Redaksi

Menghukum Bangsa Sendiri

7 Juli 2011 - 07.56 WIB > Dibaca 683 kali | Komentar
 

KOMITE Normalisasi punya tugas berat. Pada 9 Juli 2011 nanti, komite yang mendapat mandat dari otoritas tertinggi sepakbola di dunia ini, FIFA akan menghelat Kongres Luar Biasa PSSI di Solo. Harapan kita semua, semoga kongres yang akan memilih ketua umum, wakil ketua umum, dan komite eksekutif PSSI sukses.

Berbeda dengan dua kongres terdahulu, yakni di Pekanbaru dan Jakarta yang gagal menghasilkan keputusan. Sekarang sedikit lebih “damai.” Tidak terlihat provokasi-provokasi yang dilakukan kelompok tertentu yang bisa kembali mengancam kelancaran kongres. Padahal jelang dua kongres terdahulu, “perang” urat syaraf sangat jelas terjadi antara kelompok yang punya kepentingan masing-masing.

Kesadaran akan pentingnya menyelamatkan sepakbola Indonesia bisa jadi mengilhami para pihak-pihak yang punya kepentingan. Memaksakan kehendak pribadi dan kelompok hanya akan menjadi malapetaka bagi bangsa Indonesia yang mencintai sepakbola. Hukuman FIFA yang sudah berkali-kali mengancam Indonesia harus dihindari. Satu-satunya jalan hanyalah menyukseskan Kongres Luar Biasa PSSI di Solo, 9 Juli nanti. Tidak mudah, perlu komitmen kuat dari peserta kongres untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok demi menyelamatkan Indonesia.

Dua kongres “gagal” sebelumnya sudah cukup menjadi pelajaran. Pepatah bijak menyatakan “keledai saja tidak mau jatuh dua kali di lubang yang sama.” Memang sudah keterlaluan karena kongres sudah dua kali gagal. Tapi kita tetap berharap jangan sampai jatuh tiga kali di lubang yang sama.

Meski terlihat “damai”, tapi potensi deadlock (buntu) tetap ada. Perbedaan pendapat antara Komite Normalisasi dengan Kelompok 78 yang kini berganti “baju” menjadi Pemilik Suara Mayoritas bisa menjadi sumber petaka. Kalau Pemilik Suara Mayoritas tetap “memaksakan” jagoannya ikut pemilihan ketua umum dan wakil ketua umum, George Toisutta dan Arifin Panigoro, maka kongres tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali sanksi FIFA.

Kedatangan Wakil Presiden FIFA Pangeran Ali Bin Al Hussein pada 13 Juni 2011 lalu sempat menghembuskan angin sepoi-sepoi ke kubu George Toisutta dan Arifin Panigoro. Tenyata angin itu tidak cukup, karena sampai saat ini belum ada surat FIFA yang merevisi surat terdahulu tentang pelarangan terhadap keduanya. Dengan kenyataan itu, Pemilik Suara Mayoritas sepantasnya berpikir bijak demi bangsa dan negara. Semoga pemilik suara di kongres PSSI yang notabene para pengurus sepakbola di daerah masing-masing punya komitmen yang kuat untuk menyelamatkan sepakbola Indonesia, bukan sebaliknya menghukum bangsa sendiri.***
KOMENTAR
Terbaru
PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah

Selasa, 20 November 2018 - 21:38 WIB

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 19:30 WIB

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 WIB

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 WIB

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 WIB

Follow Us