Satu Tamu Dua Waktu

29 Juni 2014 - 09.04 WIB > Dibaca 1072 kali | Komentar
 
Satu Tamu Dua Waktu
Suatu kali KH Ali Mustafa Yakub, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta singgah di Pekanbaru dalam rangka safari Ramadan Chevron 2012. Ia hadir bersama Abdul Hamid Batubara Presdir PT Chevron. Saya mengikuti tausiyahnya di Masjid Al Fattah Minas, usai salat Jumat (28/7). Ia memberi motivasi untuk cerdas dalam beribadah. Di sesi tanya jawab muncul pertanyaan yang sebenarnya tidak kait mengait dengan topik yang sedang dibahasnya. Pertanyaannya begini: mengapa setiap penetapan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijjah selalu muncul perbedaan.

Ia menghela nafas berat. Menurutnya ulama sudah pernah menginisiatif pertemuan di bulan Desember tanggal 14-16 tahun 1984. Pada saat itu dikumpulkan seluruh komisi fatwa MUI plus pimpinan-pimpinan organisasi Islam, pimpinan pesantren, pimpinan perguruan tinggi Islam. Jumlahnya ada 400 orang. Pertemuan sepakat saat itu bahwa untuk mengakhiri perbedaan penetapan awal Ramadan, Idul Fitri dan Zulhijjah mengacu pada empat butir keputusan.

Pertama, yang berhak menetapkan awal Ramadan, Syawal dan Zulhijjah di NKRI adalah Menteri Agama RI. Kedua, pe netapan oleh Menag RI menggunakan metode hisab dan rukyat. Ketiga, umat Islam wajib menaati keputusan Menag RI dalam kapasitasnya sebagai ulil amri. Keempat, semua sepakat tak ada yang menentang. Hasil ini kemudian dituangkan dalam peraturan negara No 2/1984. Namun, lanjutnya, dalam praktik hingga 2011 orang Indonesia menetapkan awal Ramadan, Syawal dan Zulhijjah menggunakan 9 cara. Itulah yang menyebabkan hasilnya selalu berbeda.

Padahal Rasulullah cuma mengajarkan dua cara saja. Berpuasalah karena melihat hilal (bulan), berlebaranlah karena melihat hilal dan beribadah haji lah karena melihat hilal. Kalau tidak kelihatan itu hilal, maka genapkanlah hitungan bulan berjalan menjadi 30 hari. Itu saja yang diajarkan Rasul, ujarnya. Dua cara pertama seperti yang diajarkan Rasul yakni rukyat (melihat hilal) dan ikmal (menggenapkan) hitungan bulan bila hilal tak terlihat.

Cara ketiga, ada teori namanya wujudul hilal (bentuk bulan). Menurut ilmu astronomi, harusnya bulan sudah keluar meskipun 1 derajat. Hanya saja wujudnya belum kelihatan mata manusia. Mereka yang percaya teori ini tetap puasa meski tak melihat bulan. Keempat, teori imkanul rukyat (kemungkinan dapat dilihat). Bulan kemungkinan dapat dilihat lewat ilmu falak karena seharusnya sudah terbit. Meski tak terlihat mata mereka tetap meng anggap puasa sudah masuk.

Kelima, ada pula yang menetapkan Ramadan sesuai dengan perasaan gurunya saja. di mana cara ini kerap digunakan kelompok-kelompok tarekat tertentu. Keenam, cara yang dipakai sebuah komunitas yakni dengan melihat tanda-tanda alam. Menentukan awal bulan dengan datang ke pantai dan melihat fenomena alam. Kalau air pasang berarti hitungan bulan sudah berganti. Ketujuh, cara yang dipakai komunitas Desa Tambelak, Kabupaten Jombang, Jatim. Teori mereka tidak boleh ada dua khutbah dalam satu hari.

Maka jika hari raya jatuh hari Jumat mereka membuat pilihan bisa maju sehari (Kamis) atau mundur sehari (Sabtu).  Pokoknya tidak boleh hari Jumat, ujarnya. Kedelapan, dipakai oleh sebuah komunitas di Kabupaten Kebumen Jateng. Bila gurunya berkata bahwa ia tadi malam berjumpa dengan Rasulullah SAW dan mengatakan bahwa besok puasa maka puasalah mereka semua, ujar Ali Mustafa menjelaskan. Kesembilan, sebagian komunitas di Jakarta yakni mengikuti Makkah. Kapan Makkah puasa maka mereka ikut. Kapan Makkah lebaran mereka ikut.

Padahal, lanjut mantan Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu,  mufti besar Makkah Syech Abdullah bin Baz yang wafat tahun 1999 mengatakan bahwa barang siapa yang menetapkan pergantian bulan tidak menurut rukyat dan ikmal maka mereka termasuk orang yang mengada-adakan syariat baru dalam agama Islam. Tentunya kita rindu tidak ada perbedaan penentuan kedatangan Ramadan dan Idul Fitri. Jangan lagi ada satu tamu datang di dua waktu. Jika terjadi juga setidaknya kita tahu apa sebabnya. Apapun adanya, selamat datang wahai tamu agung, Marhaban ya Ramadan.***


HELFIZON ASSYAFEI

Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Pertamina Jamin Pasokan BBM di Riau Cukup

Follow Us