Teringat kembali oleh orangtua itu yang dialami Udin Sitol tiga belas bulan yang lalu. Gara-gara dirampok, terpaksalah anak sepupunya itu kembali ke kampung. Padahal, usaha di Pulaukijang telah mengangkat hidupnya yang melarat menjadi lebih dari sekedar berkecukupan. Dah dapat bersaing hidup dengan orang. Beberapa hektar kebun limau di Sungaidungun dan di  kampungnya,  ratusan jalur kebun kelapa selain di Paritsentosa - juga di Sungaidurian, dan di Sungaibulan (Paritiman) dah dapat dibeli. Kini terpaksa pula kebun-kebun yang dulu diupahkan atau dipekarunpeduakan diurus sendiri. Usaha di Pulaukijang terhenti. Rumah dan harta bendanya di situ terpaksa dijual semuanya. Harga jualnya tentulah sedikit miring. Udin trauma nian dengan kejadian yang dialaminya. Menjejak Pulaukijangpun kini, dia tak sudi lagi.

***

 Tar ! suara letusan kedua menggelegar hingar. Tunggal. Berdentam membelah malam. Semua yang berada di kedai Itam Nuar, sejenak diam terperangah.

Ha, letusan lagi ! seru Busu Limin, yang bermain lacak di meja di  depan bengkel.

Bunyinya lain , kata Bujang Jongang mandan mainnya. Tak seperti bunyi ban meletus . ujarnya pula.

Ya...! Apa agaknya yang meledak? Endek Fadil, mandan main Unggal Jalal yang semeja Busu Limin, tertanya heran.

Serupa bunyi tembakan senapang, kata Bujang Jongang pula menduga. Ya. Tak salah lagi. Itu pastilah bunyi senapang atau pistol, ucapnya pula yakin.

Jangan-jangan polisi-polisi yang lewat tadi! ucap Ngah Wahab sangsi menduga.

Pak Garang Pian, yang tegak di samping Pak Andak Syam di meja di selasar kedai, menyela pula menduga-duga.

Mungkinlah, agaknya.

Ha, gawat, kalau iya, ucap Nusi Kacak lawan mainnya yang bermandan dengan Pak Alang Keta, agak cemas dengan suara keras.

Apa yang gawat, Si ? tanya Pak Andak Syam yang mendengar selintas teriak kecemasan Nusi itu.

Mana tahu sememang polisi itu yang menembakkan senjatanya... jawab Nusi Kacak juga mengagak-agak.
 
Ah, pung mike, jangan nak menduga yang macam-macamlah. Jangan nak merapik...! seru Pak Andak Syam sambil menghempaskan batu lacak giliran turunnya ke meja. 

Bersamaan dengan hempasan batulacak Pak Andak Syam itu, terdegar pula dua letusan berdentum beruntun. Pak Alang Keta yang hendak menurunkan batu, tertahan tangannya. Pak Kuneng Seman ternganga melongo.

Tar ! Tar ! Membahana suara letusannya ke angkasa.

Tanpa sadar. tiba-tiba batulacak yang ada di  meja dikuiskan Pak Alang Keta bersama satu batu yang ada di tangannya,  hingga tercampak berserakan ke bawah.

Tak iya, ni , ucapnya sembari tegak berdiri. Ini bukan lagi bunyi ban honda meletus. Ada yang menembakkan senjata, Andak Syam serunya kepada orang yang dituakan di dusun itu.

Permainan terhenti. Pak Andak Syam melangkah ke jalan. Seperti dikomando, semua orang yang ada di kedai serempak bergerak tegak. Mereka segera berhamburan ke lebuhraya mengikutkan Pak Andak Syam. Itam Nuar pun turut pula keluar sambil terereh menggulung kemban kain pelekatnya. Bininya Antin Nuriyah keluar pula terburu-buru sambil mengepak anaknya yang menyusu Tak disadarinya payudaranya tampak terjelir keluar.

Mereka beterepih menganingkan telinga, dan mengarahkan mata hendak mengetahui dari mana asal letusan itu. Masing-masing bertanya di dalam hati, bahkan ada yang mengerenyitkan kening karena saking ingin taunya.

Tiba-tiba...

Taaar rrrr rrr ! satu letusan lagi mendesing nyaring membelah hening. Suaranya bersiponggang lantang. Orang-orang yang berterepihan di lebuh raya di depan kedai Itam Nuar itu saling pandang.

Semua terkesima. Tercagak tegak terperangah. Hati mereka getir, saling berpandangan tertanya-tanya khawatir. Telah lima kali  letusan terdengar menggelegar. Mereka tak sak lagi, bahwa letusan yang menyeruak itu tembakan senjata api. Jika semula semua mereka tak was-was,  kini mereka semua cemas. Tak ada yang berani bersuara. Semua diam, menanti kalau-kalau ada bunyi letusan lagi.

Sunyi.

Bunyi letusan lenyap disekap kelam malam. Tak ada letusan susulan. Tapi kesenyapan itu justru kian memerangkap hati mereka kian tersergap. Apakah gerangan yang sedang terjadi di dusun mereka kini?

Lama, tak juga ada letusan.

Dimana agaknya letusan itu ? tanya Pak Andak Syam entah kepada siapa mengorak kesunyian. Tapi tak ada yang berani menjawab. Tak ada yang berani menduga-duga.
Dari mana, ha ?! Tanyanya pula dengan suara lebih lantang agak geram.

Agak-agaknya dari arah rumah Udin, Ude Musa mencoba menjawab.

Udin mana ? Long Satar pula yang bertanya.

Ya, Udin mana? Udin Kederi? Udin Asip? Atau Udin Sitol. Jangan diagak-agak saja. Telinga tuaku ini tak mampu mengetahui darimana arahnya, ucap Pak Andak Syam merutuk.

Dari arah mana menurut penganingan telinga Ude ? Tanya Kulup Meghin menimpali.

Jangan aku yang engkau desak. Agak-agak  telinga engkau dari mana? kata Ude Musa  runsing sedikit tersinggung.

Jangan mengagak-agak, kataku,..! sergah Pak Andak Syam menahan gundah.

Kalau saya tak salah dengar, letusan itu dari arah rumah Udin Sitol, kata Ude Musa bersuara, menjawab.

Kalau tak salah.. Kalau tak salah, betullah, kata Pak Andak Syam belum puas.

Rasa-rasa saya, juga dari arah sana. Rasip Ansip mencoba menguatkan.

Bukan dengan rasa, Sip. Tapi dengan telinga, ujar Alang Keta berkelakar, mencoba mencairkan suasana getir.

Benar, dari arah rumah Udin Sitol. Ucap Yusuf Comel mantap.

Bagaimana, Engku Guru ? Kita kesana sekarang ? Tanya Pak Andak Syam kepada Imun Baharman, orang Cerenti Kuantansingingi, yang bertugas sebagai guru honor daerah SD Swasta di Parit Sukajadi - dusun tetangga Sungaidurian, yang telah ada pula bersama mereka di situ. Kebetulan dia bermalam di rumah Pak Bedu Amang, mertuanya. (SD Negeri cuma ada di Sungai-gergaji. Alangkah jauhnya anak-anak mereka bersekolah).

Sebaiknya begitu. Kita kesana sekarang, supaya tahu pasti apa yang terjadi, jawab Engku Guru Imun bijaksana menyarankan.

Moh, kita semua kesana! perintah Pak Andak Syam. Sebenarnya sejak tadi dia telah ingin ke sana. Dia hendak memastikan dengan kebersamaan. Cemas nian dia jika benar letusan itu berasal dari arah rumah Udin Sitol.

Bagai berbaris, orang-orang pun bergerak serempak, berkekasmais.  Pak Andak Syam, Pak Alang Keta,Pak Kuneng Seman, Engku Guru Imun, dan Rasip Ansip berjalan di depan. Itam Nuar pun turut serta, setelah menegah istrinya jangan ikut, dan segera menutup kedai. Tak ada yang bersuara bicara. Masing-masing dengan pikirannya sendiri.

Menjelang tiba di depan pekarangan rumah Udin Sitol, rombongan Pak Andak Syam berjompak dengan rombongan polisi. Wajah mereka masam ruam, bagai memendam geram, Menduas mereka lewat di hadapan mereka tanpa menyapa-nyapa. Mengelih pun tidak. Malah tiba-tiba seorang diantara polisi yang berjalan di depan, merentakkan pistol dari sarungnya yang terselip di pinggang. Diacungkannya paha ayam itu ke arah rombongan Pak Andak Syam yang telah tegak menepi. Kemudian,
Taarrr ! membahana suara tembakan senjata yang di arahkannya ke udara.

Orang-orang yang telah pucat lesi ketakutan, membiarkan saja mereka berlalu. Dua polisi mengiringi di kiri dan kanan dua temannya yang memapah kawannya yang tampak terluka parah. Polisi yang terluka itu tampak menyeringai serupa orang menahan sakit yang sangat sambil memegang perutnya. Kain mungkin saputangan - pembebat lengan kiri dan paha kirinya yang juga terluka, telah  basah oleh darah. Lelam.

Ada sekitar seratusan meter menjelang tiba ke tempat sepeda motor mereka diparkir. berkebetul- an ada mobil tambang yang lewat, datang dari arah Pulaukijang. Setelah menstopnya, tanpa meminta izin polisi yang terluka dinaikkan. Supir cuma menyengir, tak telap menampik menolak.

Dikawal dua polisi mereka berlalu. Tiga orang lagi bersepeda motor. Mereka mendebu ke arah Sungaigergaji.

Sekejap polisi-polisi itu berlalu, rombongan Pak Andak Syam segera berlarian menuju rumah Udin Sitol. Sepi. Bias cahaya pelita menerangi temaram ke arah  pintu yang terjebang. Mungkin, genset miliknya dah dipadamkan Udin tadi, karena telah hendak tidur. Pekarangan gelap. Tangga naik ke rumah panggung itu pun tampak tersergap samar. Beberapa senter diarahkan orang yang datang, menyorotkan sinarnya ke sekitar. Pak Andak Syam berteriak-teriak parau memanggil, disertai yang lain.
Udin ! Din !

Mok ! Mok Udin !  

Tak ada jawaban, meski dah berkali-kali dipanggil. Ke mana Udin Sitol beserta anak-anak dan bininya? Mengapa pintu rumah dibiarkan saja terbuka?

Para tetangga yang sejak tadi gelisah dan waswas cemas di rumah,  mendengar riuh teriakan rombongan Pak Andak Syam, berduyun keluar. Utih Bodeng yang bersembunyi ketakutan, mengge-lompar pula keluar dari persembunyiannya.

Udin ! Udin ! Udin Sitol pekik Utih Bodeng berlarian sambil menunjuk-nunjuk ke satu arah. Kemudian, lelaki paruh baya itu terjerembab ke tanah, pingsan.

***

Peristiwa Jumat Malam 28 Muharom 1428 itu tersebar menggemparkan. Tidak hanya menjadi buah bibir cerita getir di dusun tempat kejadian, tapi meluas hingga keluar batas Parit Sentosa. Surat- kabar MX yang terbit di Pekanbaru, memberitakannya di halaman pertama dengan judul yang ditulis dengan huruf kapital hitam tebal berukuran besar: Komandan Polisi Tewas Ditebas Parang. Husin Khalidi, wartawan SKH Riau Pos memberitakannya pula: Bapak Tersangka Curanmor Tewas Menge-naskan.

Membaca berita kejadian itu yang diwartakan  MX hingga lima kali, dan laporan kejadian dua kali bersambung di Riau Pos, membuih sedihku. Udin Sitol terbunuh gara-gara anaknya dituduh melakukan pencurian sepeda motor. Sahak Harahap, komandan polisi yang toat dan ramah, tewas mengenaskan ketika memimpin anak buahnya melakukan penggerebekan.

Siapa yang dapat menduga, begitu peristiwa tak dinyana itu terjadi. Saudara sepupuku mati justru digrebek polisi yang komandannya menantu dan ipar dari orang-orang yang kukenal baik. Siapa pula yang dapat menyangka, komandan polisi yang jujur, yang ketika menikahnya aku yang menyampaikan nasihat perkawinannya, akhirnya terbujur mati akibat insiden dengan sepupuku. Sedih nian hatiku.    

Burhan yang buron, setelah tertangkap, ditahan polisi pula untuk diproses. Dia  tak sempat hadir menyelengarakan jenazah bapak kandungnya. Hukuman vonis penjara bertahun-tahun bakal menje-ratnya pula jika memang terbukti melakukan tindakan kriminal, mencuri. Begitulah ketentuan getir takdir dari perbuatan yang ditentukan Allaah Tabaroka wa Taala.

Aku terinsipirasi menulis dua cerita pendek, renjisan ilham dari tragedi tragis itu. Judulnya Kematian Udin Sitol dan Sahak Harahap, dan Penembakan Pada Malam Peng-gerbekan. ***

Rumah Kediaman, Pekanbaru,  Awal Shafar 1428 -  ditulis-karang kembali  27 Maret 2014


Syafruddin Saleh Sai Gergaji
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us