Peresmian Balai Adat Peranginan di Koto Lowe

Membangkitkan Spirit Adat Kedatuan

15 Juni 2014 - 11.45 WIB > Dibaca 2031 kali | Komentar
 
Membangkitkan Spirit Adat Kedatuan
fedli azis/riaupos SAMBUT: Datuk Ramli Ninik Datuk Rajo Dubalai, Datuk Bandaro dan Bundo Kanduong Limpape di Rumah Gadang disambut secara adat di helat Peresmian Balai Adat Peranginan Koto Lowe Payakumbuh.
Ninik Datuk Rajo Dubalai, Datuk Bandaro, Datuk Maharajo Kampar, Datuk Jolelo beserta rombongan Yayasan Matankari bertolak ke Koto Tongah di wilayah Koto Lowe, Hulu Batang Kampar, Limapuluh Kota untuk menghadiri acara peresmian Balai Adat Peranginan Empat Ninik dan Pelepasan Tukang, Sabtu (7/6) lalu. Helat adat itu merupakan helat terbesar yang pernah digelar selama ini di alam Melayu Minangkabau.

Laporan FEDLI AZIS, Payakumbuh  fedliazis@riaupos.co

PERJALANAN Riau Pos dari kampung tua Muaratakus (Kampar) ke Koto Tongah (Payakumbuh) bersama para datuk-datuk dari Kampar cukup menyenangkan. Di samping menambah wawasan budaya, juga semakin meyakinkan bahwa peran Ninik Datuk Rajo Dubalai sebagai pemegang pucuk Talago Undang Muaratakus begitu dihargai dan dihormati sebagai pucuk telago undang adat kedatuan.

Kenapa tidak, sesampainya di lokasi acara, tepatnya di kampung Koto Tongah di Koto Lowe, Ninik Datuk Rajo Dubalai dan rombongan langsung disambut tepak sirih yang disuguhkan Bundo Kanduang kepada rombongan Ninik Datuk Rajo Dubalai sebagai prosesi penyambutan adat di alam Minang. Rombongan juga disambut para datuk-datuk yang sudah menunggu sejak pagi. Ratusan orang berjejer di tepian jalan kampung, sedang lainnya seperti para ninik mamak di Koto Lowe dan Koto Tongah beserta utusan perwakilan para datuk dari luhak limapuluh duduk di bawah tenda yang sudah dipersiapkan.

Datuk-datuk Kampar tersebut langsung dipersilahkan untuk naik ke Balai Adat Peranginan Ninik Berempat, tempat para petinggi adat berkumpul seperti Datuk Alis Simarajo, Ninik Nan Baompek, Datuk Nan Balimo, Rajo Nan Balimo dan Datuk Bandaro Kayo selaku Tampuk Tangkai Alam Minangkabau serta Tuanku Datuk Rajo Besar Kerajaan Negeri Sembilan. Mereka duduk di tempat masing-masing dan acara peresmian itu pun dimulai.

Nyatalah sesungguhnya negeri kita ini bukanlah kerajaan tapi negeri beradat (kedatuan) yang pucuk telago undangnya berada di muaratakus, urai Datuk Alis Simarajo selaku Bupati Limapuluh Kota.

Balai Peranginan Ninik yang Berempat
Balai Adat Peranginan Empat Ninik di Kota Tongah Koto Lowe itu sendiri sudah mengalami pembangunan ulang sebanyak empat kali sejak terbakar pada 1961 silam. Dan pembangunan yang keempat kalinya tersebut dibiayai sepenuhnya oleh Tuanku Datuk Rajo Besar Kerajaan Negeri Sembilan, Malaysia selaku kemenakan Ninik yang Berempat.

Balai adat di Koto Tongah di Koto Lowe merupakan satu dari balai-balai adat lainnya seperti Balai Adat di Mungka, Balai Adat di Mahat dan Balai Panjang di Mutakui sebagai balai adat tertinggi di alam Minang. Balai-balai itu berfungsi sebagai tempat pertemuan Ninik yang Berempat untuk membicarakan berbagai persoalan adat yang menyangkut perkembangan adat itu sendiri.

Ninik/Datuk Siri di Mungka, Ninik/Datuk Bandaro di Mahat dan Ninik/Datuk Majoindo di Koto Lowe berninik ke Ninik Datuk Rajo Dubalai sebagai pucuk Telago Undang di Mutakui, ungkap Zaimi Zein selaku Datuk Bandaro di XIII Koto Kampar disela-sela acara peresmian tersebut.

Penegasan Engku Imi, sapaan Zaimi Zein tersebut memberi pemahaman yang jarang didengar, terutama oleh generasi hari ini. Penjelasan itu juga menunjukkan bahwa posisi Ninik yang Berempat itu merupakan pucuk adat tertinggi di alam Minang. Dan keempat ninik tersebut berada di wilayah hulu Batang Kampar. Batang Kampar sendiri dibagi menjadi tiga bagian wilayah adat pada mulanya yakni Negeri Hulu, Negeri Tengah dan Negeri Hilir.

Alam Kedatuan

Ketua Yayasan Matankari Amirullah SPd yang aktif menyuarakan keberadaan adat Andiko mengatakan, rantau barajo, rajo berpenghulu, pernghulu beradat, dan adat berandiko berpusat di Muaratakus (Mutakui). Di sini, Amirullah menjelaskan, setiap kawasan rantau memiliki raja atau pemimpin. Setiap raja atau pemimpin, memiliki penghulu dan penghulu merupakan representasi dari pucuk-pucuk puak suku yang ada di setiap koto atau andiko. Alam kedatuan merupakan alam tertinggi dalam pengelolaan kawasan adat. Sebelum beraja-raja, yang ada adalah para datuk dan penghulu yang mewakili puak suku masing-masing di setiap koto atau kampung, ungkap Amirullah.

Dalam alam kedatua ada tiga wilayah adat yakni soko, pisoko dan limbago. Soko merupakan kawasan inti atau awal atau pusat dari sistem kedatuan. Pisoko adalah kawasan di bawahi para raja-raja, sedangkan limbago, merupakan wilayah pengembangan adat andiko di alam kedatuan. Artinya, alam kedatuan tidak bisa dipisahkan oleh kawasan administratif kenegaraan. Meskipun hari ini kawasan-kawasan adat itu berada di beberapa provinisi dan kabupaten/kota, terutama Riau dan Sumatera Barat.

Kami dari Yayasan Matankari yang diamanahkan oleh Ninik Datuk Rajo Dubalai untuk mengkaji lebih dalam tentang alam kedatuan yang selama ini belum terurai dengan jelas. Ini menjadi tugas berat yang musti kami pikul bersama kawan-kawan di Matankari. Paling tidak, kami terus melakukan upaya penggalian lebih jauh hingga persoalan ini bisa menjadi terang benderang, tambah Amirullah.***
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us