Hitam-Putih International 2014

Melodi dari Tanah Melayu

8 Juni 2014 - 08.08 WIB > Dibaca 1564 kali | Komentar
 
Musik adalah bunyi. Lalu bunyilah yang kemudian menjadi penanda dan identitas dari sebuah karya musik. Identitas yang berangkat dari pakem, idiom dan metafor Melayu Riau,  
itulah yang dapat diapresiasi pada pentas Musik Hitam-Putih Internatinal 2014 yang diselenggarakan Malay Music Institue (MMI) di Anjung Seni Idrus Tintin, Sabtu (31/5) lalu.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Simbahan lampu aneka warna di panggung menyiram para musisi Riau yang dengan bangga mengekspresikan karya musik mereka di acara puncak 8th Riau Hitam Putih International 2014: Malay Melodies. Sesuai dengan tema yang diangkat dalam penyelenggaraan tahun ini yaitu Malay Melodies atau melodi dari tanah Melayu. Tak heran kemudian komposisi musik yang dihadirkan lebih menekankan kepada musik-musik melodi dari tanah Melayu Riau terutama pada persembahan sebuah garapan musik yang diberi judul Malay Melodies.

Bunyi-bunyian yang dapat dicerna dari komposisi musik yang diaransment SPN Zuarman Ahmad itu berupa bunyi alat-alat musik melodi yang ada di Riau, misalnya gambus, accordion, calempong, biola, harmonium, cello dan syair-syair dari tanah Melayu. Bersama-sama dengan musisi dari daerah dan juga dibantu dengan musisi Pekanbaru, komposisi musik yang dipersembahkan menjadi suatu karya yang memang menjadi target dari workshop yang dilakukan selama dua hari sebelumnya.

Direktur MMI, Hari Sandra Hasan mengakui hasil karya musik dari workshop yang ditaja cukup bagus dan mendapat apresiasi dari penonton yang memenuhi gedung pertunjukan. Dari pandangan kita, untuk capaian yang diharapkan cukup memuaskan, artinya audien yang datang dan juga upaya kita yang berkeinginan menggabungkan kawan-kawan musisi melodies terlaksana, dan hasil karya yang dibuat juga cukup bagus, kata Hari.

Senada dengan itu, Kepala Taman Budaya Riau, OK Pulsiamitra yang turut hadir menyatakan keinginan bersama yang menjadi hajat MMI itu terlaksana dengan baik dan tepat sasaran. Artinya kenapa dipilih tema tahun ini itu melodi dari tanah Melayu karena melihat beberapa tahun belakangan, beberapa musisi Riau lebih banyak bermain pada alat perkusi dan memang perkusi mudah untuk dimainkan. Namun berdasarkan pembinaan kita selama ini, ternyata pemain melodi itu sudah banyak. Dulu barangkali pemain biola hanya dikenal Santos seorang tapi sekarang sudah ramai, itulah contoh kecilnya tetapi kemudian yang penting selain itu adalah tadinya generasi muda gengsi memegang gambus ke sana dan kemari, kini kita bisa memperhatikan mereka justru merasa bangga memanggul gambus. Nah, inilah barangkali upaya MMI bagaimana mendekatkan emosional remaja kepada musik tradisi, ucap Ketua Dewan Pendiri MMI tersebut.

Sementara itu, SPN Zuarman Ahmad selaku komposer karya Malay Melodies mengatakan yang namanya workshop itu bagaimana peserta kemudian dapat menghasilkan karya setelah usai pelaksanaan workshop akan tetapi oleh karena waktu pelatihan tidak lama, jadinya harus ada campur tangan dari narasumber. Zuarman menilai, komposisi Malay Melodies yang sudah dipergelarkan itu belum cukup signifikan. Kita tentu tidak dapat menghadirkan jenis alat musik melodi itu semuanya karena dalam waktu hanya dua hari serta keterbatasan-keterbatasan lainnya jadi tidak memungkinkan. Hanya saja saya melihat, untung saja beberapa peserta merupakan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) jadi tidak ada masalah dengan pembacaan atas not. Dengan waktu yang singkat, tentu saja hal itu sangat membantu proses produksi karya kompisi musik Malay Melodies ini, jelas Zuarman.

Secara pribadi, Zuarman juga mengatakan kurang berpuas hati karena menurutnya, betapa kalau dikolosalkan alat musik melodis di Riau ini sebenarnya lebih bisa menghasilkan karya yang lebih menarik. Akan tetapi untuk tujuan yang demikian tentulah memerlukan waktu yang lebih panjang.

Minimal satu minggulah. Jadi apa yang sudah dipentaskan itu minimal menjadi contoh saja bagi peserta workshop, sedangkan bentuk garapannya masih bisa dikembangkan. katanya.

Malam puncak Musik Hitam-Putih International 2014 itu juga dimeriahkan dengan tampilan dari beberapa grup musik yang ada di Riau dan Malaysia. Diantaranya, Riau Rhythm Chamber Indonesia membuka penampilannya dengan sebuah garapan yang menghentak dengan judul Bono. Kemudian dilanjutkan dengan karya berikutnya yang diberi tajuk Dentang, Denting Dentum.

Disusul setelah itu penampilan grup musik dari Malaysia, Field Player. Dibuka dengan sebuah musik yang berjudul Rajawali. Dilanjutkan dengan karya Joget Alahai (ape cerite) dan karya berikutnya, Fiels Player melalui pimpinannya Jart Hassan menjelaskan karya yang ketiga tersebut menceritakan perjalanan Field Player selama mengikuti event musik Hitam-Putih ini selama sepuluh tahun belakangan.

Sebuah grup musik dari Kabupaten Meranti juga turut meramaikan persembahan musik malam itu. Grup Bathin Galang yang dinakhodai Sopandi itu membawakan dua buah karya. Sebuah lagu berjudul Marwah Meranti sebagai pembuka dan kemudian dilanjutkan dengan komposisi musik yang sudah pernah dipentaskan di Ampang Selangor-Malaysia yang diberi judul Meranti di Ujung Angan.

Mewakili kawan-kawan musisi daerah, Sopandi mengatakan acara yang ditaja MMI sangatlah bagus. Adanya upaya untuk bersama-sama berkumpul dalam sebuah wadah musik di mana ada capaian yang jelas yakni berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman sesama musisi di Riau. Terlebih lagi, adanya upaya membangkitakan minat kepada generasi muda untuk mengenal musik tradisi, saya kira itu yang menjadi penting di zaman sekarang ini, ucap pemuda asal desa Bokor, Kabupaten Meranti tersebut.

Pimpinan Riau Rhythm Chamber, Rino Dezapati juga menyatakan hal serupa bahwa pentingnya diadakan kembali Riau Hitam-Putih International World Music Festival yang berskala International ini. Sebab kata musisi muda Riau itu, sangat menguntungkan terutama mampu mengangkat komposer-komposer di tanah Melayu ini untuk lebih meningkatkan kemampuannya dalam membuat karya berkelas industri, performing art dan bahkan musik serius.

Ini tidak diragukan lagi, jelas tampak dari pertemuan ini. Musisi-musisi muda dan komposer muda banyak sekali lahir saat ini. Mudah-mudahan ini menjadi laluan untuk festival musik tepatnya pentas-pentas musik untuk bisa diapresiasi agar perkembangan musik kita up to date dan melahirkan karya-karya yagn bernas dan berkualitas, jelas Rino sembari berharap acara serupa ini tetap harus mendapat support dari pemerintah, sponsor, donatur agar tidak hilang seperti sebelumnya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us