Jangan Sepelekan Potensi Anak

8 Juni 2014 - 07.37 WIB > Dibaca 1391 kali | Komentar
 
Jangan Sepelekan Potensi Anak
Sekolah seharusnya bukan sesuatu hal momok yang perlu ditakutkan. Meski realitanya sekarang adalah anak-anak stres dengan tugas dan PR yang berjibun. Belum lagi ketika akan menghadapi ujian.  Lihatlah ketika anak anak SMP-SMA akan ujian nasional mereka kalang kabut, stres ada yang sakit dan tidak lulus sungguh miris. Problem lain adalah tentang kurikulum pendidikan kita yang selalu berubah. Banyak para ahli menyarankan agar pendidikan kita lebih enjoy (menggembirakan) dan tidak memaksakan keseragaman penilaian pada anak. Sebab hal ini bisa menyepelekan potensi anak yang terpendam. Sebenarnya jika ujian tidak hanya berdasar pada hafalan, rumus semata potensi anak akan tergali.

Jika hanya berdasar kertas ujian, sungguh miris sekali. Masing masing anak punya bakatnya sendiri. Kita tidak bisa menentukan jika anak tidak berbakat matematika berarti bukan anak yang pintar atau jika baru menguasai semua pelajaran dengan nilai tertinggi dilabelkan anak pintar. Anak Indonesia dituntut menguasai semua bidang? Bisa dibayangkan betapa stresnya anak kita.
 
Menurut penelitian perkembangan anak usia dini di indonesia perkembangan motorik dan sosial Indonesia lebih berkembang dari anak Barat karena stimulasinya antara sang bayi dengan lingkungan sekitar yang mendukung seperti belaian, sentuhan, stimulasi bahasa. Tetapi giliran setelah umur 2 tahun anak-anak kita jauh menurun perkembangannya dibandingkan anak di luar negeri. Padahal ada sekolah, tapi mengapa perkembangannya malah menurun? Apa yang salah dengan pendidikan kita? Ternyata di usia 2 tahun ke atas kita lebih gemar mengkritik anak daripada memberi motifasi belajar mereka. Selain itu sistem pendidikan kita tidak mendukung.

Coba tonton di Kick Andy berapa warga negara indonesia yang berhasil di luar dan dihargai. Karena  di dalam negeri keahlian tidak dihargai. Bahkan di sistem penggajian PNS atau swata berdasarkan strata pendidikan bukan keahlian atau berapa lama ia mengabdi. Seandainya berdasarkan sistem keahlian tentunya tidak ada guru yang berlomba lomba mengejar waktu mengajar, menambahi jam pelajaran, sehingga siapa yang jadi korban? Jelas para murid-murid itu sendiri.

Anak-anak pada usia emas sebenarnya memiliki bakat yang berbeda. Hanya saja karena kebiasaan menyeragamkan penilaian membuat bakat mereka tenggelam begitu saja. Sebagai contoh nyata di Singapura ada seorang pebisnis sukses bernama Adam Khoo. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV. Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas empat SD, ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun pindah ke SD terburuk di Singapura.

Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana. Akhirnya, ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis. Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset per tahun 20 juta dolar AS.

Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai 10.000 dolar AS per jam.

Artinya guru maupun orangtua jangan sepelekan potensi anak meski ia sekarang dari segi akademik tidak hebat. Bantu dengan motivasi bukan kritik yang merendahkan.***


Helfizon Assyafei

Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us