Nasi, Jotos, dan Tinju

22 Juni 2014 - 08.51 WIB > Dibaca 1108 kali | Komentar
 
Nasi jotos merujuk pada nasi bungkus yang biasa terjaja di angkringan—wahana yang menjajakannya. Wujudnya berupa sekepalan nasi, seiris tahu rebus/goreng, sejemput tempe kering, sejumput mi rebus, dan sesendok makan sambal. Selain merujuk pada (nasi) sekepal, jotos juga mengacu pada sambalnya yang menjotos ‘sangat pedas’ sehingga memicu keringat berleleran. Di luar menu inti itu, di angkringan juga tersaji varian menu tambahan mana suka: aneka gorengan, kepala atau sayap ayam goreng, telur dadar, dan tentu saja minuman yang jenisnya bisa dipesan khusus.

Itulah gambaran singkat menu berformat ekonomis, hasil kreativitas rakyat kecil, sebagai (menu) alternatif di masa krisis moneter (ketika harga-harga naik, tapi daya beli tetap atau bahkan menyusut). Bagaimana tidak, hanya dengan Rp10.000,00 orang bisa ambil satu bungkus nasi jotos (ada yang menyebutnya nasi kucing, porsi makan kucing), tempe atau tahu ekstra besar, segelas kopi, serta sebatang rokok. Di samping itu, mereka juga bisa duduk-duduk santai, sambil makan, ngopi, dan mengobrol abai di tikar tergelar di trotoar saat toko-toko tutup. Bahkan, tak jarang kelompok anak-anak muda berkencan dan mengobrol sampai pegal tanpa banyak kehilangan uang.

Tidak pula hanya berkesan hemat, jotos juga mengesankan adanya nuansa kapok ‘jera’ sekaligus ketagihan, persis rumusan kapok lombok (memicu penyesalan, tapi sekaligus menantang ingin tahu ambang batas toleransi pedas). Dengan demikian, jotos pun jadi sosok si (kepalan) bersikelebat dalam aksi memukul sehingga tidak bisa diterjemahkan secara pasif sebagai tinju. Meskipun terkepal tegang, tinju belum aktif berkelebat mengincar kening atau dagu, lalu jadi lalu lintas berbaku pukul.

Akhir November 2013, tinju—dalam konteks jotos—mendadak mendapat kesan sebagai cara menyelesaikan masalah. Hal itu terjadi setelah busa kata-kata polemistik antara Jalaludin Rumi—Al Ahmad Dhani—dan pengacara Farhat Abbas berkembang dan melantur, tidak fokus jadi kesepakatan. Dengan adanya perkelahian yang diharapkan akan berlangsung secara proporsional (karena akan dilakukan di atas ring, dengan tata sportivitas olah raga tinju yang diawasi wasit dan ditonton), Hotman Paris terpancing menyediakan hadiah bagi sang pemenang.

Bertinju seolah-olah dapat menjadi solusi agar kata-kata tak melantur, supaya fokus. Padahal, berdebat pun bisa dijadikan cara penyelesaian perang kata kalau para pihak yang berdebat itu mau fokus, tidak meloncat-loncat sekadar mencemooh. Namun, corak infotaiment di televisi memang cenderung takfokus. Mereka enggan mengendapkan emosi, tetapi malah provokatif memicu emosi. Untunglah, pemberitaan seperti itu diapresiasi Pertina sehingga izin bertinju tidak diberikan dengan alasan faktual: di samping Al masih kanak-kanak dan Farhat Abbas terlalu tua, keduanya bukan atlet tinju (amatir). Lagi pula berat badan mereka berbeda, tidak ada kualifikasi kelas yang cocok untuk sekadar sparring.

Begitulah, tinju mungkin dapat menjadi (ikon) alternatif penyelesaian masalah perang kata-kata tanpa merujuk pada eksistensi jenis olah raga keras sehingga kemungkinan untuk tuntas menyelesaikan masalah—seperti koboi wildwest atau pendekar Tiongkok itu—sirna. Dengan demikian, diharapkan KOI pun bisa menemukan “petinju” binaan DPR yang memiliki potensi pseudo-objektif (bisa menyudahi sebuah perdebatan sengit dalam sidang di DPR yang sering memicu polemik berlarut-larut di koran dan televisi), bukan sekadar pelawak, penyanyi, dan tukang kawin yang mendatang ini akan jadi anggota DPR.

KBBI (1995) mengartikan tinju sebagai ‘kepalan tangan (untuk memukul)’, sedang bertinju sebagai (1) ‘berpukul-pukulan dengan tinju’ dan (2) ‘berkelahi dengan saling meninju’. Tinju tak diartikan sebagai ‘(cabang) olah raga yang memanfaatkan kepalan (tangan) bersarung khusus, sportif sesuai dengan aturan berbaku pukul, dalam rentang waktu (ronde) tertentu, dan dilakukan di arena (ring), baik dalam sparring, maupun dalam pertarungan memperebutkan peringkat atau juara’. Sementara itu, Oxford Advanced Learner’s (1995) merumuskan box sebagai ‘to fight somebody with the fists as a sport’, boxing sebagai ‘the sport of fighting with the fists’, dan boxer sebagai ‘a person who boxes, especially for a living’. Tinju, dengan demikian, secara tegas merujuk ke aspek sport professional: pada sasana, latihan rutin, sparring, kompetensi petinju, bertarung, aturan bertinju, pemandu dalam tarung (wasit), kontrak, dan bayaran.

Meskipun sudah dirumuskan secara ketat serta jelas—sama halnya dengan jotos (pada konteks nasi jotos) yang merujuk pada sengatan pedas (sebagai risiko pembeli yang melahapnya, padahal, sambal itu bisa disisihkan) dan sekaligus merupakan bentuk kreativitas dalam mengatasi kondisi darurat saat krisis finansial (sebagai bumper bagi yang berpenghasilan cupet saat harga-harga tidak terkendali akibat inflasi)—tinju mendadak jadi semacam jalan ke luar alternatif dan dimaknai sebagai ‘banyak berbaku pukul tanpa banyak bicara’.

Hal itu sekaligus mengesankan bangkit-tersuratnya kebenaran otoritarian bahwa sebuah statement tak bisa diperdebatkan karena hanya memicu penuntasan ototi, yang selama ini dipercayai banyak orang. Indikasinya—yang merentang sejak Dekrit Presiden Soekarno dekade 1950-an dan yang masif di era Soeharto dalam wujud penculikan aktivis menjelang keruntuhan Orba—menunjukkan bahwa toleransi telah mati. Komunikasi dan kata-kata tidak kuasa lagi membangun kesepakatan. Intelektualitas dan rasionalitas pun hilang. Sastra dibunuh tanpa sadar, menggelepar, cuma memperbanyak diri dalam publikasi POD yang produknya maksimal hanya 100 eksemplar berdasarkan pesanan yang masuk.

Menyakitkan sekali***


Beni Setia
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us