Mutakui

1 Juni 2014 - 07.24 WIB > Dibaca 2050 kali | Komentar
 
Mutakui
Pekan lalu, saya diajak beberapa kawan ke Kampar untuk mengunjungi satu-satunya candi yang ada di Riau. Kunjungan kesekian kalinya itu menerbitkan selera untuk mengetahui lebih jauh keberadaan dan sejarah Candi Muara Takus tersebut. Apalagi bangunan kurang terawat itu masih menyimpan rahasia yang belum terungkap secara mendalam. Bayangkan saja, sejak ditemukan seorang arkeolog Cornet D Groot 1860, hingga hari ini, sejarahnya masih juga kabur. Bagaimana mungkin, situs bersejarah yang disebut-sebut peninggalan peradaban Kedatuan Sriwijaya itu belum juga membuahkan hasil? Semua data dan fakta masih berupa silang pendapat antara satu peneliti dengan peneliti lainnya.  

Lebih miris lagi jika saya mengingat saat duduk di bangku sekolah dasar (SD) akhir 1980-an, dalam buku pintar yang beredar saat itu menyebut, Candi Muara Takus terletak di Provinsi Jambi. Dan itu diteruskan pula guru-guru yang hanya menelan ilmu dalam buku-buku untuk ditularkan kepada anak didiknya. Saya sendiri baru mengetahui benar bahwa Candi Muara Takus berada di Desa Muara Takus saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Itupun secara tidak sengaja ketika seorang kawan bercerita telah mengunjungi candi itu saat liburan sekolah. Kami sempat berdebat soal letak candi itu dan saya mengalah karena guru kami mengatakan, data di buku pintar itu salah. Sempat juga terpikir dan bertanya pada guru sejarah kami tersebut, jika data dalam buku itu salah, mengapa buku itu tidak ditarik dari peredaran? Ia (guru, red) kami itu hanya menjawab dengan senyum.

Kunjungan ke Candi Muara Takus kali ini, saya rasakan begitu istimewa karena kami menginap di kediaman juru kunci candi, Datuk Dubalai yang telah berusia 96 tahun. Orang tua yang ramah itu menuturkan banyak hal, perihal sejarah dan petuah lama yang syarat makna. Dari asal muasal peradaban, masa kejayaan (keemasan) serta memudarnya peradaban kedatuan tersebut sampai hari ini.

Penuturan Datuk Dubalai memang perlu dibuktikan, salah satunya luas kawasan kompleks candi tersebut. Kami mengikuti anjurannya dan memulai pantauan dari titik awal yakni kompleks candi Muara Takus. Kami menuju kawasan kanan candi menuju perkebunan karet dan sawit. Dalam kebun itu, kami mengais tanahnya dan menemukan bata merah, bahan yang sama dengan bangunan candi. Perkebunan itu seperti berada di atas laantai kompleks percandian yang diperkirakan jauh lebih luas dari kawasan saat ini. Lantai bata itu juga berada di kiri, depan dan belakang candi.

 Bahkan menurut catatan sejarah kawasan inti kompleks candi atau disebut zona satu seluas empat kilometer yang dibatasi tanggul purba dari gundukan tanah. Jika begitu, zona dua dan zona tiga jelas menunjukkan luasnya kompleks kedatuan Mutakui (sebutan orang tempatan untuk Muara Takus).  Jika ditilik hari ini, keberadaan kawasan kompleks candi itu tiada berdenyut, seperti mati. Sebuah situs peninggalan kebesaran kedatuan Sriwijaya, peradaban awal Indonesia sebelum Majapahit itu, bahkan tak mampu mengisahkan sumbangsihnya pada peradaban dunia. Hanya berupa gundukan dari susunan bata merah purba yang jauh dari keramaian manusia hari ini. Bertolak belakang dengan kepopuleran Candi Borobudur, Candi Perambanan, Candi Mendut dan banyak lagi.

Lantas, di manakah peran kita, pemerintah, pemerhati sejarah, seni-budaya dan lainnya saat simbol kebesaran itu semakin memudar? Begitu cuainya kita pada tapak peradaban yang seharusnya dianggungkan itu. Semuanya diam dan tak bergeming. Ada pun secuil perhatian, baik pemerintah pusat, provinsi maupun daerah bukan malah menyibak rahasia dan mengangkatnya pepermukaan, melainkan melakukan pengrusakan di sana-sini.  Lihatlah candi bisu itu, kian hari kian tergerus waktu dan kecongkakan kita. Apakah karena candi merupakan simbol dari kepercayaan lain sehingga kita sengaja melakukan pembiaran. Apakah karena tidak sesuai dengan kepercayaan kita, membuat kita sengaja menutup mata untuk pelan namun pasti melupakannya. Barangkali, di sinilah letak keangkuhan kita, jika tak sesuai dengan keyakinan kita maka hal itu bukan lagi bagian dari peradaban yang kita junjung hari ini.

Seharusnya, kita tidak melihatnya dari pandangan keyakinan kita. Harus diakui dan dunia mengakuinya bahwa Muara Takus itu peninggalan dari Hindu-Budha dan moyang kita bagian dari sejarah besar tersebut. Harusnya kita memandangnya dari sisi kebudayaan. Begitu hebatnya moyang kita melahirkan dan membangun peradaban yang masih tersisa hingga hari ini.   

Belum ada satu pihakpun yang secara sadar dan ikhlas mau untuk menggali rahasia yang tersembunyi di candi itu. Kita bahkan sibuk membangun gedung-gedung megah, tugu-tugu, monumen-monumen baru untuk menjadi simbol keberadaan kita. Namun sehebat apapun kita membangunnya dan sebanyak apapun uang yang tersedot ke sana tak kan mampu menutup sisa peradaban yang hening di ceruk kampung Muara Takus itu. Renungkan sajalah...(*)


FEDLI AZIZ
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Rabu, 19 September 2018 - 10:50 wib

Isi Berkurang, Minta Ganti ke Pangkalan

Rabu, 19 September 2018 - 10:40 wib

Jalur Truk CPO Lumpuh

Rabu, 19 September 2018 - 10:30 wib

Simpan di Saku Celana, Pengedar Narkoba Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 10:19 wib

Sarankan Pengurangan Gaji

Rabu, 19 September 2018 - 10:16 wib

X.O Cuisine & Dim Sum Sajikan Menu yang Berbeda

Rabu, 19 September 2018 - 10:13 wib

Hotel Labersa Tawarkan Promo September Fun

Follow Us