Piala Dunia dan Pilpres

15 Juni 2014 - 11.33 WIB > Dibaca 1790 kali | Komentar
 
Piala Dunia dan Pilpres
Abdul Gapur Redaktur Pelaksana
Pesta Sepakbola Sedunia 2014 telah dimulai. Diawali pertandingan tuan rumah Brazil melawan Kroasia di Stadion Arena Corinthians, Sao Paolo dan akan disusul 63 pertandingan berikutnya. Bagi kita warga Indonesia, kehadiran iven olahraga paling ditunggu warga di seluruh dunia ini ibarat penyejuk saat suhu politik tanah air sedang tinggi.

Di tengah hiruk-pikuk proses pemilihan presiden dan wakil presiden kita, penampilan artis-artis sepakbola dunia di atas lapangan menjadi obat bagi hati yang terjangkit ‘’virus’’ Capres dan Cawapres.

Berbagai trik yang dilakukan tim Capres dan Cawapres juga membawa dampak kepada semua lapisan. Kita ‘’dipaksa’’ menyerap informasi tentang manuver politik. Media massa surat kabar, elektronik, dan televisi setiap hari bahkan menit mengupas panasnya suhu persaingan jelang pemilihan presiden dan wakil presiden 9 Juli 2014. Media sosial juga tidak ketinggalan. Semua media sosial yang sedang tren di dunia maya tidak luput dari pembahasan soal Capres dan Cawapres.

Malah kicauan di dunia media sosial lebih ekstrem dibanding media massa. Di media sosial, simpatisan Capres dan Cawapres tidak ragu mengeluarkan pendapatnya, meski harus ‘’melukai’’ teman sendiri. Saat ini, tidak sulit menemukan status dan komentar saling sindir, bahkan saling hujat di media sosial, seperti facebook, twiter, dan media sosial lainnya.

Dengan kedatangan Piala Dunia, bisa sedikit memberi ruang bagi warga yang ingin sedikit lepas dari berita-berita Pilpres. Indonesia memang tidak ada di Brazil, tapi masyarakat tetap bisa mendapatkan manfaat dari penyelenggaraan Piala Dunia 2014. Sportivitas, persaudaraan, anti diskriminasi ada di sana. Umat manusia dari berbagai belahan dunia berkumpul di negeri peraih gelar lima gelar juara piala dunia (terbanyak dalam sejarah) itu.

Perbedaan negara asal, bahasa, agama dan warna kulit tidak menjadi penghalang. Mereka berbaur, bersorak, tertawa menikmati tarian sepakbola. Bahkan kalau terpaksa menangis karena tim kesayangannya kalah, mereka pun menangis dengan sportiv.

Di hati semua pemain dan pendukung tim, pasti ingin memenangkan setiap pertandingan. Mereka berangkat ke Brazil membawa harapan besar seluruh warganya untuk membawa pulang trofi Piala Dunia.

Tidak berbeda dengan niat calon presiden dan wakil presiden Indonesia. Kedua Capres dan Cawapres Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK juga ingin menjadi pemenang. Bedanya, di Piala Dunia nilai-nilai sportivitas mendapat tempat paling tinggi. Di sana tidak ada upaya menyerang lawan lewat pembunuhan karakter terhadap suatu negara. Kerja keras dan fokus pada menggali potensi lewat latihan merupakan senjata yang disiapkan untuk menghadapi lawan. Di Pilpres, bisa kita lihat dan rasakan sendiri seperti apa.

Robin van Persie tidak akan mendapat serangan balasan dari pemain negara yang pernah dijajah Belanda. Begitu juga dengan pemain negara-negara yang pernah melakukan agresi militer ke negara lainnya. Pemain Portugal, Jerman, Prancis dan lainnya tidak merasa terancam meski harus berhadapan dengan negara bekas agresi militer negaranya. Bahkan dua negara yang pemerintahnya sedang berperang angkat senjata saja bisa ‘’berdamai’’ ketika sudah saling berhadapan di atas lapangan hijau.

Harapa kita para tim sukses, simpatisan Capres dan Cawapres bisa memetik nilai-nilai sportivitas yang ada pada penyelenggaraan piala dunia. Masing-masing kubu tidak lagi sibuk mencari-cari kekurangan lawan, apalagi harus menyebar fitnah yang kejam untuk menjatuhkan lawan.

Di era informasi seperti sekarang cara-cara negatif untuk mencapai suatu tujuan rasanya tidak lagi efektif. Masyarakat sudah bisa memilah mana informasi fakta dan mana yang fitnah. Karena itu, akan lebih baik jika masing-masing calon presiden dan calon wakil presiden bersama tim suksesnya menunjukkan potensi yang dimiliki daripada menghabiskan waktu dan energi menyerang lawan. Cara seperti itu malah berpotensi menimbulkan antipati daripada simpati. Sebab masyarakat menyadari, bahwa sesorang yang menempuh cara-cara negatif untuk mencapai tujuan, sesungguhnya menjadi petunjuk nyata bahwa orang tersebut sendiri tidak yakin terhadap kemampuannya. Apalagi harus meyakinkan orang lain.

Sekali lagi, kalau pun didengar, lebih baik Capres dan Cawapres memaparkan programnya, sehingga masyarakat bisa menentukan pilihan yang tepat demi kemajuan Indonesia ke depan.***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Selasa, 25 September 2018 - 16:30 wib

Tak Ganggu Target Pembangunan

Selasa, 25 September 2018 - 16:00 wib

Ratusan Honorer Gelar Aksi Demo

Selasa, 25 September 2018 - 15:54 wib

SMAN 7 Pekanbaru Dukung Gerakan Literasi

Follow Us