Dongeng Negeri Gagak

29 Juni 2014 - 09.23 WIB > Dibaca 2152 kali | Komentar
 
Tiba-tiba, langit menghitam begitu saja, membentuk pusaran bagai orang tawaf.

Ada yang tak beres dengan bangsa kita. Setiap tahun, bencana silih berganti. Kita dirundung nestafa, seekor gagak muda bersuara dalam musyawarah di tengah rimba. Lihat, sekitar kita tak bisa lagi disebut rimba. Rumah kita di mana? suaranya menyentak-nyentak. Langit semakin pekat dan suara gagak semakin serak.

Bangsa kita ini tidak seperti dipikiranmu. Kita bangsa yang besar. Karena itu, Allah memilih kita sebagai guru pertama manusia, gagak tua yang duduk di singgasana menanggapi dengan suara berat. Sayap, kuku, dan paruhnya tampak amat kuat. Dia mengibas-ngibaskan sayapnya sehingga menerbangkan dedaunan kering di sekitar. Lalu,  gagak tua itu berkisah tentang percintaan dan pembunuhan pertama di dunia.

Itu tak perlu Tuan kisahkan. Kita sudah paham. Manusia memang serakah. Kita pun serakah, Tuan, mata gagak muda bagai menikam jantung.

Tapi,  kita adalah makhluk cerdas dan cerdik, bukan serakah, gagak tua menangkis dengan suara lebih berat.

Bisakah kita berlindung di balik kecerdasan dan kecerdikan? Saya lihat, Tuan mulai berlindung, ya?  gagak muda senyum sinis. Walaupun otak kita besar,  bukan berarti seenaknya kepada yang lain. Otak bukan untuk menipu sana-sini, sambil membersihkan bulu-bulu dengan paruhnya.

Engkau menuduhku menipu? gagak tua tersinggung berat.

Tuan tak perlu tersinggung. Gunakanlah otak kita yang besar itu.

Apa sebenarnya maksud pembicaanmu?

Dari awal sudah saya katakan, Tuan. Ada yang tak beres dengan bangsa ini.

Maaf,  Tuan, saya mau bicara, tiba-tiba gagak hakim memotong perdebatan. Apa yang tak beres menurutmu gagak muda?

Pemimpin,  Tuan Hakim. Pemimpin kita banyak yang tak beres.

Semua mata gagak yang hadir dalam musyawarah itu menusuk gagak muda. Lalu,  mereka begumam-gumam. Sebagian besar, mereka mengangguk-angguk dan tersenyum lega. Sebagian lagi, geleng-geleng kepala dan menganggap gagak muda hanya membawa fitnah. Karut.

Ada lagi?

Penegak hukum juga,  Tuan. Tapi, Tuan  tidak termasuk di antara mereka.

Gagak yang menjabat Tuan Hakim menarik napas. Ada rasa lega di rongga dada dan kepalanya.

Tuan,  apakah kita sudah buta dan pekak oleh kekuasaan? Rakyat kita masih banyak makan sampah. Rumah mereka di kandang dan trotoar. Kebun mereka dirampas mal dan korporasi sawit. Hutan kita pun terkoyak, gagak muda mengibas-ngibaskan kepak hitamnya yang berkinyau itu. Beberapa daun kering melayang.

Gagak Hakim berpikir dalam. Pikirannya menerawang sambil memandang langit yang semakin menggumpal. Pusaran hitam di langit kian menebal dan menyatu. Dedaunan kering berjatuhan dari setiap ranting karena bias pusaran itu. Beberapa gagak pembesar yang hadir di situ masih nanar saling memandang. Sebongkah ketakutan sepertinya mewarnai musyawarah bangsa gagak. Bongkahan ketakutan itu semakin menebal dan menghitam di langit. Ketakutan itu terus saja berputar bagai tobe di ujung tanjung yang siap menelan benda apa saja di sekitarnya.

Sudah lama gagak muda memendam kekecewaan kepada pemimpin mereka. Kekecewaannya itu adalah kekecewaan rakyat yang kini hidup dihimpit kesengsaraan. Rakyat gagak bercerai-berai karena tak dapat pegangan dari pemimpinnya. Padahal,  gagak merupakan bangsa yang suka kehidupan bersosial. Biasanya mereka saling membantu. Bahkan,  burung ini menjadi petunjuk pertama manusia untuk pengurusan kematian. Bulunya yang hitam mengkilat merupakan pengelabuan dari pemangsa.  Burung-burung yang selalu disebut pembawa sial ini umumnya berukuran relatif besar. Bahkan,  mereka sebenarnya bangsa yang besar.

Kita ini terkadang sangat keji karena selalu dikaitkan dengan hal-hal gaib, sihir,  atau magis. Kata para manusia itu, kita pembawa sial atau pertanda akan ada orang meninggal. Padahal,  mereka tahu bahwa semuanya ditetapkan oleh Allah, seekor gagak sepuh terbata-bata sambil memandang langit di siang itu. Semua mata tertuju pada gagak sepuh itu, penuh tanda tanya.
Manusia memang begitu. Padahal,  mereka lebih parah dalam hal menduakan Allah, gagak Hakim bergeram sambil sedikit bergumam dan mengembangkan senyum pada sesepuhnya. Lucunya lagi di Eropa. Kita dianggap sebagai peliharaan para penyihir. Anggapan bodoh apa itu, gagak Hakim senyum sinis.

Pusaran hitam di langit semakin menghitam. Pusaran itu terbentuk dari bangsa gagak yang melarat. Burung-burung hitam yang berputar adalah rakyat jelata, sederhana, dan berdaulat. Dedaunan kian berguguran bagai meranggas dari ranting pepohonan di negeri ini. Mereka mengutip sisa makanan yang menggunung di pembuangan sampah. Dengan kaki terseok-seok dan sayap-sayap luka,  gagak-gagak itu juga mematuk sisa makanan di jalanan. Paruhnya juga berdarah karena kerikil-kerikil tajam di jalanan itu.
 
Di wayar listrik bertegangan tinggi itu, gagak-gagak juga bertengger melepas lelah.Paruhnya terus bergerak dan bergumam menyokong gagak muda yang lagi berjuang menyuarakan haknya. Lalu,  terbang lagi berputar. Yang lain,  bergantian pula betengger pada wayar itu. Pusaran hitam di langit terus saja pekat bagai mendung yang siap menurunkan puting beliung untuk menghancurkan kezaliman. Sekawanan lain lagi,  mengitari istana dan gedung-gedung mewah di sekitarnya. Gelap, gelap, lebam!

Suara-suara serak sekawanan gagak berserak di sepanjang perbincangan itu.

Ke man biji walnut? Mungkinkah kami menahan lapar di tengah kekayaan ini?  Suara-suara serak bergumam di angkasa. Gagak muda mengisyaratkan sekawanan rakyat gagak agar menahan kemarahan yang sudah mulai menggelegak.

Kesabaran akan membuahkan kebaikan. Kita akan memilih pemimpin. Pilihlah pemimpin yang bisa mensejahterakan kita, gagak muda berorasi di tengah keramaian ini.Bagaimana, Tuan? Bukankah kita setuju akan memilih pemimpin baru? gagak muda mempertanyakannya di depan gagak tua dan gagak hakim. Rakyat gagak bersorak serak menggema di tengah gerimis hujan yang mulai turun.

Sudah tiga bulan terakhir,  pemimpin gagak mati dihukum massa karena menimbun makanan. Biji-biji walnut ditimbun dalam ruang rahasia untuk kepentingan keluarga istana. Rakyat gagak melancarkan kedaulatannya karena sudah tak tahan lagi dengan kezaliman para penguasa negerinya. Mereka berbondong-bondong terbang sambil membawa kerikil-kerikil tajam.

Setibanya di udara istana,  kerikil-kerikil itu mereka campakkan. Berjuta-juta kerikil tajam itu bergesekan sehingga memunculkan api dan jatuh di istana. Kobaran api bagai mulut-mulut iblis melahap semua isi istana. Kerontong menjadi abu. Ketika itu,  gagak-gagak bagaikan ribuan ababil di saat menyerang pasukan pemimpin zalim.

Penggulingan pemimpin gagak beberapa waktu lalu merupakan bom waktu.

Kita adalah kekuatan. Pemimpin alim disembah,  pemimpin zalim disanggah, kalimat-kalimat itu berdengung di setiap waktu,  menyumpal telinga-telinga gagak. Di setiap barisan pohon dan rentangan wayar, kalimat-kalimat itu juga terbentang ibarat kain rentang,  berkibar-kibar mengejek ketololan, juga kelicikan. Setiap hari,  telinga dan mata rakyat gagak laksana diejek oleh kalimat tersebut. Akhirnya,  hujan kerikil tajam pun tak terelakkan. Terjadilah tragedi kematian pemimpin mereka dan kerabat istana. Terbakar tak bersisa.

Tuan,  bukan kami pengkhianat. Setiap ketidakpuasan dalam pemerintahan,  memang selalu berakhir dengan amuk seperti amuk Jebat. Tuan pun berpikir begitu? gagak muda melanjutkan perbincangan.

Saya kurang setuju itu, gagak tua mendelikkan mata.

Artinya,  Tuan setuju dengan kezaliman?

Tentu tidak. Kezaliman tidak harus dihentikan dengan amuk. Kebijaksanaan lebih baik daripada segalanya.

Semua bisu. Angin membelai hutan yang kian meranggas.

Bukankah setiap kesalahan yang kita lakukan ada sanksinya? Kita semua tahu itu. Tak ada bedanya antara pemimpin dan rakyat. Saya akan tetap memperjuangkan kebenaran dalam setiap jengkal kehidupan, gagak hakim berapi-api.

Setiap kesalahan yang dilakukan,  akan berurusan dengan hukum. Belum lama ini,  seekor gagak dihukum patuk sampai tubuhnya gundul tak bisa berbuat apa-apa lagi seperti bayi dan terluka. Hukuman patuk karena gagak tersebut mengambil jatah makanan anak-anak gagak.  Kemarin,  seekor gagak lain dieksekusi dengan serangan hingga mati. Hukuman mati dilakukan di tanah perkebunan yang luas dan disaksikan oleh rakyatnya. Gagak terdakwa hukuman mati dijaga ketat oleh sekelompok gagak lain.

Lalu,  gagak terdakwaditundukkan kepalanya, diturunkan sayapnya, dan ditahan agar tidak berkoak sebagai bentuk pengakuan atas kesalahannya. Salah satu sanksi mati ini karena gagak jantan menyakiti gagak betina. Setelah tewas,  gagak petugas akan membawanya dan menguburkannya.

Tapi,  masih banyak yang belum terbongkar,  Tuan Hakim, suara-suara itu bergumam berulang-ulang dari udara. Suara itu menggema bagai badai hitam di malam kelam. Berputar-putar,  legam,  bergemuruh bagai nak runtuh. Dedaunan meranggas dari pepohonan disapu angin dari kepak-kepak mereka.

Bukankah lebih baik kita bersabar? gagak sepuh dan gagak hakim berseru. Gagak muda hanya diam memandang rakyatnya yang berapi-api di udara.

Gagak sepuh,  gagak hakim,  gagak muda, dan gagak yang hadir dalam perundingan itu tak mampu berbuat banyak. Rakyat gagak yang menghitam di udara bagai pasukan perang menderu ke tujuan. Gemuruh suara bak kuda perang riuh sepanjang medan pertempuran. Kejadian dahsyat itu terjadi lagi. Kerikil-kerikil tajam beterbangan menghantam kezaliman.
Terbakar!***


Musa Ismail
adalah guru SMAN 3 Bengkalis.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 13:51 wib

Habib Rizieq Tak Langgar Hukum

Rabu, 14 November 2018 - 13:34 wib

Sandiaga: Saya Terus Berkomunikasi dengan SBY

Rabu, 14 November 2018 - 13:15 wib

DPRD Siapkan Rp200 M untuk Sekolah Gratis

Rabu, 14 November 2018 - 13:00 wib

Dua Gedung Penegak Hukum Belum Kantongi Izin Lingkungan

Rabu, 14 November 2018 - 12:53 wib

Kulit Cerah dengan Sapuan Warna Cokelat

Rabu, 14 November 2018 - 12:50 wib

Dewan Ditantang Puasa SPPD

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Disdik : Pagar Dibangunan Komite

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Khawatir Kuota Premium Tidak Cukup di Riau

Follow Us