Mengkaji Aktivitas, Menimbang Bobot

Senirupa Riau dari Masa ke Masa

29 Juni 2014 - 09.22 WIB > Dibaca 12794 kali | Komentar
 
Tulisan ini telah mengalami sedikit penyempurnaan. Sebelumnya dibacakan dalam bentuk kertas kerja dari penulis, sebagai nara sumber pada Dialog Seni-rupa sempena Pameran Ekspresi Rupa Riau, Pekanbaru 11 Juni 2014, Taman Budaya Provinsi Riau bekerja sama dengan Pembina Film dan Seni, Direktorat Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Riau, setelah berlalunya masa kejayaan senirupa tradisional, dalam artian tersendatnya proses kreativitas dalam upaya pengembangan dan pengkayaan bentuk, merespon perkembangan zaman yang hingga kini masih mampu dilakukan tak lain adalah, bertahan untuk kepentingan-kepentingan hanya bersifat peruntukan terbatas, walau tetaplah menjadi salah satu penyumbang besar bagi pembentukan identitas kultur budaya Melayu Riau.

Tak dapat dipungkiri bahwa lajunya pengembangan bentuk karya senirupa tradisional Jawa, terutama dalam bentuk batik yang cenderung terus-menerus mampu merespon zaman, ditambah lagi dengan sinergitas positif antara pemerintah daerah dan seniman pelaku, yang membuahkan hasil telah diakui pula secara internasional akan keberadaanya oleh United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Bertolak belakang keadaannya dengan di daerah ini, minimnya peran pemerintah daerah dalam upaya mengurus serta memberi rangsangan, seakan turut memalapkan atau meredupkan semangat para seniman perupa Riau untuk terus berkutat menggarap seni ini dan apabila hal ini menular kepada percabangan seni lain, tentu akan berakibat buruk pada perkembang seni secara keseluruhan sebagai bahagian dari kebudayaan di Riau. Tentulah partisipasi aktif dan iklim berkesenian dengan rasa kesadaran akan sukar tercapai.

Setelah era malap yang tak diinginkan itu, terlihat animo seniman di Riau lebih banyak tertuju pada penggarapan karya-karya senirupa modern.

Pada awal-awal kemerdekaan hingga ke era konflik vertikal antara pemerintah pusat dan daerah yang bermuara pada pemberontakan dan kondisi ekonomi yang sulit, hingga terbentuknya Provinsi Riau menjelang tahun enam-puluhan, terjadi hambatan pembacaan sejarah aktivitas sekaligus evaluasi bobot terhadap penilaian karya perupa di kawasan Riau yang menjadi bahagian Provinsi Sumatera-Tengah masa itu. Namun angin segar di segala lapangan kehidupan terlihat, setelah terbentuknya provinsi Riau. Dan dari sinilah dapat dimulai kembali pembacaan, penilaian dan sejarah perkembangan senirupa Riau.

Terkait dengan hal timbangan bobot, untuk mendapat prediket yang benar-benar sebagai seniman yang menghasilkan karya berisi, dan ini saya yakini dapat dijadikan bahagian dari acuan para penyelenggara dalam pemberian anugerah-anugerah bagi seniman yang ada di Riau ini.  Adapun tahapan yang harus dilalui oleh orang-orang yang benar-benar berkeinginan menjadi seniman terutama seniman senirupa, sesuai konteks tulisan ini adalah:

Mempelajari Karya-karya Senirupa
Tahap ini merupakan wahana pembelajaran baik secara individu maupun bersama bagi para calon perupa dengan memilih dan mempelajari bentuk, gaya dan teknik dari karya-karya perupa, baik yang belum punya nama maupun yang sudah sangat populer.
Kesimpulannya adalah, pada tahapan ini seseorang bakal seniman harus terus berupaya mengasah dirinya hingga sampai ke tahap mahir menggambar, mengenal berbagai macam media sesuai dengan peruntukan menggambar.

Para perupa Riau masa lalu, kebanyakan berhenti dan merasa puas dengan apa yang ia dapatkan pada tahapan ini. Karena mereka merasa sudah mampu menyalin bentuk, gaya (aliran) dan teknik dari karya-karya perupa mapan dan ditunjang lagi pada kecenderungan masyarakat masa itu untuk minta dibuatkan (diduplikasikan) lukisan dengan contoh yang mereka berikan atau memberikan foto untuk digambar dan kondisi seperti ini, secara finansial memang lumayan menguntungkan. Pada tahapan ini pada dasarnya mereka belum mencapai taraf berkemampuan menghasilkan karya yang dalam bahasa Sanskerta, disebut ilpa (seni).

Sebagai kata sifat, ilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya su-ilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihiasi dengan indah. Sebagai kata benda ia berarti pewarnaan, yang kemudian berkembang menjadi segala macam karya yang artistik. Dalam bahasa Latin pada abad pertengahan, terdapat istilah-istilah ars, artes, dan  artista. Ars adalah teknik, kiat atau kemampuan. Ars inilah yang kemudian berkembang menjadi Iarte (Italia), Iart (Prancis), elarte (Spanyol), dan art (Inggris).

Membahas Karya-karya Senirupa
Pemahaman tentang betapa pentingnya proses dialektika, korelasi sosial yang didapat dari berbagai diskusi sesama perupa, lintas disiplin maupun upaya memaknai fenomena yang ada di setiap saat, namun ruang intelektual ini kurang dimanfaatkan oleh sebahagian besar perupa Riau dari dahulu, bahkan hingga kini.

Dengan tertatih-tatih ada beberapa di antara mereka memaksakan diri memberi muatan pesan atau muatan lain pada karyanya, namun terlihat mentah dan secara individual terlihat kekeringan ide, seakan menutup ruang pembahasan dengan pihak lain pada tahap gagasan.

Medan sosial seni rupa, merupakan sesuatu hal yang penting untuk dipahami bagi perupa dan merupakan pokok bahasan yang perlu dilakukan terus menerus, agar karya yang dilahirkan dapat dijadikan pertanda zaman yang terus bergerak dengan dinamikanya sendiri-sendiri.

Berkait dengan masalah tempat dan pola pikir yang anti-kemapanan dalam mengkaji masalah seni rupa dengan berbagai jenis karya seni rupa dan seluk-beluknya, akhirnya takkan terlepas dan sampai pula pada medan kajian seni yang lain atau apa yang disebut dengan art world. Kritikus seni rupa Sanento Yuliman (alm) sering menggunakan istilah medan sosial seni untuk memadankan istilah art world.

Medan bahasan senirupa ini mengaitkan hubungan antara berbagai pihak-pihak yang ada dalam rangkaian besar senirupa. Hal ini cukup penting dikaji sebab bagaimanapun juga karya seni dan senimannya tidak dapat berdiri sendiri. Apalagi bila karya seni tersebut dipamerkan, ia tak bisa lepas dari nilai-nilai yang lain. Secara singkat pengertian art world adalah semacam jaringan organisasi sosial yang mendukung dan berpartisipasi dalam melahirkan karya seni yang berkualitas.

Sebagai contoh saja misalnya, jika melihat perkembangan seni rupa di Indonesia, jaringan atau art world yang telah terbentuk selama ini sesungguhnya telah dinilai lengkap, di sana ada seniman, karya seni, kolektor, art dealer, editor jurnal/media massa, kritikus, sejarawan, (direktur) museum, galeri, dewan kesenian, taman budaya, balai lelang, ruang (komunitas) seni, lembaga dokumentasi, dan kurator.

Seni rupa yang akan menjadi pijakan dalam pembahasan adalah seni rupa yang plural, senirupa yang berkembang di masa kini dan kadang-kadang memiliki kecenderungan pemikiran dan media yang progresif. Memiliki kekhasan mulai yang biasa sampai yang luar biasa, sehingga mereka (perupa) terkadang hanya membutuhkan ruang yang berbatas hingga tak berbatas, dari ruang kecil (dan maya) sampai yang membutuhkan ruang besar (dan global).

Lebih dari 20 tahun sebelumnya, Sanento Yuliman (1941-1992) menulis dalam katalogus pameran Seni Rupa Baru Indonesia, bahwa tak mungkin lagi kini kita menikmati karya-karya yang disajikan lewat ritme garis, nuansa warna, dan beragam bentuk ketika karya seni rupa bukan lagi susunan liris unsur kesenirupaan. Dengan kata lain, karya senirupa pada perkembangan setelah senirupa modern sesungguhnya seperti hendak menggeser sang rupa ke samping  dan  di tempat itu ditaruhlah mungkin itu tema, cerita, wacana, dan lain sebagainya. Dan untuk mencapai itu, tentulah diperlukan pembahasan-pembahasan yang berulang-ulang kali hingga sampai pada taraf kematangan.

Pemuatan  Narasi Simbolik dalam bentuk metaphora-rupa dari sebuah cerita, atau peristiwa dalam sebuah karya senirupa, kini seakan merupakan sebuah keharusan sebagai konsep karya yang kemudian terbaca pada karya senirupa yang dilahirkan.
 
Mencipta Karya Senirupa
Landasan yang penting bagi sebuah penciptaan karya senirupa tentulah tertuju pada kreativitas dalam berbagai aspek.

Perupa Riau di era senirupa modern yang berorientasi pada penciptaan, sejauh pengamatan saya untuk kota Pekanbaru jumlahnya tidaklah terlalu banyak, namun selalu ada dan begitu juga di kota-kota lain di Riau, yang karena berbagai faktor belum terpantau.

Kreativitas yang dimaksud di sini adalah kreativitas yang bersangkutan dengan karya seni. Banyak cara untuk menemukan kreativitas, misalnya dalam penggunaan media, bahan, alat, dan teknik yang berbeda dari yang sebelumnya. Kreativitas juga bisa didapat dengan menampilkan bentuk-bentuk baru atau memadukan unsur baru dengan yang lama.

Hal yang juga tak dapat diabaikan adalah, terjadinya Hibridasi Budaya dan Identitas Dalam globalisasi, kebudayaan dan identitas bersifat translokal, yang tidak cukup  jika dipahami dalam term tempat, tetapi lebih tepat jika dikonsepsikan dalam term perjalanan. Dalam konsep ini tercakup budaya dan orang yang selalu dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, seperti mempersepsikan kebudayaan sebagai sites of crisscrossing travellers (lalu-lalang perjalanan). Ide tentang  ketidakstabilan kebudayaan dan identitas dalam globalisasi membawa kita pada pemahaman, bahwa kebudayaan dan identitas selalu merupakan pencampuran berbagai kebudayaaan dan identitas yang berbeda-beda. Inilah yang disebut hibriditas (penyilangan) dan identitas. Batas-batas kebudayaan yang mapan dikaburkan dan dibuat tidak stabil oleh proses hibridasi.

Kemudian mungkin dan lazim terjadi sebuah bentuk kreolisasi pada karya, sekaligus memberikan cara berfikir alternatif, yang berbeda dengan konsep imperialisme kultural, yang menganggap Barat mendominasi budaya Timur. Karena kenyataannya konsumen Dunia Ketiga tidaklah pasif, melainkan menciptakan makna-makna baru bagi benda-benda dan simbol-simbol yang mereka konsumsi dari produk budaya barat.

Sebagai penutup, saya katakan bahwa kertas kerja yang saya buat ini adalah, sebagai ungkapan rasa cinta saya, rasa ingin saya agar senirupa di Riau dapat berkembang, sejalan dengan lajunya perkembangan senirupa di wilayah lain dan untuk itu perlu dilakukan secara terus menerus evaluasi agar menuju ke kesempurnaan (Toujours la perfection) ***


Dantje S Moeis
adalah seniman perupa, penulis kreatif, redaktur majalah budaya Sagang  dan dosen/pengajar pada Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR).
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us