Darwesh

8 Juni 2014 - 08.16 WIB > Dibaca 1989 kali | Komentar
 
Tatkala aku mendengar decit kereta mengerem perlahan di depan stasiun Longjourney, mataku terbuka. Kulirik jam di tangan kiriku: pukul sebelas malam. Ini adalah kereta terakhir menuju Yemen. Aku segera bangkit dari tidurku di bangku panjang yang tersedia di peron stasiun, lalu perlahan naik ke salah satu gerbong.

Belumlah aku benar-benar menemukan nomor dudukku, petugas pengatur kereta dari luar telah meniupkan sempritnya menyuruh kereta bergerak. Tubuhku pun langsung berguncang; aku berupaya mencengkeram sebisanya sisi kursi di kiri dan kanan. Setelah kereta berjalan stabil, aku melangkahkan kaki kembali dan mencocok-cocokkan antara nomor kursi di kereta dengan yang tertera di tiket.

Permisi. Aku mencoba membangunkan seorang wanita. Dia menimpahi mukanya dengan selimut tebal berwarna cokelat tua. Dari sepatu hak tingginya aku bisa menebak dia berusia muda. Dia membuka selimutnya dan menatap dengan mata berat.

Apakah ini benar 11B? kataku sambil menunjukkan tiket.

Oh benar, maaf. Wanita itu kemudian mengambil tas jinjingnya yang memang diletakkan di atas kursiku, lalu memindahinya di pangkuannya.

Aku pun mulai membuka bagasi tepat di atas kursi kereta. Aku terperangah, ternyata bagasi telah penuh. Pantas saja dia meletakkan sebagian barangnya di atas kursiku tadi. Aku terpaksa memeluk tasku di pangkuan, sama seperti yang dilakukan wanita itu.

Apa Anda berangkat dari Darwesh?

Dia hanya mengangguk. Dari raut wajahnya memang terpancar keletihan. Aku mafhum, Darwesh ke Yemen memakan waktu tujuh belas jam. Dan ini belum setengahnya. Aku membentangkan selimut menutupi kedua kakiku. Aku biarkan wanita itu tidur kembali.

****

Dalam laju kereta yang bergerak sedang dan menina-bobokan, aku merasa seperti ada yang menggoyang-goyangkan lengan kananku. Awalnya sesekali, akhirnya makin jadi. Aku pun membuka mata, lalu menguceknya untuk memastikan bahwa benar yang menggoyang-goyangkan lengan kananku itu adalah wanita di sebelah tadi.

Ya? kataku.

Apakah Tuan mau mendengar ceritaku?

Ya, ada apa?

Wanita itu tiba-tiba menangis. Wajahnya yang cantik bagai bunga mawar mekar berubah layu dan kisut. Dia berusaha menutupi wajahnya itu dengan kedua telapak tangan. Lama sekali. Hingga akhirnya dia mau melepaskan kedua telapak tangannya itu dan bicara.

Aku seorang pelacur, Tuan, ujarnya lirih.

Aku terkesiap mendengar itu. Bukan merasa jijik, tapi kenapa berterus terang sekali? Belum pernah aku menjumpai pelacur yang berterus terang seperti ini. Apalagi kepada orang yang belum tentu mereka kenal. Aku memberi sapu tanganku kepadanya. Dia lalu menyeka air matanya itu.

Dia melanjutkan, Ibuku juga seorang pelacur. Dialah yang menyuruhku menjadi pelacur. Aku sebenarnya tidak mau. Tapi diakibatkan satu kondisi, aku akhirnya melacur. Aku harap Tuan tidak merasa risi, sebelum aku menyudahi ceritaku.

Aku menganggukkan kepala, membiarkan dia  meneruskan.

Tuan pasti tahu bahwa Darwesh adalah sarang pelacuran. Banyak gadis yang masih belia dipekerjakan di sana. Mereka diambil dari keluarga-keluarga yang terlilit hutang. Karena tak mampu bayar, mereka terpaksa menjual anak gadis mereka, termasuk salah satunya aku. Saat itu usiaku adalah 16 tahun. Aku masih ingat seragam sekolah yang kukenakan. Seperti biasa, sebelum berangkat sekolah, aku menyempatkan diri membuatkan Ibu telur setengah matang, pesanannya. Dengan harapan tatkala dia bangun, dia tinggal menyantapnya. Namun waktu itu Ibu telah bangun. Dia duduk di meja makan. Dengan tenang dia memintaku untuk tidak bersekolah hari itu. Katanya, dia ingin mengenalkan saudara laki-lakinya alias pamanku yang datang dari Sale. Aku tidak berkeberatan, karena memang aku belum pernah melihat saudara Ibu sekali pun. Latar belakang keluargaku gelap Tuan, tidak ada oma, opa, atau sanak famili sebagaimana orang umumnya. Jangankan itu, ayahku pun aku tidak tahu.

Wanita itu mulai mengelap ingusnya yang meleleh dengan sapu tanganku. Matanya masih basah dan sedikit bengkak.

Dia melanjutkan lagi, Pamanku itu pun akhirnya datang. Penampilannya sangat elegan. Dia menggunakan tuxedo hitam dengan rambut berminyak sisir belakang, keningnya mengkilap dioles zaitun. Sekilas aku lirik di tangan kirinya, tersemat gelang dan jam tangan berwarna emas. Aku tahu itu sangat mahal. Ibu lalu menyuruhku membawakannya wiski dengan sedikit es di dalamnya. Aku hidangkan pada orang yang kuanggap sebagai paman itu. Oh, ini anak gadismu? tanyanya. Seketika aku mengangguk. Cantik juga ya, sama seperti ibunya. Tak lama kemudian, Ibu menyuruhku masuk ke dalam kamar. Tanpa firasat apapun, aku mematuhinya. Dari dalam kamar, aku masih mendengar Ibu terkekeh-kekeh bersama Paman. Setelah itu, aku tidak mendengar suara Ibu lagi, selain hempasan pintu apartemen dan derap sepatu berhak tinggi yang melangkah jauh meninggalkanku.

Lalu, desakku tidak sabar. Orang yang kau anggap paman itu melakukannya?

Dia diam sejenak, air matanya bertambah deras, dia berusaha mengatur nafasnya yang tersedak. Seperti yang kau kira, Tuan. Bajingan itu akhirnya melakukannya. Sejak saat itu, aku resmi menjadi pelacur. Ibuku telah menjualku.

Aku meremas jari-jari. Dadaku membuncah. Aku geram terhadap dua orang itu, tapi apa yang bisa kulakukan. Aku lalu menawarkan bantuan kepadanya.

Sekarang, apa yang bisa aku bantu?

Tanpa pikir panjang dia berkata, Tuan, saat ini aku dalam pelarian, dan aku tahu, di stasiun Syirazi bakal ada pemeriksaan. Biasanya petugas akan menanyai seluk-beluk penumpang sebelum memasuki Yemen. Aku takut nanti, dengan jaringan pamanku yang kuat, dia bisa membayar orang untuk menangkapku di stasiun itu. Jadi, tolong lindungi aku. Katakan saja aku adalah istri Tuan.

Tapi bagaimana bisa? protesku. Aku pria beristri.

Tolonglah Tuan, usahakan sekali ini saja.

Tiba-tiba kereta mengerem mendadak, tubuh kami agak terlempar ke depan, kulirik ke luar jendela, tertulis stasiun Syirazi. Para petugas cukai mulai berdatangan dan masuk untuk melakukan pemeriksaan. Mereka menanyakan satu per satu asal penumpang dan prihal tujuan ke Yemen. Hingga tiba giliran kami diperiksa.

Bisa perlihatkan identitas Anda, Tuan?

Aku menyerahkan identitasku, dia memeriksanya dengan cermat, dan menyerahkannya lagi padaku. Kemudian beralih ke wanita di sebelahku.

Identitas Anda, Nona?

Dengan tangan gemetar wanita itu menyerahkannya. Petugas itu mendelik.

Anda berasal dari Darwesh?

Ya.

Bila begitu ikut kami, Nona.

Tapi kau harus meminta izin dulu pada suamiku. Wanita itu tiba-tiba mencengkram lengan kananku, berlagak suami-istri. Si petugas terpaku.

Apa benar dia istri Anda, Tuan?

Eee Aku gugup. Keringatku bercucuran di dahi.

Istri Anda, Tuan? ulangnya lagi bernada tinggi.

Bu-bukan!

Aku sudah menduga. Nona ini pasti berbohong.

Petugas itu lalu menarik paksa wanita yang duduk di sebelahku. Aku hanya membisu, meratapi kebodohanku. Dari dalam gerbong, aku masih dapat melihat wanita itu berupaya melepaskan diri. Dia berteriak: Lepaskan aku! Lepaskan aku! Beberapa saat kemudian, tanpa diduga-duga, wanita itu berhasil meraih pistol yang tersarung di pinggang petugas, dan mengacungkan ke sembarang arah. Aku terperanjat. Semua penumpang menjerit. Aku bergegas berdiri memintanya untuk menjatuhkan pistol. Namun, dia malah menatapku dengan mata menyala.

Aku adalah wanita hina. Sudah sepantasnya aku mati.

Dia memasukan ujung pistol itu ke mulutnya dan mulai menarik pelatuk.

****

Jangan!!!

Semua penumpang seketika terjaga dari tidurnya. Sebagian bahkan ada yang mengutuki teriakanku barusan. Astaga, ternyata mimpi. Aku lirik wanita di sebelahku, dia masih utuh. Dia memandangiku dengan perasaan cemas. Aku mengusap mukaku dengan telapak tangan, mencoba menyadarkan diri.

Tak lama kemudian, kereta mendadak mengerem, tubuhku agak terlempar ke depan, kulirik ke luar jendela, tertulis stasiun Syirazi. Para petugas cukai mulai berdatangan dan masuk untuk melakukan pemeriksaan. Mereka menanyakan satu per satu asal penumpang dan prihal tujuan ke Yemen. Aku melihat raut muka wanita di sebelahku.

Berikan jari manis tangan kiri Anda, Nona, pintaku. Lekas!

Ta-tapi.

Aku segera menarik tangan kirinya, lalu memasukkan sebuah cincin di jari manisnya. Ini adalah cincin istriku. Dia mencampakkannya tatkala kami bertengkar kemarin. Pakailah sejenak hingga petugas itu selesai memeriksa. Dan bila mereka bertanya, katakan bahwa aku suami Anda.

Tibalah petugas itu memeriksa kami.

Bisa perlihatkan identitas Anda, Tuan?

Aku menyerahkan identitasku, dia memeriksanya dengan cermat, dan menyerahkannya lagi padaku. Kemudian beralih ke wanita di sebelahku.

Identitas Anda, Nona?

Dengan tangan gemetar wanita itu menyerahkannya. Petugas itu mendelik.

Anda berasal dari Darwesh?

Ya.

Bila begitu ikut kami, Nona.

Untuk apa? sergahku pada petugas itu dengan nada marah yang kubuat-buat. Dia adalah istriku. Dan Anda tidak berhak memintanya keluar begitu saja tanpa seizinku. Aku lalu memindahkan jemari tanganku ke atas jemari tangan wanita di sebelahku itu. Kemudian kuremas jemarinya dengan kuat. Petugas itu menyelidik, dia melihat dua cincin kembar tersemat di jemari kami masing-masing. Dia akhirnya mengangkat topi.

Maafkan aku Tuan, atas kelancanganku barusan.

Lupakan!

Baiklah. Silakan nikmati lagi perjalanan Anda.

Terima kasih!

Petugas itu pergi dengan langkah gontai diiringi teman-temannya yang mengekor. Kemudian turun di peron stasiun. Dan kereta pun bergerak kembali. Dari balik jendela, aku bisa melihat petugas itu masih melirik pada kami.

Ba-bagaimana Anda bisa

Sudahlah! Lebih baik kau lanjutkan tidur, kataku pada wanita itu.***

Kaliurang, November 2013


Robby Anugerah
adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sejarah FIB UGM. Cerpen dan esainya pernah tersiar di Media Indonesia, Riau Pos, Annida-Online, Banjarmasin Post, dan Linggau Pos. Akhir 2013 lalu, satu cerpennya  termuat dalam antologi Negeri Tanpa Nama (2013)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us