”Ekspresi Rupa Riau”

Pameran Seni Rupa 2014

22 Juni 2014 - 08.16 WIB > Dibaca 2793 kali | Komentar
 
Pameran seni rupa menjadi dan memiliki nilai penting dalam proses kreatif dan pameran menjadi muara kreativitas seniman. Sebanyak 20 perupa Riau  ikut andil dalam pameran yang ditaja Taman Budaya Riau itu. Helat yang juga berkat kerja sama dengan Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Direktorat Jendral Kabudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI itu mengusung tema “Ekspresi Rupa Riau”.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Tak heran kemudian, karya-karya rupa yang terpajang di Gedung Olah Seni Taman Budaya itu merupakan hasil dari bacaan, pengamatan dan potret para perupa Riau atas persoalan, isu dan fenomena yang terjadi di Riau. Karya-karya yang dipajangkan dengan berbagai variasi serta ragam teknik dan tampilan itu juga mengisyaratkan akan potensi dan kekayaan ide dalam sebuah proses penciptaan. Lukisan di atas kanvas dan paper dengan menggunakan pencil, oil, cat acrylic, tinta cina, conte arang, pun menggunakan media seperti keramik yang semuanya mengekspresikan ide dan gagasan dari para perupanya.

Seorang perupa Riau, Adi Bagong misalnya memilih untuk mengikutsertakan karyanya yang berjudul “Ajar 1”. Karya yang menggunakan pensil di atas kertas itu menggambarkan seorang anak dan orang tua yang sedang duduk di emperan trotoar jalan. Lukisan ini juga sepertinya hendak mengatakan bahwa di saat orang tua dan pendidik mengajarkan anak belajar memberi, orang tua di lukisan itu justru mengajarkan si anak untuk meminta.

Perupa lainnya, Yulianto dengan karyanya berjudul “Wajah Riau”. Lukisan yang menggunakan oil on canvas tersebut menggambarkan gedung-gedung berdiri kokoh memenuhi kanvas lukis. Hal itu sesuai dengan konsep karyanya yang hendak menyampaikan ekspresi perupa memandang Provinsi Riau ke depannya dengan optimis akan mencapai kemajuan perekonomian dan sosial yang maksimal sesuai degan visi dan misi mencapai kota metropolis.

Lain halnya dengan perupa perempuan, Annisa Rahmadita yang memilih melukiskan sebuah upacara budaya, bakar tongkang. Lukisan yang diberi judul “Go Gwe Cap Lak” itu merupakan ekpresi Annisa dalam mengapresiasi tradisi di Bagan Siapi-api, Riau berupa ritual tahunan oleh etnis Tionghoa setiap Juni. “Inti dari lukisan ini adalah kesuksesan dalam meniti hidup,” ucap perempuan mantan presenter di Rtv tersebut.

Masih banyak karya lainnya yang bisa diapresiasi dalam pameran yang digelar 4 hari (10-14 Juni) di Taman Budaya Riau tersebut. diantaranya, “Hamdalah” karya Asril AF, “Perangkap” karya Darmansyah, Berbeda Makna karya Dasril SPd MDs, “Bangun” karya Deni ND, “Giliran” karya Dhany Pramata, “The Las Supper” karya Furqon Elwe, “Sipirit Latar Belakang” karya Khalil Zuhdy Lawna, “Evolusi” karya Kodri Johan, “Samudera” karya Masrul, “Reformasi” karya Metrizal, “Tak Melayu” karya Refnaldi, “Perkampungan di Pinggir Siak” karya Rison Idham, “Di Tingkungan Jalan Kampung” karya Yudi Ys dan “Surga Alam” karya Zul Ari serta seni ukir berjudul “Jangan.....Aku, ...Percuma!”, “Jantung Negeri” karya Ferry Abdul Jaham dan “Wajah ke-64 on glasses, Souveneer Art” karya Iwan Dona Syuman.

Pameran sebagai Terminal
Pameran sebagai sebuah terminal dari proses panjang atas penciptaan karya, dengan demikian, tentu saja pameran tidak ditempatkan menjadi pemberhentian terakhir melainkan tempat berhenti sejenak dari proses panjang untuk berevaluasi dan kemudian melanjutkan karya-karya yang baru, perjalanan yang baru dan petualangan imajinasi yang baru pula. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau, Said Syarifuddin, dalam helat pameran seni rupa 2014 menyampaikan hal itu. Katanya, pameran seni rupa sebagai sebuah terminal menjadi ruang intropeksi dan evaluasi sejauh mana perjalanan proses kreativitas sebuah karya.

Pameran yang diberi tajuk “Ekspresi Rupa Riau” ini juga diharapkan Said Syarifuddin tidak lepas dari upaya meraih kejayaan dan mengangkat kekayaan masa lalu. Hasil karya yang hadir saat ini menjadi menifestasi nilai-nilai yang terkandung masa lalu untuk kemudian diangkat dan dipublikasikan kepada khalayak. “Sehingga pada gilirannya akan memperkaya identitas kemelayu-an yang kokoh pula,” harapnya.

Sedangkan Kepala Taman Budaya, Pulsiamitra mengatakan Taman Budaya senantiasa bersinergi dengan perupa untuk sama-sama membangun seni rupa Riau. membangun tidak saja dalam arti mencari ruang, tempat yang representatif untuk pameran semacam galeri tetapi juga membangun apresiasi masyarakat. “Barangali ungkapan yang tepat untuk menandai kegiatan ini adalah seni rupa Riau bergeliat. Ungkapan ini saya kira bukan tidak beralasan karena dalam bentangan 2013 saja kita menyelenggarakan pameran empat kali. Dalam pada itu, dapat pula diapresiasi bermunculan karya-karya baru yang berkualitas. Artinya Riau memiliki potensi perupa yang sangat menjanjikan. Tinggal lagi bagaimana kita mengelolanya sehingga perupa Riau muncul dan mewarnai dalam kancah seni rupa Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Seni Rupa Murni Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Jendral Kebudayaan Kemdikbud RI, Dra Maeva Salmah Msi sangat mengapresiasi ragam ide dan gagasan serta tampilan yang dipamerkan dalam pameran seni rupa 2014. Katanya, lukisan yang dipajang menunjukkan potensi yang dimiliki perupa Riau hari ini. “Saya merasa ini sudah bagus sekali, khusus bagi perupa Riau, saya sangat apresiate. Ke depannya tentulah kita sama-sama berharap untuk lebih kreatif, dalam hal ini, tidak hanya memamerkan karya di tingkat lokal saja, kita juga harus berupaya bagaimana bisa memamerkan lukisan sampai ke tingkat nasional bahkan bila memungkinkan ke tingkat internasional,” ucapnya disela-sela melihat pajangan lukisan-lukisan di Taman Budaya beberapa waktu lalu.

Membincangkan Persoalan Seni Rupa  

Selain pameran, digelar juga diskusi seni rupa sebagai ruang untuk berdialog antara perupa untuk bertukar pikiran pada Rabu (11/6) di gedung olah tari Taman Budaya. Tampil sebagai pembicara seorang dosen dan praktisi seni rupa ISI Padang Panjang, Hamzah SSn MSn dan seorang perupa senior Riau, Danjte S Moeis.

Berbagai persoalan kemudian dibincangkan dalam diskui tersebut seperti yang dipaparkan kedua narasumber misalnya minimnya kritik karya seni rupa dalam bentuk tulisan, minimnya pameran, pasar seni rupa, media seni rupa seperti majalah dan peran kurator yang mampu mengulas dan menulis tentang bahasan sebuah karya seni rupa kemudian yang tak kalah pentingnya, bagaimana seharusnya untuk lebih mengembangkan seni rupa di Riau khususnya yaitu terkait dengan bagaimana membangun jaringan dan membentuk tim untuk mempublikasikan karya-karya perupa Riau.

Dalam kesempatan itu, Danjte S Moeis memaparkan periodesasi sejarah dan perkembangan seni rupa Riau yang menurutnya dibagi dalam dua tahapan zaman yaitu zaman kejayaan seni rupa tradisional dan senirupa Riau di era kebimbangan menghadapi kecendrungan senirupa modern Indonesia yang keduanya berkait-kelindan dengan kondisi sosial budaya sesuai dengan zamannya, bentuk dan kecendrungan karya serta jangkauan pengaruh dari zaman ke zaman.

Lelaki yang juga seorang penulis kreatif itu mengatakan Riau selama ini, dalam perrpetaan senirupa (fine art) pada kenyataannya secara jujur disampaikan barulah setakat titik kecil yang sukar ditilik keberadaannya secara nasional. Walau aktivitas berkarya secara kontinutas tetap ada dan keadaan ini dapat ditandai dengan berbagai pameran (bersifat lokal) yang dilakukan dan ditaja oleh institut formal atau secara individu perupa atau komunitas-komunitas yang ada. Namun katanya, kegiatan pameran yang idtaja tersebut dinilai belum memadai untuk dijadikan sebagai alat pemetaan atau pengakuan akan eksistensi perupa Riau secara nasional. “Tentu kita berharap pameran kali ini bukan hanya sekedar helat yang bersifat sesaat namun dapat dipetik manfaatnya bagi berbagai kalangan terutama bagi para perupa di Riau, sebuah daerah yang kononnya kaya namun tidak memiliki sebuah pun lembaga pendidikan seni rupa,” ucapnya.

Sedangkan pembicara lainnya, Hamzah dalam kesempatan itu memaparkan tentang sekilas seni rupa Indoensia. Katanya berbagai pergeseran sedang terjadi dalam seni rupa Indonesia pada saat ini baik dalam tataran seniman, proses kreasi, karya, proses komunikasi, promosi dan mediasi, publik seni dan proses apresiasi. Sebagai pelaku seni, yang terpenting kata Hamzah adalah bagaimana menemukan ide dan gagasan serta menunjukkan kesungguhan dalam berkarya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Jumat, 16 November 2018 - 15:15 wib

50 Tim Ikuti Serindit Boat Race

Jumat, 16 November 2018 - 15:00 wib

Spesialis Bongkar Rumah Kosong Diringkus

Jumat, 16 November 2018 - 14:45 wib

Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis

Follow Us