Parade Tari 2014

Tari Bukan Senam Aerobik

29 Juni 2014 - 09.20 WIB > Dibaca 1438 kali | Komentar
 
11 kabupaten/kota se-Riau usai mengikuti helat tahunan Parade Tari 2014 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau. Masing-masing grup atau sanggar yang mewakili kabupaten/kotanya, menampilkan karya tari dengan konsep yang dikemas dari kekayaan tradisi masing-masing.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

GERAK gemulai, lenggang-lenggok serta ekspresi para penari menghiasi panggung Anjung Seni Idrus Tintin. Unjuk karya yang langsung dinilai dewan juri asal nasional dan  koreografer senior Riau ini mencari karya-karya terbaik yang nantinya akan mewakili Riau ke tingkat nasional.

Layaknya perlombaan, tak heran kemudian, masing-masing koreografer menawarkan konsep-konsep tari yang tentu saja menurut mereka sudah dikemas semaksimal mungkin. Namun tentulah terikat dengan ketentuan penjurian dan kriteria penilaian yang telah ditetapkan panitia. Sehingga muncullah garapan tari yang layak dan melum maksimal sebagai pemenang dalam ajang tersebut.

Persaingan pun tentu tidak dapat dielakkan lagi. Mulai dari tampilan karya-karya, kostum yang mahal dan menarik, pemusik yang ramai, set properti yang beraneka ragam. Yang tujuannya tak lain agar keluar sebagai pemenang dan unggul dari yang lainnya.

Hanya saja, menang atau kalah bukanlah sebuah keharusan yang membuat masing-masing peserta atau grup sampai melupakan unsur terpenting dari berkesenian yakni  proses kreativitas. SPN Iwan Irwan Permadi yang bertindak sebagai salah seorang dewan pengamat menyebut, tujuan dari awal dilaksanakan parade tari sebagai ajang pembinaan. Belakangan yang tampak, justru ada keharusan dan wajib suatu kelompok untuk menang dengan mengabaikan banyak hal. Seolah-olah puncak dari pengkaryaan tari adalah parade tari.

Ini yang saya kira, tafsir yang salah dari kawan-kawan tari. Parade tari dalam konteks proses  justru tidak ada nilainya karena setelah menang pun di tingkat nasional, karya yang ditampilkan akan habis begitu saja. Tidak ada event lanjutan di tingkat internasional atau semacamnya. Akhirnya, tidak memberikan efek apa-apa. Nah, ini yang perlu diketahui bersama, bahwa parade tari seharusnya dijadikan ajang pembinaan dan lecutan bagi pekerja tari di Riau. Bukan sebagai puncak proses menari sehingga terkadang untuk menang, melakukan berbagai cara yang ujung-ujungnya mengabaikan proses dan pembinaan, jelasnya panjang lebar.

Pembinaan dan proses adalah hal yang penting agar karya yang dihasilkan tidak terkesan instan. Iwan juga menyebutkan, sudah pernah memberikan usulan kepada pihak penyelenggara agar parade  tari tidak dilaksanakan dalam bentuk perlombaan tapi digilirkan. Dijelaskan Iwan, misalnya tahun ini kabupaten A dipercayakan untuk mewakili Riau di tingkat nasional. Maka seluruh  personil pendukung, dibina dari para pelaku penari dan pemusik di kabupaten/kota tersebut namun tetap provinsi sebagai konsultan. Jadi ada proses pembinaan sejak awal sehingga dengan cara demikian semua kabupaten/kota se-Riau menjalani dan merasakan bagaimana proses penciptaan atas karya itu sendiri, jelas pimpinan PLT Laksemana tersebut.

 Karya yang baik adalah karya yang original, yang memerlukan waktu panjang dalam penggarapannya. Keadaannya menjadi jelas, setelah parade tari, para pekerja tari yang ikut dalam ajang perlombaan tersebut, hanya beberapa saja yang kemudian terus berkarya, yang terus melakukan penggalian dan penjajakan atas kekayaan ragam tari tradisi yang ada di Riau untuk dikembangkan menjadi gerak inovatif untuk ditawarkan kembali dalam ajang yang sama tahun berikutnya.

Akibatnya, hampir tiap tahun, tidak ada tawaran yang baru, begitu-begitu saja dalam bentuk gerak pengulangan-pengulangan yang serupa. Inilah yang saya maksudkan instan itu. Di tahun ini misalnya, dapat kita lihat, gerak tari semuanya menggunakan tempo cepat. Semua menari terus, kapan tidak menarinya, seperti tidak ada bedanya melihat senam erobik. Dari awal sampai akhir, menari saja. Para pakar mengatakan puncak gerak itu adalah diam, jelasnya.

Dewan juri lainnya juga mengatakan hal serupa, Prof Dr Sri Hastanto misalnya, meskipun salut atas semangat koreografer di Riau dalam menemukan ide dan gagasan serta melakukan inovasi untuk menghasilkan karya tarinya. Hanya saja lanjut guru besar Institut Seni Indoensia Surakarta itu, seharusnya jangan sampai salah menafsirkan makna tari modern hanya dengan tempo cepat semata, sehingga detil gerak tidak kelihatan. Garapan yang halus juga butuh digarap dan diperhatikan. Rata-rata kita melihat, hampir semua garapan menggunakan tempo cepat, akhirnya tidak kelihatan koordinasi gerak lengan, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya, ucap Mantan Dirjen Kebudayaan itu.

Tampilkan Kekuatan Sendiri

Sebagai sebuah karya seni, kesebelas karya yang sudah tampil di Parade Tari 2014 patut pula diberi apresiasi. Masing-masing kabupaten telah berupaya memadukan unsur-unsur tradisi menjadi gerak inovatif baru, para peserta tampak tampil dengan kekuatan yang mereka miliki sendiri karena memang seperti yang dilansirkan Iwan Irawan, ketentuan dari Parade Tari ini adalah 60 persen unsur atau bersumber dari tradisi sedangkan 40 persennya lagi merupakan gerak inovatif.

Sebagai pengamat yang juga sering terlibat menjadi dewan juri di tingkat nasional, Iwan mengatakan kualitas penari Riau sebenarnya tidak kalah dengan kawan-kawan di provinsi lain. Hanya saja lanjutnya, Riau selalu kalah dalam konsep dan proses. Penari kita tak kalah kualitasnya dengan penari lain. di tingkat Naisonal, selalunya kita hanya kalah pada koreo, konsep dan tentu saja tertinggal pada prosesnya, jelas Iwan.

Tampil sebagai penyaji terbaik pada Parade Tari 2014, Kabupaten Siak yang membawakan garapan tari berjudul Degho Balak. Garapan ini melalui ragam gerak yang berangkat dari zapin, silat dan joget mengetengahkan tema tentang maraknya ilegal loging yang dilakukan segelintir kalangan serakah di Riau ini. Salah satu akibatnya yand dirasakan oleh masyarakat adalah hilangnya udara segar dan hutan hijau serta yang palig menyakitkan dan masih terasa adalah masalah asap. Ya, Inspirasinya dari fenomena itulah yang akhirnya tercipta karya tari berjudul Degho Balak ini, ujar Agung selaku penata geraknya.

Menyusul penyajik terbaik dua, karya tari berjudul Manetek Onou dari Kabupaten Kuantan Singingi. Karya tari ini juga berangkat dari fenomena yang ada di Kuantasn Singigi yaitu tradisi manetek onou. Sebuah tradisi memukul batang enau dengan tujuan mendapatkan air nira. Dijelaskan koregrafernya, Budiono untuk mendapatkan hasil yang banyak, memukul batang enau tersebut diiringi dengan dondang anak ketika proses pengambilan dilakukan. Gagasan itulah yang kemudian saya tuangkan dalam gerak yang menggambarkan kronologis proses pengambilan air nira yang penuh tantangan dan perjuangan namun dengan semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat, pekerjaan tersebut akan mendapatkan hasil yang dinginkan, ucap Buidono.

Lain halnya penyaji terbaik tiga yakni Kabupaten Kepulauan Meranti yang membawakan tari berjudul Gembire Sri Mahkota. Perwakilan dari kabupaten yang paling bungsu di Riau ini mengangkat sebuah tema rasa kebersamaan, bersatu padu, saling bertenggang rasa antar sesama yang terinspirasi dari burung puyuh mahkota. Jenis burung yang terdapat di kabupaten Kepuluan Meranti ini memiliki bentuk yang unik dan indah, memiliki bulu yang menyerupai kipas laksana mahkota di atas kepala.

Semangat kerja sama dan dan tolong menolong dari burung puyuh mahkota inilah yang kita coba angkat ke tarian berjudul Gembire Sri Mahkota yang salah satu pijakan tariannya adalah zapin, jelas M Shobri selaku penata tarinya.

Judul tari Kampuong Taghondam dari Kabupaten Kampar mendapat posisi sebagai penyaji terbaik empat, sedangkan Kabupaten Rokan Hulu di penyaji terbaik lima dengan karya berjudul Anak Omak dan penyaji terbaik enam dari Kabupaten Indragiri Hulu, karya tari berjudul Teratai Kasih.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us