Sastra (Bacaan) Anak

25 Mai 2014 - 08.05 WIB > Dibaca 1930 kali | Komentar
 
Sastra (Bacaan) Anak
Kemampuan membaca (anak) sedapat mungkin tercipta sejak dini. Anak yang sudah dapat membaca merupakan indikator kemampuan anak ke tahap selanjutnya, yakni dalam menyerap pengetahuan dan mengenal lingkungan. Keterlambatan dalam belajar membaca pada anak diprediksi dapat memperlambat perkembangan anak. Dolores Durkin telah memaparkan hal tersebut dalam penelitiannya untuk menjawab kalangan pesimistis terhadap pengajaran membaca di usia dini. Durkin merupakan peneliti yang pertama kali mendalami masalah ini pada tahun 1958-1964 (http://www.tipsbayi.com/metode-belajar-membaca.html). Kesimpulan yang dapat diambil dari studi selama 6 tahun itu adalah (1) anak yang dapat membaca sejak dini ternyata senantiasa bisa mengungguli kemampuan anak yang terlambat dapat membaca, (2) kemampuan membaca sejak dini ternyata tidak berhubungan dengan IQ anak, tetapi sangat berhubungan dengan suasana rumah dan keluarganya, dan (3) kemampuan membaca sejak dini juga tidak berhubungan dengan kondisi sosial-ekonomi.

Walaupun ada ketidakpengaruhannya dengan masalah waktu, kehadiran bahan bacaan  sangat berpengaruh dalam pengajaran membaca. Bahan bacaan harus dipilih dan dipilah, tidak asal diberikan. Dalam hal ini, Nancy Anderson (http://id.wikipedia.org/wiki/Bacaan_anak) mengelompokkan bacaan anak dalam enam kategori: (1) buku bergambar, baik yang disertai kata-kata maupun yang tanpa kata-kata—untuk prasekolah—sebagai pengenalan konsep huruf, angka, warna, dsb.; (2) buku sastra tradisional, seperti mitos, dongeng, cerita rakyat, legenda, dan sajak; (3) buku fiksi, seperti fantasi, fiksi modern, dan fiksi sejarah; (4) buku biografi dan autobiografi; (5) buku ilmu pengetahuan; dan (6) buku puisi dan syair.

Secara teoretis, menulis sastra (bacaan) anak itu mudah. “Sastra anak harus menggunakan bahasa yang lugas, diksi yang tidak rumit, dan isi yang mendidik,” begitulah kata kebanyakan orang, Namun, dalam praktiknya, menulis sastra (bacaan) anak itu tidak mudah. Tidak sedikit sastra (bacaan) anak yang tidak sesuai dengan dunia anak-anak. Hal itu, misalnya, terlihat pada (kasus) buku pelajaran siswa yang memuat cerita tentang perselingkuhan.

Di samping memuat gagasan yang sesuai dengan pemikiran anak, sastra (bacaan) anak juga harus dikemas dalam gaya penulisan yang sederhana agar dapat diserap oleh anak sepenuhnya. Meskipun demikian, sastra (bacaan) anak tetap harus dapat mempelihatkan kekompleksitasannya. Jika dalam bentuk prosa, misalnya, sastra (bacaan) anak juga harus berstruktur prosa, seperti cerpen dan novel pada umumnya. Dengan demikian, penulisan prosa sastra (bacaan) anak harus berpondasi kepada seluruh elemen pembangun fiksi (unsur intrinsik). Keutuhan seluruh elemen itulah yang menjadikannya enak dibaca dan mudah dicerna oleh anak.

Penokohan dalam sastra anak sebaiknya memunculkan sosok pahlawan (tokoh hero), dibalut dengan kondisi fisik yang prima dan berkepribadian mulia. Mungkin karena selalu menang, mengalahkan tokoh antagonis pada sebuah cerita, tokoh hero sering dijadikan idola anak-anak. Mereka (anak-anak) umumnya akan menghindari tokoh antagonis. Begitu pun alur. Sebaiknya, sastra (bacaan) anak menggunakan teknik alur maju atau progresif. Penggunaan alur sorot-balik (flashback) ataupun alur maju (foreshadowing) pastilah membuat bingung anak (di bawah usia 13 tahun) dalam memahami isi cerita.

Selain menyoal tokoh dan alur, sebaiknya sastra (bacaan) anak juga mengandung isi yang sederhana. Kesederhanaan itu meliputi penggunaan bahasa yang luwes dan isi yang tidak ngawur atau tidak taksa. Meskipun demikian, sastra (bacaan) anak tetap dapat pula mengeksplorasi ide. Kebebasan mengeksplorasi ide inilah yang kemudian memunculkan gagasan dekonstruksi dalam cerita anak. Dalam film “Monster.inc”, misalnya, digambarkan sosok monster yang dikenal jahat dan seram sebagai sahabat anak. Sah-sah saja membuat cerita seperti itu karena anak pun terkadang berimajinasi di luar yang dapat dipikirkan oleh seorang penulis sastra anak. Yang terpenting dalam sastra anak adalah pesan moral dan pendidikan yang disodorkannya tidak terkesan menggurui, seperti khotbah keagamaan.

Dalam hal kesederhanaan bahasa, Awaluddin (2005: 12) menyatakan bahwa sebaiknya pemakaian bahasa sastra anak tidak mengandalkan satu bentuk keindahan, sebagaimana karya sastra pada umumnya. Yang paling penting untuk ditonjolkan dalam sastra anak adalah fungsi yang hadir bersamanya, yaitu aspek pragmatis. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan dalam sastra (bacaan) anak cenderung pendek-pendek untuk mempermudah pemahaman. Sebagai gambaran, bandingkan contoh (1), (2), dan (3) berikut ini.
(1) Mbah Ngajiman memiliki benda antik seperti tombak, keris, dan cincin batu. Benda pusaka itu warisan turun-temurun. Pada malam satu suro, benda pusaka itu selalu dimandikan dan disimpan ke dalam kotak berwarna hitam. (lebih mudah)

(2) Mbah Ngajiman memiliki benda antik seperti tombak, keris, dan cincin batu sebagai warisan turun-temurun, dan saat malam satu suro selalu dimandikan kemudian disimpan ke dalam kotak berwarna hitam. (lebih sulit)

(3) Seorang manula bernama Mbah Ngajiman mempunyai benda kuno bernilai tinggi berupa tombak, keris, dan cincin batu. Ternyata benda-benda itu merupakan warisan turun-temurun yang secara terus-menerus dimandikan pada saat malam satu suro kemudian lantas disimpan ke dalam kotak berwarna hitam. (lebih ruwet)

Kalimat yang sulit dan ruwet pada (2) dan (3) mengandung anak kalimat dan keterangan yang terlalu banyak. Idealnya, menurut Sumardi (2003:150—152), kalimat dalam cerita anak hanya terdiri atas satu induk dan satu anak kalimat atau satu keterangan untuk masing-masing fungsi (subjek, predikat, atau objek). Sementara itu, penggunaan istilah pun harus dicarikan padanan yang lebih mudah. Misalnya, menikah jauh lebih mudah daripada membina rumah tangga.

Begitulah, seperti halnya karya sastra, sastra (bacaan) anak juga berfungsi menghibur dan sekaligus mendidik. Sastra (bacaan) anak dapat menolong anak-anak memahami dunianya, membentuk sikap-sikap yang positif, dan menyadari hubungan antarsesama (manusia). Dengan membaca karya sastra yang melukiskan seorang anak yang suka menolong sehingga disayang oleh guru dan teman-temanya, misalnya, anak akan mengerti bahwa mereka harus bersikap seperti itu agar banyak yang menyayangi.***



Naratungga Indit Prahasita
Alumnus FBS, Universitas Negeri Yogyakarta; bergiat di Teater Sarkem; bermastuatin di Yogyakarta.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us