Riau Hitam-Putih International

Menuju Era Musik Melayu Baru

1 Juni 2014 - 07.42 WIB > Dibaca 1124 kali | Komentar
 
Menjaga kelestarian musik Melayu harus diupayakan dengan langkah kongkrit. Manjaga juga tidak semata-mata diterjemahkan sebagai menempatkan musik Melayu di atas menara gading namun juga ruh tradisi yang terdapat di dalamnya bisa menjadi pijakan yang harus dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Malay Music Institut (MMI) merupakan salah satu lembaga independen yang lahir dari sebuah kehendak tulus anak negeri Melayu Riau yang beritikad untuk terus berupaya dan peduli terhadap keberadaan dan perkembangan musik khususnya musik tradisional Melayu Riau.

Kepedulian ini dibuktikan dengan melaksanakan sebuah helat yang diberi nama Riau Hitam-Putih International, sebuah kegiatan musik berskala internasional yang dilaksanakan sejak  2003. Tahun ini, MMI kembali menaja helat serupa dengan mengusung tema 8th Riau Hitam Putih International 2014: Malay Melodies.

Berbeda dari sebelumnya, konsep Hitam-Putih International yang dipergelar hanya dalam bentuk pertunjukan atau konser, tahun ini diarahkman untuk diadakan workshop terlebih dahulu. Seperti yang disampaikan Ketua Dewan Pendiri MMI, OK Pulsiamitra dalam bincang-bincang dan diskusi musik di Taman Budaya pada malam persiapan kegiatan Hitam-Putih International. Katanya, dengan diadakan workshop diharapkan dapat menghasilkan atau memunculkan musisi-musisi baru Riau.Dengan menghadirkan narasumber dari musisi-musisi handal Riau dan bahkan luar negeri, diharapkan para peserta workshop yang terdiri dari musisi masing-masing kabupaten yang ada di Riau ini dapat menggali  ilmu serta bertukar pengalaman dengan para narasumber.

Perhelatan musik seperti ini snagat penting untuk terus digalakkan, selain menjadi ajang silaturahmi para musisi, tentu saja diharapkan ke depannya akan bermunculan musisi-musisi baru, ujar Kepala Taman Budaya Riau tersebut.

Dalam event yang digelar selama tiga hari (28-31 Mei 2014) ini, Malay Musik Institute tetap menyelenggarakan beberapa kegiatan pendukung seperti music apresciation forchildren, cakap-cakap musik di radio dan tv, worldmusic goes to school, dan yang kegiatan inti berupa workshop. Hasil dari workshop itulah yang dipertunjukkan pada malam puncak, Sabtu malam (31/5) di Gedung Tertutup Anjung Seni Idrus Tintin.

Direktur MMI, Hari Sandra Hasan menegaskan yang menjadi dasar pelaksanaan event worldmusic adalah berangkat dari keinginan bersama untuk melestarikan, mengembangkan dan memasyarakatkan musik tradisonal khususnya kepada kalangan generasi muda. Nah, dengan mengkolaborasikan musik modern ke unsur musik tradisional tempatan, diharapkan mampu menjaga kelestarian musik tradisi yang pada kenyataannya memang sudah diambang kepunahan, jelas Hari.

Memang diakui, Hari bahwa MMI dalam proses melaksanakan kegitan ini menyadari satu hal bahwa dalam upaya untuk memasyarakatkan kembali musik tradisi khususnya di kalangan generasi muda akan sulit terwujud apabila musik tradisi tersebut tidak didekatkan dengan musik modern atau musik populer saat ini. Hal ini pun sejalan dengan semangat Malay Music Intitute dalam mengembangkann musik tradisi yang memang senantiasa berkembang, katanya.

 Adapun pelaksanaan tahun ini, MMI mendapat dukungan penuh dari kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau. Dengan tema Malay Melodies atau melodi dari tanah Melayu,Riau Hitam-Putih International diharapkan dapat mengangkat kekayaan khasanah melodi musik Melayu Riau.

Melodi adalah elemen musik yang penting. Melodi bahkan memnjadi batang tubuh dari sebuah musik, tanpa unsur melodi, sebuah lagu menjadi tidak bergairah. Hari mengatakan banyak unsur-unsur melodi di tanah Melayu Riau ini yang belum terangkat. Dicontahkannya, alat-alat musik melodi tidak hanya gambus, accordion, dan biola. Di Riau terdapat banyak ragam alat musik melodi lainnya, calempong, gambang, nafiri bahkan sastra lisan juga merupakan unsur kekayaan melodi di tanah Riau ini. Nah, inilah yang coba kita gali kembali dalam workhsop ini dan hasilnya akan ditampilkan dalam bentuk kolaborasi antara sesama peserta dan narasumber, jelas Hari lagi.

Sementara itu, salah seorang musisi muda Riau sekaligus narasumber di acara workshop yang ditaja, Rino Dezapati menyebutkan, berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang perkembang musik menjadi penting hari ini. Ditambah lagi, kegiatan besar musik di Riau tidak ada lagi sehingga seniman musik seperti kehilangan panggung untuk menuangkan gagasan dan ide musiknya. Tentu saja dalam kesempatan ini kita bisa berbagi ilmu dan pengalaman demi kemajuan seni musik itu sendiri. Bahwa musik itu butuh panggung sendiri, musik tidak hanya sebagai pengiring tari, ucap Pimpinan Riau Rhythm Chamber itu tegas.

Tradisi Bukan Sekedar Barang Antik
Tradisi bukan hanya menjadi barang antik yang gunanya hanya untuk dipajang saja. Tetapi sekarang ini di mana tranformasi kebudayaan menjadi sesuatu hal yang tidak aneh lagi,  seharusnya kekayaan tradisi juga menjadi sesuatu yang terus bergulis mengitku perkembangan zamannya. Demikian beberapa hal penting yang disampaikan salah seorang narasumber, Arman Rambah kepada peserta workshop.

Plt Ketua Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) itu menilai apa yang dilakukan MMI selama ini sebenarnya bermaksud untuk tetap berupaya melestarikan tradisi musik Melayu Riau itu sendiri dengan cara mengolaborasikan musik tradisi dan modern kepada generasi muda terutama. Memang ironis, lanjut Arman, adanya anggapan yangmengatakan seniman musik akan dianggap kebarat-baratan bilamana menggunakan gramatika dan estetika musik barat di dalam karya musiknya sedangkan di lain pihak, seseorang musisi dianggap membumi hanya sekedar menggunakan atau memainkan alat-alat musik tradisi. Pernyataan yang terkesan paradoks ini perlu kita cermati bersama. Pandangan ekstrim terhadap temuan-temuan baru, misalnya aransemen musik yang agak modern selalu disimpulkan sebagai sebuah kesenian yang tidak tradisi. Padahal aransemen yang dikatakan tidak tradisi itu adalah bentuk dedikasi seorang arranger terhadap kesenian tradisi itu sendiri. Seni musik sebagai elemen kebudayaan itu seharusnya perlu penafsiran ulang dalam perkembangannya terutama menemukan dna memunculkan kembali kearifan lokal yang ada di dalam tradisi tersebut, jelas Arman.

Sementara itu, narasumber lainnya yang berasal dari Kuala Lumpur, Jart Hassan mengemukakan dengan bersumber musik tradisi Melayu, maka saat ini perlu diupayakan sebuah gerakan menuju ke arah musik Melayu era baru. Dicontohkan pimpinan kumpulan musik Field Player tersebut, proses penghasilan karya musik seperti musik tradisi ghazal, joget, inang, zapin dna lain-lain harus dijadikan sebagai sumber referensi (home base). Di nusantara khasnya Malaysia dan Indonesia sendiri, hampir semua genre musik yang berada di pasaran bersumber ke musik Barat. Walaupun medium bahasanya adalah bahasa Melayu tetapi tidak berarti bahwa balutan musiknya bersifat tempatan. Saya kira, hal ini menyebabkan proses memperkaya kahzanah musik tempatan menjadi terbantut dan menyebabkan hala tuju musik Melayu semakin kabur dan hilang daya saingnya, kata Jart Hassan.

Diakuinya juga upaya untuk memasukkan elemen musik tradisi atau rakyat (folk) ke dalam musik modern memang banyak dilakukan tetapi ianya tidak lebih dari bersifat tempelan sahaja dan bukannya paduan ataupun padanan justeru itu akhirnya tidak melahirkan musik baru yang bercirikan Melayu.

Musik tradisi pula walupun telah diperkaya dengan lagu-lagu baru tetapi ianya masih di dalam bentuknya yang asal tanpa sebarang evolusi radikal kepada bunyinya menyebabkan terjadinya jurang yan gkentara antara musik modern dan tradisi. Bahkan lebih parah lagi, musik tradisi sering dilihat sebagai sesuatu yang bersifat occasion dan festival malahan sering dianggap sebagai terkebelakang dan feudal.

Dengan dilaksanakannya helat hitam-putih Internasional worldmusi ini sebagai suatu usaha bersama untuk merapatkan jurang tersebut dengan mewujudkan suatu genre baru music Melayu di dalam seni musik yang mampu untuk berdaya saing dengan musik lain di pasaran tempatan maupun antarabangsa, tutup Jart.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us