Energi dan Emosi

22 Juni 2014 - 08.50 WIB > Dibaca 1607 kali | Komentar
 
Energi dan Emosi
DALAM teori fisika, energi itu tidak bisa diciptakan, tapi juga tak bisa dimusnahkan. Ia selalu ada dan tersedia di alam, hanya saja dalam bentuk lain yang selalu berubah dan bermetamorfosa. Energi itu mirip dengan emosi manusia. Emosi juga selalu ada, kendati kadang datar, stabil dan lembut, tapi di saat yang lain bisa bergelombang, bahkan meledak. Daya eksplosifnya kadang bisa mengalahkan bom.

Apa hubungan energi dan emosi? Seperti teori fisika tentang prinsip kekekalan energi, begitu jugalah halnya tentang prinsip “kekekalan” emosi. Emosi itu ternyata “kekal” dan bersemayam terus di ubun-ubun manusia, tinggal ada yang mengubahnya menjadi emosi dan kekuatan positif atau negatif. Bisa jadi juga menjadikannya membangun atau menghancurkan. Pemicunya dapat bermacam-macam, dan salah satunya adalah energi yang tak memadai (defisit).

Dalam aplikasi yang lebih nyata dapat dijelaskan, bahwa defisit energi bisa menyebabkan instabilitas emosi, karena jika tenaga kurang, biasanya jiwa tak stabil. Sedangkan surplus energi biasanya dapat membuat emosi relatif stabil. Maka antara emosi dan energi memiliki keterkaitan erat satu dengan yang lainnya.

Dalam contoh yang lebih nyata dapat diuraikan begini. Suatu malam Anda sedang menonton Piala Dunia antara tim favorit Anda dengan musuh bebuyutannya. Emosi positif sedang memuncak karena tim Anda sedang dalam tren positif, akan menyarangkan gol, kendali dalam posisi kalah. Tapi ketika itu berlangsung, tiba-tiba saja terjadi defisit energi. Listrik mati. Siaran Piala Dunia pun bubar. Anda kemudian menelepon, meng-SMS atau melakukan BBM dengan rekan se-RT, bahkan sekota. Ternyata hari itu memang tengah terjadi defisit energi yang sangat parah. Pekanbaru harus mati total. Tentu saja kejadian itu akan membuat gregetan, emosi memuncak. Sumpah seranah dan maki hamun pun terlontar.

Kondisi seperti ini bisa semakin berat jika defisit energi itu terjadi saat Ramadan, yang akan menjelang dalam beberapa hari ke depan. Apalagi jika mati listrik terjadi di saat menjelang berbuka. Sebuah pantang larang yang akan membuat emosi yang stabil dari dini hari hingga jelang Magrib itu bisa meledak. Ledakannya pastilah setara bom berdaya ledak tinggi.

Jika komponen faktor penyebabnya ditambah atau berlipat ganda, maka ledakan emosi itu bisa terjadi lebih dahsyat lagi. Misalnya Anda sedang menikmati makan sahur dengan khidmat, sambil menonton final Piala Dunia tim favorit, penentuan juara. Saat kondisi itu, listrik pun tiba-tiba padam. Apa yang akan terjadi? Super ledakan emosi pasti terjadi, laksana bom atom, bagai letusan super volcano. Mungkin televisi kesayangan bisa pecah. Kursi melayang. Begitulah, defisit energi dapat menyebabkan ledakan emosi.

Jelang Ramadan tahun ini, kondisi defisit energi di Riau tampaknya juga belum tuntas terselesaikan. Riau masih dibayang-bayangi dengan pemadaman listrik dan berpotensi meledakkan emosi itu. Kenyataannya, saat ini interkoneksi energi listrik untuk Riau hanya menghasilkan 463 mega watt. Padahal kebutuhan listrik pada beban puncak mencapai 486 MW. Defisit ini yang belum tertutupi juga hingga saat ini.

Kondisi ini sebenarnya cukup ironis mengingat Riau adalah lumbung energi. Riau merupakan daerah penghasil minyak bumi (sebagai salah satu bahan bakar energi) terbesar di Indonesia setelah Kaltim. Riau juga punya cadangan biodiesel dari CPO yang turunannya bisa menjadi sumber listrik. Biomassa dari limbah sawit juga merupakan cadangan energi listrik yang sangat besar, bahkan diperkirakan mencapai 1.000 MW.

Cadangan energi itu bisa menjadi percuma ketika tak dapat dimanfaatkan dengan baik. Potensi energi yang berlimpah itu seakan hanya menjadi wacana untuk dapat dimaksimal, digerakkan dan difungsikan tanpa ada tindak lanjut yang berarti. Riau masih tetap dalam potensi, masih potensi, dan akan terus hanya potensi. Kalau sekadar potensi energi, bolehlah, karena kapan-kapan masih bisa dikembangkan. Tapi jika potensinya bergerak ke arah ledakan emosi tak terkendali, maka energi itu akan meledak ke mana-mana. Hati-hati, defisit energi berpotensi menjadi ledakan emosi.***


Muhammad Amin
Redaktur pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Follow Us