Suara 10

1 Juni 2014 - 07.48 WIB > Dibaca 2214 kali | Komentar
 
HARI itu, buat pertama kali dia berpikir bahwa barangkali ibu bukanlah ibunya. Dengan demikian, begitu saja ia merasakan, tidak perlu lagi menahan rasa sakit saat bersuara untuk mengucapkan panggilan, Ibu Sebuah pikiran yang muncul bersamaan dengan petir dan guruh yang memenuhi angkasa raya, dalam bentangan tirai abu-abu melingkupi segala benda.

Akan ia buktikan semuanya itu kelak, saat perempuan tersebut pulang, bersama mereka di rumah dalam suatu suasana yang lama sebelum kantuk menyerang dari semua sudut. Tidak untuk sesiapa. Tidak untuk perempuan yang selama ini dipanggilnya ibu. Tak untuk Dimas, tak untuk Rido, tak untuk Suman, pun bukan untuk Dito, bukan untuk Nini, Atik, Meidi, Gima, Supi, Arsa, dan Wela, yang kesemuanya adalah adik-beradik atau adik-kakaknya. Tidak, tidak untuk mereka, tetapi untuk dirinya sendiri. Untuk dirinya saja.

Ya, untuk aku sendiri, katanya pelan sambil menutup gorden dengan cepat, merahap cermin-cermin dengan kain, lalu seperti terbang ia berlari ke dapur. Menghidupkan kompor, menjerang air. Demikian ia selalu diingatkan, kalau petir sembar-menyembar. Bukan sekedar mitos memang, tetapi setidak-tidaknya dapat membentengi orang-orang di rumah terutama anak-anak dari pemandangan peristiwa alam yang seperti tak bersahabat tersebut.

Berpikir untuk diri sendiri, berarti ia harus bersiap-siap, untuk tidak meluahkan apa pun bentuk perasaannya sehubungan dengan pikiran tentang ibu yang bukan ibunya. Di mulut, sebutan Ibu itulah yang keluar, sedangkan hatinya menolak makna yang berada di balik belakang kata panggilan tersebut. Dalam hatinya, harus ia tanamkan bahwa orang yang dipanggilnya ibu itu, bukanlah ibunya. Entah siapa, ia tak peduli. Tak ada seorang pun yang boleh tahu soal ini.

Cuma saja jelas bahwa orang yang dipanggilnya ibu itu adalah seorang perempuan. Apakah perempuan itu yang melahirkannya, apakah ia memang keluar dari rahim perempuan tersebut, sama sekali ia tak tahu. Kepada siapakah ia dapat meminta kesaksian sehubungan dengan lahir-melahirkan itu? Mau cari ke mana orang yang dapat memberikan kesaksian peristiwa yang seharusnya menjadi catatan tersendiri bagi setiap individu.

Konon, daerah mereka yang asal bukan di sini, tetapi jauh di sana yang tak sekalipun pernah mereka kunjungi. Mereka merantau di sini. Mereka membuat keluarga baru di sini. Perempuan yang dipanggil ibu itu sedikit pun tidak pernah menceritakan daerah asal mereka entah sebab apa. Mereka tak punya kampung halaman, menemui hakikat pepatah, Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Dengan latar-latar semacam itu, masuk akal pula bila ia kemudian merasakan bahwa hanya tiba-tiba saja ia harus memanggil perempuan tersebut dengan sebutan Ibu. Memang diingatnya masa-masa kecil dengan perempuan itu, sampai besar panjang seperti sekarang. Perempuan itu menyuapnya, menemaninya bermain, menidurkannya, mengantarnya ke sekolah, dan segala hal yang begitu panjang untuk dibeberkan satu per satu. Lesutan tangannya, cubitan dari jari-jemarinyanya, bahkan belaian lembutnya, bercampur aduk dalam ingatan.

***

SAMA sekali tidak diingatnya, sejak kapan pula ia menahan rasa sakit saat bersuara untuk mengucapkan panggilan, Ibu Mungkin lama, mungkin baru. Tapi jelas di sini dan kini. Begitu saja ia menyadari bahwa sakit di tenggorokan saat ia mengeluarkan suara untuk menyebut, Ibu. Tak ada rasa sakit sedikit pun, saat ia mengucapkan sesuatu yang lain dari kata panggilan tersebuttermasuk dengan kata yang berdekatan dengan sebutan ibu seperti itu, iku, dan entah apa lagi.

Pun, tidak dirasakan sakit saat ia mengeluarkan suara untuk menyebut Ibu kalau subyek ibu yang dikenalnya selama ini, tidak berada di depannya. Dalam keadaan sendiri misalnya, ketika kata panggilan tersebut diucapkannya, rasa sakit tersebut tidak ada. Berarti, demikian ia menyimpulkan, rasa sakit saat mengeluarkan suara ibu, baru dirasakan, ketika perempuan tersebut berada di depannya dan ia pula yang menjadi maksud ketertujuan panggilan ibu yang diucapkannya.

Telah dicobanya menggantikan kata ibu dengan kata lain yang maknanya menjurus pada pengertian ibu sebagaimana dipahaminya selama ini. Bukankah ada kata lain seperti emak, omak, bunda, mbok, mande, ambuk, bahkan mam, mama, dan mami.  Tetapi tenggorokannya tetap merasa sakit saat mengeluarkan suara untuk mengucapkan kata-kata pengganti tersebut. Ketika semua kata pengganti itu tidak diucapkannya melalui mulut, hanya dalam hati saja, tenggorokannya terasa menggaruk-garuk perih.

Jadi, persoalannya bukan terletak pada kata ibu, tetapi maksud ketertujuan panggilann itu sendiri. Bagaimana lagi, justeru maksud ketertujuan itu pulalah yang harus dinafikannya, bukan kata panggilan tersebut. Kata Ibu, bukanlah perempuan yang selama ini dipanggilnya, Ibu. Perempuan itu boleh apa saja asalkan bukan orang yang dikatakan melahirkan dan membesarkannya itusuatu peran yang telah meliputi segala perasaan dan pikirannya selama ini.

Tidak, ia merasa tidak menjadi anak durhaka dengan pikiran sekaligus akan melakukan tindakan berkaitan dengan perempuan yang dipanggil ibu, tetapi bukanlah ibunya. Sebab tujuannya bukanlah pada penafian tersebut, tetapi adalah untuk menguji bahwa ia merasa tidak kesakitan ketika mengeluarkan suara untuk memanggil, Ibu Kata Ibu tetap akan dilafazkannya, tetapi dengan anggapan bahwa yang dipanggilnya bukanlah ibunya. Itu pun hanya untuk dirinya sendiri, diketahui orang lain pun tidak, bahkan oleh perempuan tersebut.

Ia bukan Dedap, bukan Malinkundang, bukan Sampuraga, bukan Sangkuriang, dan bukan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri. Sebab mereka jadi terkutuk karena memang menolak ibu dalam pengertian lahiriah dan batiniah oleh sesuatu yang datang dari luar. Saudagar kaya merasa malu mengaku ibunya sendiri ketika berhadapan dengan isterinya yang cantik-molek. Lagi pula, perempuan yang mereka tolak sebagai ibu, benar-benar perempuan yang melahirkan dan membesarkan mereka.

Kalau dia? Dia kan tidak tahu apakah memang benar perempuan itu ibunya atau tidak, pun tetap menggunakan kata ibu untuk memanggil perempuan tersebut walaupun di dalam hati menolak pengertian yang terkandung di balik kata ibu. Peristiwa menolak pengertian kata ibu sebagaimana lazimnya, hanya terjadi dalam dirinya saja. Pergumalan batin yang tak dapat ditebak oleh orang lain. Ia hanya ingin tidak sakit ketika mengeluarkan suara dan kebetulan sekali hal itu berlaku hanya untuk kata ibu, bukan dengan rasa malu dan sakit hati.

***

Cuma saja, tak ada kekuatan baginya sedikit pun untuk bertindak sebagaimana yang direncanakannya. Di depan perempuan tersebut, nyatanya ia masih seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Langkahnya terus mendekati perempuan itu, siap sedia mendengar perintah dan permintaannya. Seperti ada magnet besar dalam tubuh perempuan tersebut dan ia sendiri laksana hanya sepotong besi kecil. Pertiwi namaku, ibumu. Ingat itu, begitu selalu didengarnya dari perempuan tersebut.

Segera diambilnya air putih swam alias hangat-hangat kuku begitu perempuan itu muncul di rumah. Diulurkannya juga handuk agar perempuan itu dapat menghelap beberapa bagian tubuhnya yang terkena hujan. Duduk pula ia di depannya, berjarak hanya semeter lebih. Dengan suatu pandangan, ia tahu bagaimana perempuan tersebut menyimpan maksud yang besar. Ia tepis hasrat menerka maksud tersebut dengan cara mengalihkan pandangan. Ditubrukkannya penglihatan keluar rumah, kepada hujan yang ternyata mulai mereda.

Ibu, dia coba membuka mulut tanpa memasukkannya dalam hati, sehingga ia berpikir telah menganggap kata panggilan itu tidak memenuhi maksudnya yang lazim. Tapi tak bisa, makna yang dibawa oleh kata ibu tersebut sebagaimana terjadi di dalam dirinya selama ini, tidak terusir dengan serta-merta. Tetap sakit dirasakannya di kerongkongan ketika mengeluarkan suara untuk meyebut kata tersebut. Diulanginya lagi, diulanginya lagi, sehingga berulang-ulanglah rasa sakit menyerang kerongkongannya.

Apa lagi? Sudahlah. Sebagai anak, terima saja apa yang ibu katakan. Usah bicara keadilan, kepastian hukum, dan semua penghasilan kalian ibu kumpulkan dalam satu tempat. Kalau ibu memiliki lebih, wajar kan, karena ibulah yang telah memelihara dan membesarkan kalian. Ibu memang perlu lebih bersolek misalnya, karena ibu sudah tua, sedangkan kalian masih mudatak perlu banyak berhias.

Seperti yang sudah ditebaknya, perempuan tersebut kemudian mengatakan agar ia jangan memikirkan diri sendiri sebagai pihak yang memiliki penghasilan paling banyak. Lihat juga adik-kakak adik-abang yang lain. Lagi pula, keperluannya pun tak banyak, tidak seperti adik-adiknya yang baru tumbuh. Ia pun disebutnya harus menahan diri untuk menikah walau umur sudah berkepala sekian, sebab dengan menikah, ia akan meninggalkan rumah ini dengan membawa berbagai kebendaan.

Cuma, ia berkata dalam hati, orang itu tidak menyebutkan bagaimana ia telah berfoya-foya dengan semua yang ada. Hampir setiap hari arisan, malah di luar batas gonta-ganti pacar. Mementingkan kelompok sendiri dengan menyingkirkan kelompok lain. Menggunakan segala cara untuk merebut keberpihakan. Fitnah adalah alat yang pelurunya adalah uang. Telah ditanamkan berbagai ketergantungan. Perempuan ini tak pernah memikirkan orang-orang yang memanggilnya ibu, kecuali untuk dirinya sendiri agar tetap berkuasa di atas segalaya.

Bukan itu maksudku, bukan itu

Perempuan tersebut tak peduli, bergegas keluar rumah dan menguncinya dari luar sebagaimana acap kali dilakukannya. Sementara ia melongo sambil bertanya dalam hati, Bukankah aku hanya berpikir bahwa barangkali ibu bukanlah ibuku, sehingga tenggorokanku tidak merasa sakit ketika mengeluarkan suara untuk menyebut kata panggilan tersebut?

Pertanyaan di dalam hatinya itu seperti dijawab oleh suara petir yang berdentum amat kuat. Tiba-tiba saja ia merasa perempuan tersebut disembar meriam alam itu, tetapi tidak sampai menjadi batu seperti dongeng yang pernah didengarnya. Sebab, ia masih ingin belajar untuk menyebutkan kata ibu tanpa makna yang lazimnya menyertai kata panggilan tersebut ketika berhadapan dengan perempuan itu. Ia masih ingin belajar.***



Taufik Ikram Jamil
adalah sastrawan Riau yang aktif menghasilkan karya-karya sastra berupa sajak, cerpen, esai dan novel. Saat ini, ia mengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning. Tinggal di Kota Bertuah Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Follow Us