Gelar Karya Mahasiswa AKMR

Aplikasi Teori ke Dalam Praktik

22 Juni 2014 - 08.16 WIB > Dibaca 869 kali | Komentar
 
Mahasisiwa Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) kembali menggelar karya sebagai tugas akhir semester di Aula Dewan Kesenian Riau (DKR), 18-26 Juni. Berbagai karya yang ditampilkan dari masing-masing jurusan yakni musik, teater dan tari. Gelar karya yang berlangsung selama sembilan hari tersebut merupakan hasil dari pembelajaran selama satu semester di bangku perkuliahan. Di samping itu, karya-karya yang dibuat dan dipentaskan itu juga merupakan hasil kreativitas mereka dalam hal bagaimana mengaplikasi ide-ide yang diperoleh dengan menggabungkan teori-teori ilmu yang didapat dari dosen pengasuh.

Tampil pada Kamis (19/6), mahasiswa jurusan musik. Masing-masing mahasiswa menggelar karya mereka yang dikemas dalam bentuk aransmen musik orkestrasi. Sebuah lagu Mutiara Rindu yang diaransmen Agus Salim membuka pagelaran malam itu. Kemudian dilanjutkan dengan lagu Perigi Biru, aransmen Ridho Fatwandi. Dilanjutkan dengan Muhammad Fauzan, membawakan karya berjudul Silat Bangkik Dance dan ditutup dengan persembahan dari Budi Setyawan yang membawakan karya orkestrasi Wolf Rain.

Sesuai dengan mata kuliahnya orekstrasi, masing-masing mahasiswa menampilkan karya-karya lagu yang sudah ada kemudian diaransment ulang dalam bentuk orkestrasi dengan menggunakan banyak instrumen. Hal itu disampaikan ketua prodi musik, Ida Wati. Katanya, capaian yang diharapkan dari mata kuliah orkestrasi itu adalah mahasiswa harus bisa membuat karya musik orkestrasi yang dianjurkan menggunakan instrumen banyak dan kecendrungannya alat musik string.

Plt Direktur AKMR, Armansyah Anwar yang turut hadir menyaksikan pelaksanaan gelar karya tersebut mengatakan sangat berbangga melihat kemampuan mahasiswa dalam memahami dan menghasilkan karya musik orkestrasi. Dijelaskannya memang dalam menghasilkan karya orkestrasi berbeda dengan komposisi  yang menghasilkan karya dari yang belum ada menjadi ada. Sedangkan orkestrasi, bagaimana kemampuan mahasiswa mengaransmen ulang karya yang sudah ada dalam bentuk orkestrasi. Strasing-nya, di AKMR ini bagaimana mengaplikasikan media lokal konten digabung dengan instrument Barat. Saya melihat, apa yang ditampilkan mahasiswa sungguh di luar dugaan atau melebihi dari apa yang ditargetkan, ujar Arman bangga.

Tampil malam sebelumnya, Rabu (18/6) mahasiswa jurusan tari. Tampak pula masing-masing mahasiswa menampilkan karya mereka baik pribadi maupun kelompok. Berbagai ide dan gagasan yang kemudian muncul menjadi bahasa-bahasa gerak yang mereka olah menjadi sebuah karya tari. Ketua jurusan tari, Syafmanefi Alamanda menyebutkan gelar karya ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana penguasaan dan pemahaman mahasiswa terhadap ilmu yang telah diberikan.

Terlepas ini dikemas menjadi bentuk seni pertunjukan yang dipertontonkan, tentu saja, capaiannya bagi dosen tentu saja untuk melihat sejauh mana capaian pemahaman mahasiswa terhadap ilmu yang diberikan selama satu semester, ujar Nanda nama panggilan akrabnya.

Di AKMR memang tidak hanya belajar teori, lanjut Nanda akan tetapi juga praktek menjadi penting. Artinya setelah mahasiswa menguasai teori kemudian akan diaplikasi langsung dengan praktek.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us