Celurit Kembar

11 Mai 2014 - 07.51 WIB > Dibaca 2597 kali | Komentar
 
Sudah lama kulihat dua celurit itu menggantung di rusuk atap. Terikat pada sebatang bambu yang lepuh. Sesekali bergerak-gerak terhempas udara dari celah-celah genting berlubang, atau dari jendela yang terbuka.

Saat terjaga dari lelap, sepulang ngaji, atau kegiatan apapun di rumah, aku selalu ingin meluangkan waktu manatapnya. Seperti ada yang seketika menarik tubuh untuk segera memfokuskan penglihatan dalam waktu yang tak cukup sebentar.

Mungkin dua celurit itu sengaja di letakkan di sanatepat di depan pintu kamarku sebelah atas. Warna peraknya buram dan karatan. Sedang gagangnya tak begitu jelas  antara abu-abu atau debu yang menempelinya.

Entah, siapa pemiliknya? Yang jelas, 10 warsa silam, dua celurit itu masih menyala pendar perak, dan di setiap sisinya seperti adat irisan warna merah. Persis warna darah, namun, aku tak paham warna itu benar-benar darah atau bahkan bukan.

Hampir tiap waktu aku melihatnya. Lebih tepatnya ada hasrat untuk selalu melihatnya. Dan seperti biasa aku akan mematung tepat di bawahnya, mendongakkan kepala kearah tempat celurit itu berada. Agak lama, bahkan begitu lama. Hingga aku merasa ada yang berombak dalam jiwa. Serasa kaki tak berpijak pada lantai, menggigil ketakutan.

Perasaan itu terus-menerus berseliweran, membuat bulu-bulu halus tubuhku menjadi tegak. Rupanya ada keganjilan yang seketika mendera pikiran. Lalu buru-buru ku palingkan penglihatan, menundukkan kepala, menjauhkan langkah dari tempat semula.

Melihat sikapku yang keanehan itu, ibu lalu menyerang ku beragam pertanyaan. Aku berusaha mengendalikan keadaan. Menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya menggeliat untuk dipecahkan.

Samar-samar kulihat ibu meringkih. Terbatuk-batuk dari mulutnya yang tak henti-henti mengunyah daun sirih. Tubuhnya terguncang-guncang sepanjang suara itu terdengar. Sorot matanya mengarah pada yang kosong. Wajahnya pucat. Dan perlahan gerimis dari kedua pelupuknya jatuh satu-satu. Menuruni pipi lesungnya yang keriput.
***

Petang itu, waktu berjalan tak seperti biasa. Gelap seperti melipat cahaya cepat-cepat. Kami saling asing dalam ruang. Sesekali ibu tampak gugup melihatku. Wajahnya menampakkan keraguan mendalam. Hanya decak cicak dan suara-suara beburung yang seakan menyorongkan keinginan-keinginan lain untuk segera diungkapkan.

Aku nyalakan lilin di sudut jendela. Apinya menyembul-nyembul, memancarkan seberkas cahaya, mengikuti gerak udara kesegala arah. Jika malam tiba, tak ada yang dapat aku ceritakan selain gelap menyetubuhi sepanjang luas kampong hingga seberang.

Meski tiang listrik berjejer di pinggir-pinggir lorong bertahun-tahun lamanya, rupanya kami harus menuai mimpi pada waktu yang entah berapa lama untuk dapat menikmati cahaya neon di sudut-sudut rumah. Janji penguasa yang katanya peduli rakyat hanya slogan belaka yang sampai kiamat pun tak akan pernah tersalurkan.

Aku kembali merebahkan duduk di atas lencak menyampingi ibu setelah empat batang lilin kunyalakan. Ibu masih duduk dalam diam, mungkin sesuatu yang baru saja kuceritakan menjadi beban baginya. Entalah.

Kami sama-sama mematung. Sesekali mengarahkan pandang pada jendela yang masih terbuka. Di luar, udara tampak gemulai menggelayutkan dedaunan. Dan di sela-sela keremangan itu, terlihat kemerlap kunang-kunang. Nyala-menyala, timbul tenggelam.

Hewan itu seakan muncul begitu saja di sana. Di semak-semak ujung pelataran. Meski terlihat indah dan cahaya hijau kekuningan, ia tak lantas disukai warga kampung. Kepercayaan mereka masih erat pada mitos yang meyakini bahwa, kunang-kunang adalah jelmaan dari potongan-potongan kuku orang yang sudah meninggal. Potongan-potongan kuku itu lantas berubah kunang-kunang setelah empat puluh satu hari orang itu dikuburkan. Hal itu menjadi terror sendiri bagi warga di sini. Ah, tak masuk akal memang? Namun begitulah hidup, tak masuk akal selalu menjadi terror setiap insan.
***

Langit makin pekat menghampiri kami yang tak berniat melelapkan tubuh. Ibu masih berdiam saja, aku mengikutinya. Rupanya bukan waktu yang tepat mendengarkan penjelasannya tentang keberadaan celurit itu. Sengaja aku tak mengeluarkan tanya. Sebab aku takut hal yang tak di inginkan membebaninya.

Aku ayunkan langkah menuju kamar. Sesampai di depan pintu, tepat di bawah dua celurit itu, lagi-lagi aku merasa seperti ada yang menarik tubuh untuk menatapnya. Aku mendongakkan kepala, agak lama, mungkin paling lama dari sebelum-sebelumnya.

Seperti dua celurit itu berisyarat, sudah sepantasnya aku mengambilnya. Membersihkannya dengan air kembang warna-warna. Mengasapkan dupa pada manis malam yang hujan. Pada keinginan yang tak terbantahkan.

Sudahi keinginanmu itu, aku tercegat. Ibu masih mematung di atas lencak, seperti tak melihatku, namun, ia bias membaca apa yang aku pikirkan.

Apa yang ibu maksud?,aku pura-pura tak paham.

Kau menginginkan dua celurit kembar itu bukan? ucapnya lagi.

Aku tak menanggapi, sengaja menunggu agar lebih tahu muasal dua celuriti tu. Tentu ibu mengetahui peristiwa sebenarnya, namun, ia tampak berhati-hati mengungkapkannya. Matanya masih kosong, mulutnya belum mau berhenti mengunyah daun sirih hingga kedua bibirnya memerah.

Celurit itu milik Abahmu! Tubuh ku membias mendengar nama Abah. Sudah lama aku tak mendengar kata itu. Bahkan aku lupa menyebutnya. Dan sekarang ibu membuka semuanya. Yang membuat aku tambah bernafsu mengetahui hubungan Abah dengan dua celurit itu.

Dua celurit itulah yang mengantarkan Abah dan pamanmu pada kematian. Mereka sama-sama bersikukuh sebagai pewaris tanah pemberian kakekmu. Hingga pada suatu hari yang tanpa sepengetahuanku, Abah menemui pamanmu lalu menantangnya bertarung. Siapa yang lolos dari maut, dialah pemilik tanah tersebut.

Ungkap ibu dengan suara mendesah. Matanya lantas diarahkan tepat mukaku. Aku tak punya keberanian membalas tatapannya. Kualihkan pandang yang entah sadar atau tidak kembali mengarah pada keberadaan celurit di rusuk atap.

Abah yang menyuruh ibu meletakkan dua celurit itu di sana, ia berpesan, kelak kau pewarisnya.

Aliran darah urat nadi terasa mengencang mendengar petuah ibu, pori-pori tubuh seketika mengeluarkan bulir-bulir keringat. Barulah setelah dewasa aku mengetahui semuanya. Panas dingin menggeliat dalam pikiran. Pekat merambat lekat-lekat. Udara tipis menghantam ruang. Empat batang lilin tak menyembulkan api. Semua terselimut gelap. Dari kejauhan kembali terlihat kunang-kunang timbul tenggelam, mengingatkanku pada kematian.

Lewat separuh jalan malam yang tanpa sepengetahuan ibu juga, diam-diam aku sudah menggenggam siasat untuk menebas kepala anak tunggal paman yang sebelum matahari tenggelam akan menunaikan pernikahan.

Mungkin setelah itu Abah akan bahagia memiliki putra yang mengabdi pada orang tua.***

Sumenep-Madura, 2014



Homaedi
Lahir di Beluk-Raja-Ambunten-Sumenep 1991. Pencinta sastra dan penikmat musik tradisional Madura. Karya-karyanya dimuat di koran lokal dan nasional. Juga terkumpul dalam antologi bersama: Temu Komunitas Sastra 2 Kota/Lentera Sastra JawaTimur (2011). Kidung Sunyi (2012). Anting Bulan Merah (2012). Dan Melabuh Kesumatcerpen pilihan Riau Pos (2013).
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us