Aleg Petahana

11 Mai 2014 - 07.47 WIB > Dibaca 1973 kali | Komentar
 
Aleg Petahana
Belakangan ini, kata/istilah petahana marak digunakan masyarakat dalam perbincangan sehari-hari. Padahal, lima tahun yang lalu (sebelum pemilu 2009), petahana yang ditawarkan Salomo Simanungkalit sebagai padanan incumbent (Kompas, 6 Fabruari 2009) itu masih kontroversial. Sebagian orang menerima tawaran itu, tetapi tidak sedikit pula yang menolaknya. Bagi yang menerima, memadankan incumbent dengan petahana dianggap jauh lebih baik daripada membiarkannya bersulih rupa menjadi inkamben. Sementara itu, bagi yang menolak, pemadanan itu dianggap sebagai tindakan sia-sia karena,di samping tidak pas artinya (dengan incumbent), petahana juga dianggap menyalahi kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia: tidak mematuhi (hukum) kata dasar yang berawal dengan huruf k, p, t, dan s akan luluh menjadi ng, m, n, dan ny jika mendapat awalan /me-/atau/pe-/.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) tidak ditemukan kata petahana, baik sebagai lema maupun sublema. Lema yang ada (dan dekat dengan petahana) dalam kedua sumber acuan itu adalah tahana: dalam TBI (2007:629) diberi arti‘kedudukan, martabat, persemayaman, prestise, takhta’dan dalam KBBI (2008:1375) diberi arti ‘kedudukan, martabat (kebesaran, kemuliaan, dsb.)’.

Pembentukan kata tahana menjadi petahana sebenarnya tidak menyalahi kaidah. Pengimbuhan /pe-/ pada tahana (menjadi petahana) mengikuti model pembentukan kata petani. Sekalipunpengimbuhan /pe-/ pada tani (juga) dapat menjadi penani, (hanya) bentuk petani yang digunakan. Berbeda halnya dengan pengimbuhan /pe-/ pada tinju dan tatar. Kedua bentukannya, baik peninju dan petinju maupun penatar dan petatar, sama-sama digunakan, dengan makna yang berbeda. Peninju ‘orang yang meninju’, siapa pun orangnya, sedangkan petinju ‘orang yang bertinju’, hanya orang-orang tertentu (profesional). Sementara itu, penatar ‘orang yang menatar; pemateri; narasumber’, sedangkan petatar ‘orang yang ditatar; peserta’.

Dalam kajian linguistik, utamanya semantik, diyakini bahwa makna tidak turun dari langit. Menurut Parera (dalam Teori Semantik, 2004), makna simbol  bahasa ditentukan oleh manusia tidak berdasarkan kesepakatan diam yang bersifat konvensional, tetapi dinamis sesuai dengan perkembangan perpikiran manusia pemakainya. Artinya, makna sebuah kata lazim jika mengalami pergeseran dan bahkan perubahan. Dalam hal ini, Parera mencontohkan dua kata Perancis: cadeau ‘huruf kapital’ dan voyage ‘perjalanan’. Makna kedua kata itu kini telah berubah, masing-masing, menjadi ‘hadiah, pemberian’ dan ‘perjalanan laut/sungai’.

Hal yang sama terjadi pula dalam bahasa Indonesia. Kata canggih, misalnya, yang semula berarti ‘cerewet, bawel; suka mengganggu’ (Poerwadarminta,Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1954), telah mengalami pergeseran dan/atau perubahan (bahkan penambahan) makna menjadi ‘kehilangan kesederhanaan yang asli; berpengalaman; bergaya intelektual’ (KBBI, 2008: 241).Kini, canggih telah menjelma menjadi kata yang sangat berterima sebagai padanan sophisticated.

Dalam buku Pedoman Umum Pembentukan Istilah (2008:3) disebutkan bahwa bahan baku istilah Indonesia bersumber pada tiga golongan bahasa, yakni (1) bahasa Indonesia dan Melayu, (2) bahasa Nusantara yang serumpun, dan (3) bahasa asing. Artinya, penyerapan istilah asing merupakan alternatif terakhir setelah alternatif pertama dan kedua (pemadanan ke dalam bahasa Indonesia/Melayu dan bahasa-bahasa serumpun) tidak dapat lagi dilakukan. Itulah sebabnya bahasa Indonesia tidak menyerap kata-kata asing, seperti supermarket, master of ceremonies, tower, dan laundry karena kata-kata asing itu dapat dipadankan dengan pasar swalayan, pengatur (pembawa) acara, menara, dan binatu. Berbeda halnya dengan mall, misalnya. Karena secara konsep tidak ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia/Melayu dan bahasa-bahasa serumpun lainnya, mall terpaksa diserap (dengan penyesuaian ejaan) menjadi mal.

Atas dasar uraian di atas, jika memang dikehendaki, petahana lebih layak digunakan sebagai padanan incumbent ’yang sedang mengemban jabatan’ atau ’pengemban jabatan’ daripada mengadopsi kata asing itu menjadi inkamben. Mengapa? Karena, di samping sudah digunakan masyarakat, petahana juga masih dimungkinkan diberi “beban” makna baru yang (lebih) spesifik.Misalnya, petahana tidak hanya berarti ‘pengemban jabatan’, tetapi ‘pengemban jabatan yang ikut berkompetisi (lagi) dalam pemilihan jabatan yang sedang diembannya’.Itulah sebabnya, pengemban jabatan yang tidak ikut berkompetisi (lagi) dalam pemilihan jabatan yang sedang diembannya itu tidak layak disebut petahana. Dengan demikian, pada pilpres nanti pun tidak akan ada presiden petahana karena SBY tidak maju lagi sebagai capres.

Oleh karena itu, seharusnya petahana tidak digunakan semena-mena, seperti tampak pada kalimat (1) dan (2) berikut ini.

(1) Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit menyebut, calon legislatif petahana sudah tak dipercaya masyarakat. (Metrotvnews.com, 24/4/2014)

(2) Tujuh calon anggota DPD lainnya merupakan calon baru yang memiliki perolehan suara di bawah empat calon petahana. (Bisnis.com, 24/4/2014)

Pada kalimat (1) petahana digabungkan dengan calon legislatif menjadi calon legislatif petahana, sedangkan pada kalimat (2) digabungkan dengan calon menjadi calon (anggota DPD) petahana.Nah, siapa sesungguhnya petahana itu? Mungkinkah petahana berstatus calon? Entahlah. Yang pasti, penggunaan petahana pada kalimat (3) berikut ini terlihat lebih pas dan pantas diacungi jempol.

(3) Tiga anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Bali berstatus petahana gagal mempertahankan kursi senatornya di Jakarta setelah perolehan suaranya lebih rendah daripada beberapa calon lain. (Antara News, 24/4/2014)

Jadi, bukan caleg (calon anggota legislatif) petahana yang betul, melainkan aleg (anggota legislatif) petahana.***
Salam.


Agus Sri Danardana
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us