Selalu Ada Hikmahnya

25 Mai 2014 - 07.47 WIB > Dibaca 791 kali | Komentar
 
Selalu Ada Hikmahnya
SUATU hari di stasiun kereta api ekonomi Lempuyangan Jogyakarta, tepatnya Agustus 2012 lalu. Adalah Asnia, seorang warga Pekanbaru yang ingin membeli tiket kereta api jurusan Jogya-Madiun Jawa Timur. Asnia ingin mengunjungi anaknya yang sedang menimba ilmu di sebuah pesantren modern yang berada di Ponorogo.

Sudah menjadi pemandangan lazim kalau membeli tiket kereta api apalagi yang ekonomi, antreannya cukup panjang. Asnia mau tak mau ikut antre. Setelah sampai di depan petugas tiket dan memang seharusnya menjadi gilirannya, dia tidak juga dilayani. Sementara calon pembeli yang di belakangnya terus dilayani. Ada sekitar tiga calon penumpang yang sudah mendahuluinya, sehingga kesabaran Asnia habis.

Asnia langsung teringat dengan gebrakan Dahlan Iskan (DI) yang didengarnya sudah banyak membenahi kereta api termasuk menjadikan kereta api berprikemanusiaan. Begitulah kenyataannya. Sebelum ada reformasi kereta api kelas ekonomi seperti sekarang ini, manusia tak ada artinya. Selagi ada penumpang, tiket terus dijual. Tak peduli apakah tempat duduknya sudah penuh atau penumpang sudah saling tindih.

Penulis sendiri pernah mengalaminya. Memang sudah lama sekali. Sekitar tahun 80-an. Waktu itu berkunjung ke rumah teman yang berada di Jember, Jawa Timur. Penulis naik dari stasiun Tugu, Jogyakarta. Penumpang berjubel. Penulis memang tak lagi mendapat tempat duduk. Terpaksa duduk di lantai koridor. Saling bersenggolan dengan penumpang lain. Untuk mencari udara agak segar, penulis keluar di sambungan antar gerbong. Di situ juga ramai. Untung WC kereta tak terpakai alias tak berfungsi.

Bersama teman, penulis masuk ke dalam WC. Lumayan. Udara segar dari jendela WC dapat juga mengusir gerah dan pengap. Bayangkan! Kondisi itu penulis alami selama beberapa jam. Walau banyak yang turun di Madiun, tapi banyak pula yang masuk. Sampai Stasiun Wonokromo, Surabaya, barulah bisa mendapat tempat duduk.

Itu gambaran kereta api Indonesia dulu, sebelum DI merubahnya jadi lebih beradab. Sekarang penumpang ekonomi bisa bernafas lega. Semua penumpang bisa terlayani. Walau risikonya, banyak penumpang yang kehabisan tiket.

Kembali ke Asnia. Dengan gertakan logat Pekanbarunya, Asnia nekat membentak petugas tiket sembari mengancam perlakuan tidak adil mereka akan diadukannya ke wartawan biar Pak Dahlan mengetahuinya. Tanpa diduga Asnia, gertakannya manjur. Dia langsung dilayani petugas dan tentunya tak lupa meminta maaf padanya.

Pengalaman nekat Asnia membuatnya semakin kagum dengan sosok DI. Mendengar namanya saja orang sudah takut. Benar-benar mujarab. Sejak saat itu Asnia jadi rajin mengikuti perkembangan sepak terjang DI, terutama pemikirannya yang salah satunya tertuang di media.

Tadinya Asnia mengaku kurang begitu tertarik dengan tulisan-tulisan DI tersebut. Semakin banyak membaca, semakin kagum Asnia terhadap sosok DI. Dengan mottonya kerja, kerja, kerja, DI dianggap mampu membuat negeri ini lebih maju dan bermartabat.   

Asnia dan mungkin banyak warga lainnya semakin berharap terhadap tokoh DI yang ikut konvensi calon presiden Partai Demokrat. Dia berharap DI keluar sebagai pemenangnya. Alhamdulillah, DI memang berhasil sebagai pemenangnya, dengan elektabilitas yang cukup tinggi dibandingkan calon lainnya.

Tapi sayang sungguh sayang, harapan DI menjadi pemimpin nomor satu di negeri ini melayang sebelum bertarung. Kecewa, iya. Berlarut larut, tidak. Selalu saja ada hikmah di balik peristiwa. Berfikir positif saja dalam menanggapi perjalanan hidup ini. Jika seseorang yang sudah digadang-gadangkan, dielu elukan dan banyak diletakkan harapan, tidak sampai pada tujuan yang diinginkan, tentu ada maksud di balik itu. Bisa jadi musibah menjadi anugerah. Anugrah yang membawa berkah.

Lagi pula, banyak jalan untuk membenahi negeri ini. Tidak harus di posisi puncak. Di level manapun bisa.  Memang inilah jalan terbaik, yang mungkin akan lebih bebas berkarya, bersinar dan bermarwah. Semoga!***


Nurizah Johan
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us