Riau World Dance 2014

Memuliakan Seniman Tari

11 Mai 2014 - 07.42 WIB > Dibaca 1488 kali | Komentar
 
Selama tiga tahun berturut-turut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Riau (TBR) memperingati Hari Tari Dunia yang diberi nama Riau World Dance 2014 pada 29 April lalu. Helat tari yang dilaksanakan di Gedung Olah Seni (GOS) dan laman TBR itu sebagai bentuk kepedulian dan pemuliaan seniman tari yang terus menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru
 
KAWASAN Taman Budaya Riau cukup padat. Orang-orang berkumpul di dalam gedung pertunjukan dan di halaman. Malam itu, belasan grup tari asal Aceh, Sumatera Barat (Sumbar) dan tentu saja Riau selaku tuan rumah, bersiap-siap untuk tampil maksimal. Memperlihatkan kebolehan mereka dalam mencipta serta suguhan karya panggung, lewat gerak-gerak yang mampu bertutur tentang banyak hal. Sebuah helat yang setiap tahunnya dinanti-nantikan, baik seniman tari, penikmat tari serta pemerhati seni tari.

Helat tersebut diawali dengan elu-eluan pejabat yang berkaitkelindan dengan seni-budaya dan berlanjut pula dengan orasi tari oleh koreografer dan tokoh tari Riau SPN Iwan Irawan Permadi bertajuk; Menarilah dengan Hati. Sebuah tajuk yang menarik sebagai ungkapan kerisauan Iwan Irawan Permadi pada perkembangan dunia tari Riau yang masih terbilang minim gerak, proses, pemahaman, ekplorasi, dan tentulah minim jam terbang dan minim-minim yang lainnya. Sebagai sebuah karya kreatif, baik penata tari (koreografer) maupun penari belum menunjukkan penyatuan yang berimbang. Masih cendrung melakukan pemaksaan antara keinginan koreografer yang besar dengan kemampuan penari yang belum mampu mewujudukannya dalam gerak maupun ekspresi, begitu pula sebaliknya.

Pengertian bergerak dalam menari bisa terwujud dari intensitas dan kesadaran tubuh yang diam, bahkan ada yang bilang bahwa puncak gerak dalam menari adalah diam, ungkap Iwan IP berfilosofi.

Kerisauan yang Bergerak
Cukup banyak bentuk karya tari yang disuguhkan dengan ragam dan keunikannya seperti karya tari tradisi Melayu, kreasi, tarian nusantara maupun karya tari kontemporer yang berpijak pada tradisi. Bahkan dalam helat itu, setiap koreografer bebas memilih untuk tampil di mana saja, baik di atas panggung dalam gedung maupun di laman. Setidaknya, ada dua karya yang disuguhkan di laman yakni karya tari koreografer dan penari Aamesa berjudul Sumbang dan karya Iwan Irawan Permadi bersama komunitasnya PLT Laksemana berjudul Tubuh, Bumi dan Hutan.

Menurut Aamesa, karyanya diangkat atas keresahan-nya pada tabiat manusia masa kini yang semakin rakus dan membabibuta. Tabiat buruk manusia itulah yang menjadi penyebab runtuhnya keseimbangan antara alam dan manusia. Alam yang semakin renta - setiap saat- dijadikan pelampiasan syahwat untuk meraup keuntungan demi keuntungan. Syahwat untuk menguasai yang merasuk dalam diri manusia hari ini nyaris sama dengan bianatang. Seperti tidak adanya lagi perbedaan manusia dengan binatang untuk menjadi penguasa dalam bertindak, kata Aamesa.

Selama empat jam lebih Aamesa bermonolog lewat gerak. Ia bergerak seorang diri di atas level salah satu sudut laman Taman Budaya Riau. Gerakan yang lambat dengan ekspresi yang risau mengajak penikmat yang datang silihberganti masuk dalam keresahan, sebagai gambaran persoalan yang terjadi di Indonesia, terutama di Riau, hari ini. Sesekali, ia berlarian dan masuk ke dalam parit di kawasan itu, bermandi lumpur dan cat air berwarna merah. Ia juga memain-mainkan properti yang ada di sekitarnya sebagai bentuk beratnya persoalan yang sedang menimpa alam secara fisik dan menimpa manusia secara moral.

Karya Iwan Irawan Permadi yang berjudul Tubuh, Bumi dan Hutan yang berdurasi kurang lebih 35 menit di laman Taman Budaya Riau juga bercerita tentang alam yang semakin terperosok meunju kehancuran. Karya itu menggambarkan sebuah kerinduan pada alam Riau yang menjanjikan kehidupan pada manusia yang menggantungkan hidup pada alam, dalam hal ini hutan. Riau menjadi salah satu kawasan dengan kehancuran hutan terdahsyat melalui praktik mainmata antara penguasa dan pemilik modal. Hanya saja, Iwan IP lebih memokuskan karyanya pada kerinduan dan harapan untuk mengembalikan alam seperti semulajadi.

Dalam penciptaan karya ini, saya tidak menciptakan gerak untuk para penari namun meminta kepada para penari melakukan eksplorasi alam di sekitarnya dengan tubuh. Gerak-gerak yang tercipta menjadi gerak inovatif yang bertutur bahwa kita tidak akan pernah lepas dari alam, salah satunya hutan sebagai paru-paru dunia, papar Iwan IP menegaskan maksud dari karyanya tersebut.

Keinginan dan Harapan
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau, Said Syarifuddin dalam sambutannya menyebut, pemerintah daerah musti mengambil sikap untuk peduli pada penggalian dan pengembangan seni Melayu Riau, salah satunya seni tari. Karenanya, perlu digelar berbagai perhelatan untuk memuliakan seniman tari dengan pelaksanaan Riau World Dance 2014, setiap tahunnya. Ditambah lagi, perkembangan dunia tari di Riau hari ini cukup menjanjikan, dalam hal ini tentulah penciptaan yang dihasilkan para seniman.

Upaya positif yang dilakukan para seniman, salah satunya seniman tari perlu diacungi jempol karena ada atau tidaknya bantuan dari pihak-pihak berkompeten, mereka tetap saja mencipta dan menghasilkan karya-karya terbaiknya. Namun pemerintah daerah, melalui dinas yang dipimpinnya, tetap mencari jalan agar perhelatan dan pembinaan seni tari tetap menjadi perhatian penting. Kenapa? Karena seni dalam berbagai bidang yang ada menjadi alat untuk lebih memperkenalkan budaya lokal kepada dunia yang lebih luas.

Seni, salah satunya seni tari dapat memperkenalkan kepada orang lain bahwa Melayu Riau memiliki kekayaan yang tidak bisa diukur dengan materi. Riau memiliki kekayaan, baik benda maupun non benda, salah satunya seni, yang belum semuanya terangkat kepermukaan dan kami berharap, seniman semakin kreatif dalam menggali dan mengembangkannya. Tanpa seni, dunia akan timpang, jelasnya panjang lebar.

Sementara itu, Kepala UPT Taman Budaya Riau Pulsiamitra menyebutkan, seni tari di Indoensia khususnya di Riau berkembang dengan pesatnya. Dengan ragam bentuknya baik tradisi, kreasi maupun kontemporer yang memiliki ciri khas sendiri. Berpijak dari itulah kami dari panitia akan menjadikan hari tari dunia menjadi tolok ukur perkembangan tari di Riau dengan mengusung tema Menari untuk Damai, ungkapnya.

Ditambahkannya, hari tari sedunia ini sudah dirayakan yang kedelapan kali di Indonesia dan untuk ketiga kali bagi Riau. Pada dasarnya, perayaan ini juga untuk menghargai seniman tari. Konsep acara kami sederhana saja, hanya menari bersama sekaligus sebagai ajang silaturahmi, ucapnya.

Taman Budaya sebagai wadah untuk pembinaan seni dan budaya akan selalu berupaya agar acara hari tari dunia ini menjadi helat tahunan. Di sinilah tempat seniman tari mengejewantahkan ekspresi mereka. Kami harapkan di samping  ajang silaturahmi, tentu saja seniman tari dapat memperlihatkan karya-karya mereka. Di sinilah semangat berkreativitas itu bertemu, katanya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 14:00 wib

Diprioritaskan untuk Koridor Rumbai dan Tenayan Raya

Rabu, 21 November 2018 - 13:45 wib

Bupati Motivasi Anak Siak Terus Berprestasi

Rabu, 21 November 2018 - 13:36 wib

Oknum Polisi Pesta Narkoba

Rabu, 21 November 2018 - 13:30 wib

Pencegahan Kejahatan, Buat Pelaku Tidak Nyaman

Rabu, 21 November 2018 - 13:15 wib

Syamsuar Hadiri Haul Marhum Pekan

Rabu, 21 November 2018 - 13:07 wib

2019, Satu Suara Dihargai Rp1.000

Rabu, 21 November 2018 - 13:00 wib

Pelajar Jadi Korban Tabrak Lari

Rabu, 21 November 2018 - 12:45 wib

Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK

Follow Us