Sepatu Perjuangan

25 Mai 2014 - 08.06 WIB > Dibaca 2751 kali | Komentar
 
Tunggu dulu, aku akan mulai cerita tentang sepatu yang ada di hadapan kita ini. Karena katamu setiap sesuatu pasti mempunyai permulaan, permulaan itu aku namakan sebagai sejarah. Dengarkan saja dulu, ketika nanti ada yang tidak dimengerti tanyakan saja tak usah sungkan- sungkan, kawan. Tepatnya kita sharing saling melengkapi tentang sepatu ini. Di penghujung ceritra nanti, bayangkanlah tentang semua keanekaragaman sepatu, entah apakah sama dengan yang ada di toko- toko atau bisa saja seperti yang ada di pasar rombengan.

Mari kita mulai cerita ini dengan santai saja. Telah bertahun- tahun aku menyimpannya dalam almari dipan, secara sengaja tak pernah aku keluarkan, apalagi untuk memakainya. Karena aku mengerti bahwa kakekku dulu pernah meninggalkan pesan sebelum dia menghembuskan nafas terakhir. Di waktu itu, aku diajaknya untuk memasuki sebuah ruangan kecil di pojok rumah kami. Alasan disimpannya sepatu ini, hanya satu yakni tak ingin banyak orang yang tahu. Ruangan itu aku menyebutnya sebagai rahasia aku dan kakek saja yang tahu. Di dalamnya berisi berbagai macam perlengkapan perang. Semisal tombak, baju perang, topi luncung, sabuk biru, ranju, dan satunya lagi adalah sepatu ini.

Karena ia sudah tua renta, jadi cara dan alur bicaranya sangat sukar sekali untuk ditangkap. Namun aku mencobanya untuk mencerna sebisa mungkin tetap memahami, dengan kukait- kaitkan sejak peristiwa sejarah dulu. Musim itu bertepatan dengan perang Hindia Belanda, yang katanya setiap hari para bala tentara memasuki rumah- rumah mereka, mengambil dan merampas apa yang mereka punya, termasuk memperkosa perawan. Kakekku waktu itu juga termasuk salah satu objek tentara Belanda, karena ingin merampas sepatu ini. Tapi ia angkuh dengan sendirinya, meski dipukul sekeras mungkin, tetap saja tak mau mengeluarkan dan memberinya pada tentara yang kejam itu. Akhirnya ia mendapat hukuman kerja paksa. Dan di waktu itulah semangat kakeku berkobar untuk melepas dirinya dari belenggu perbudakan itu. Berhari- hari ia menunggu kapan waktu yang tepat untuk melawannya. Jauh sebelum hari- hari perlawanan, ia mempunyai sedikit kecerdasan dengan membisik-bisikkan pada seluruh tawanan, memberi semangat dan membakar jiwa ke Indonesiaan agar terlepas dari belenggu perbudakan itu.

Kian hari semakin banyak saja orang-orang dijadikan budak mereka. Anehnya, hanya orang yang tak punyalah yang menjadi mangsa mereka. Padahal sudah jelas-jelas tak punya, apanya yang mau diambil. Tekat kakekku semakin membara, dan terus mencari-cari kapan waktu yang tepat untuk menyerang.

Tunggu dulu jangan dilanjut, aku mau bertanya. Kenapa sampai begitu berharganya sepatu ini. Padahalkan paling mahalnya hanya dua ratusan rebu?

Jangan kira kawan, kau tahu bahwa benda yang paling berharga oleh diri kita sendiri, sebesar apapun itu materi pasti ia tolak. Kakekku di sini,lebih menekankan pada hasiatnya.

Apakah hasiat itu dapat mengusir tentara Belanda?

Tergantung nanti kawan, makanya diam dulu masih panjang ceritranya.

***

Pembuatan sepatu ini, hanya dua orang yang melakukannya. Adalah nenek dan kakekku. Mereka menghabiskan waktu sekitar tiga bulanan, yang tiap minggunya pasti di mandikan dengan kembang tujuh rupa warna. Alat-alatnya hanya menggunakan pohon, akar- akar seperlunya. Di tiap-tiap sisi ini, masih melekat tulisan carakan yang tak tahu apa maknya. Oleh sebab itulah mereka menyanjung-nyanjung sepatu ini. Alasan disanjungnya, karena kekuatan mitos waktu dulu, sangatlah mengental dalam diri mereka. Mereka sangat yakin dengan hal semacam itu. Salah satunya selalu meminta permohonan pada pohon besar dengan  memberikan sesajen di bawahnya, dan di penghujung ritual semacam itu mereka tak pernah melepaskan doa agar hidup mereka tentram dan nyama. Sehingga sampai pula dipembuatan sepatu ini yang lengkap dengan jimat yang mereka tulis.

Pada hari Senin, ada salah satu dari mereka yang juga tertawan, namanya adalah Ahmad. Ia yang mengordinir untuk menyerang dengan menggunakan tombak dari hasil buatannya sendiri. Penyerangan itu dilakukan sejak saat fajar masih belum sempurna. Akhirnya separuh dari tentara Belanda tumpas di tengah-tengah gubuknya. Tapi malah berbeda dengan kakekku, ia malah pergi menuju rumah. Entah apa yang ada dalam benaknya. Yang tadinya membisik-bisikkan warga untuk menyerang tapi malah pulang sendirian. Ternyata baginya, waktu hari Senin sangatlah tidak menenangkan pikirannya. Ia meyakini, jika nanti terpaksa maju ke medan perang, akan mati dengan sia-sia. Karena itulah ia menunggu sampai hari Rabu tiba.

Pasukan Ahmad ternyata memang banyak yang gugur, selebihnya hanya ada sekitar duapuluh orang yang terselamatkan, itupun harus dirawat dengan serius. Kakekku waktu itu semakin tidak sabar untuk terjun langsung ke medan perang.

Saat malam Rabu tiba, ia tak lupa untuk mempersiapkan berbagai peralatan perang termasuk sepatu ini. Ada tugas juga nenekku waktu itu, ternyata katanya yang menyiapkan semua peralatan perang adalah nenekku. Tugas kakek waktu itu, hanya berdoa dan meminta perlindungan pada yang di anggapnya mempunyai hasiat. Sepatu ini, dimandikannya separuh malam. Tak lupa dengan kembang tujuh rupa dan dupa kemenyan.

Esoknya, sebelum ia bertempur melawan. Ia menyempatkan diri berbincang dengan nenekku, bahwa Doa-kanlah aku, seluruh tubuhku hanya untuk bangsa tanah airku. Jika nanti aku gugur, maka ikhlaskanlah. Sebagaimana kamu mengikhlaskan membuat sepatu ini.

***

Tiga hari setelah itu, tepatnya pada hari Jumat. Seluruh warga diperkenankan untuk berkumpul di lapangan. Ada keputusan baru yang telah ditetapkan oleh atasan bahwa orang yang masuk dalam tawanan kerja paksa, mulai hari itu sudah dihapuskan. Setelah ada kabar bahwa penjajahan di atas tanah Indonesia terhapuskan. Dan pada saat yang bersamaan perang fisik telah sirna.
Apakah tubuh kakekmu saat berperang tidak ada luka?

Katanya sih, cuma di lengannya. Namun tetap saja ia kuat dalam melawan Belanda waktu itu. Sampai dapat mengalahkannya. Untungnya ia saat dipekerjakan dulu, ia sempat mencuri peralatan perang punya pasukan Belanda. Jadi waktu medan perang dimulai ia dengan leluasa menyerangnya.

Apa kamu juga meyakini, bahwa keselamatannya ada sangkut pautnya dengan sepatu itu?

Entahlah, tapi yang jelas setiap kali kakekku keluar rumah, ia tak pernah lepas memakai sepatu ini, bahkan di saat tidurnyapun ia tetap memakainya.

Aneh, aneh bangeet kawan.

Ya, begitulah kira-kira kejadian latar belakang sepatu ini. Keanehan dan kekuatan mitos masih ada di dalamnya. Saat ini aku hanya bisa berandai- andai, jika saja dulu ada satu toko yang di dalamnya hanya menjual perlengkapan perang, apakah kakekku akan membelinya?

Menurutmu posisi Tuhan di mana waktu itu?

Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu

Aku hanya merasa kasian pada Tuhan, bahwa kepercayaan dan keyakinan mereka, termasuk kakekmu telah digadaikan pada pohon-pohon yang besar, benda-benda aneh yang menurutnya ada hasiat yang berbeda dengan didatangkannya selamat padanya.
 Menurutku, posisi Tuhan ada di tengah- tengah mereka, namun karena mereka tak dapat melihatnya. Mereka berpaling sedikit menuju sesuatu yang dianggap konkret.

***

Begitulah kira- kira. Andai saja kakekku masih ada saat ini, mungkin ia akan sedikit kebingungan untuk memakai sepatu yang mana. Karena, kelangkaan sepatu ini menjadikan macam sepatu beraneka ragam. Perlu kamu tahu satu hal, kawan. Bahwa ternyata mitos masih melekat dalam diri manusia. jika saja orang yang percaya mitos itu tahu kalau aku menyimpan sepatu ini, pasti akan banyak orang- orang yang berbondong berdatangan ke mari.

Kalau kau mau, ini ambil saja. Lumayan buat menjaga-jaga keselamatanmu setiap hari.
Ha ha ha bisa aja kamu, kawan.***

Kutub 2014.


Ahmad Faridatul Akbar
Cerpenis Lahir di Kerta Timur Dasuk Sumenep. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.(LSKY ). Jln, Parangtritis KM 7,5. No 44 Cabeyan, Sewon Bantul, Yogyakarta.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

Harga Emas Kembali Stabil

Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

SMA Santa Maria Unggulkan Tim Putra

Selasa, 18 September 2018 - 13:20 wib

Subsidi Energi Membengkak

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Bersihkan Sisa Banjir, Belajar Ditunda

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Syamsuar, Gubernur Riau Terpilih Siap Dukung APPSI

Selasa, 18 September 2018 - 12:50 wib

Ulama di Ranah Minang Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid

Selasa, 18 September 2018 - 12:42 wib

Kakek 11 Cicit dan 31 Cucu Nikah Isbat

Selasa, 18 September 2018 - 12:30 wib

Mahasiswa Tuntut Stabilitas Rupiah dan Pengelolaan Blok Rokan

Follow Us