Kesalahan (Logika) Kalimat

29 Juni 2014 - 09.25 WIB > Dibaca 4793 kali | Komentar
 
Kesalahan (Logika) Kalimat
Beberapa waktu lalu saya diundang menjadi narasumber pada pelatihan menulis yang digelar di salah satu hotel di Kota Pekanbaru. Menurut panitia pelaksana, peserta pelatihan berjumlah 40 orang guru bidang studi Bahasa Indonesia dari 40 sekolah di berbagai kabupaten/kota di Riau.

Karena mereka (peserta pelatihan) guru bidang studi Bahasa Indonesia, yang tentunya juga alumni program studi atau jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya berasumsi bahwa pemahaman mereka tentang logika kalimat pasti cukup baik. Untuk membuktikan asumsi tersebut, saya menampilkan sepenggal kalimat (yang logikanya keliru) di layar.

Bunyi kalimatnya seperti ini: Selamat HUT Kota Pekanbaru ke-229. Kemudian saya lontarkan pertanyaan, apakah kalimat tersebut logikanya sudah benar? Dengan serentak mereka menjawab, sudah. Saya kaget, ternyata dari 40 guru bahasa Indonesia yang hadir, tidak seorang pun yang menyadari bahwa logika pada kalimat tersebut keliru. Kalau mereka guru matematika, fisika, biologi, sejarah, agama, atau guru bidang studi lainnya, mungkin tidak terlalu mengejutkan kalau pemahaman mereka agak lemah tentang logika kalimat. Namun, mereka itu kan guru bahasa Indonesia.

Selanjutnya, saya beri tahu mereka bahwa kalimat tersebut logikanya keliru. Terus saya tantang, siapa yang bisa memperbaikinya. Ternyata tidak ada yang bisa memperbaikinya. Mereka tetap menganggap tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Setelah mereka “menyerah”, akhirnya saya jelaskan tentang kesalahan logika kalimat itu.

Saya mengajukan pertanyaan lanjutan, bilangan 229 mengacu ke urutan jumlah HUT atau urutan jumlah Kota Pekanbaru? Semua peserta serentak menjawab, urutan jumlah HUT. Jika demikian, seharusnya bunyi kalimatnya seperti ini: Selamat HUT ke-229 Kota Pekanbaru.

Mengapa? Karena, kalau ke-229 diletakkan di belakang Kota Pekanbaru (seperti kalimat  sebelumnya) berarti Kota Pekanbaru itu jumlahnya banyak: ada Kota Pekanbaru ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya hingga ke-229. Setelah mendapat penjelasan seperti itu, para guru bahasa Indonesia itu pun tersenyum sambil berkata, “O iya ya”.

Mengapa saya memilih Selamat HUT Kota Pekanbaru ke-229 sebagai contoh pada pelatihan itu? Karena cukup banyak spanduk dan baliho yang dipajang di berbagai tempat memuat kalimat yang logikanya keliru seperti itu. Bahkan, tidak jarang spanduk dan baliho seperti itu terpajang di kampus-kampus perguruan tinggi. Hal itu jelas sangat memprihatinkan karena membuktikan bahwa orang-orang di lingkungan perguruan tinggi pun tidak memahami logika kalimat yang benar.

Judul Berita
Kesalahan logika kalimat juga sering dijumpai pada judul berita di media massa, terutama di media massa cetak. Kesalahan itu, selain disebabkan oleh lemahnya pemahaman penulis/ penyunting berita tentang logika kalimat, juga disebabkan oleh keharusan menulis judul berita dalam kalimat yang singkat.

“Edarkan Narkoba, Polisi Tangkap Seorang Mahasiswa” merupakan contoh judul berita dengan logika kalimat yang keliru. Berdasarkan logika kalimatnya, judul berita itu harus ditafsirkan bahwa polisilah yang mengedarkan narkoba, bukan seorang mahasiswa. Padahal, maksud sebenarnya adalah Seorang mahasiswa ditangkap polisi karena mengedarkan narkoba.

Kesalahan seperti itu mungkin tidak disadari pembaca karena sudah dikuasai asumsi (logika umum) bahwa polisilah yang berhak melakukan penangkapan, bukan mahasiswa. Artinya, dalam memahami teks (dalam hal ini judul berita), pembaca menggunakan asumsi/logikanya sendiri, bukan logika bahasa.

Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan salah tafsir, judul berita itu harus diubah menjadi “Edarkan Narkoba, Seorang Mahasiswa Ditangkap Polisi” atau “Seorang Mahasiswa Ditangkap Polisi karena Mengedarkan Narkoba”. Dua contoh judul terakhir itu dipastikan tidak bermakna ganda. Maksudnya, siapa pun yang membacanya, penafsirannya pasti sama.

Mari kita lihat contoh judul berita lainnya (yang logika kalimatnya juga keliru): “Jack Mania Kecewa, Persija Dilumpuhkan Arema.” Bila mengacu ke logika kalimatnya, penafsirannya adalah Persija kalah melawan Arema gara-gara para pendukungnya (Jack Mania) kecewa. Padahal, yang dimaksudkan oleh penulis/penyuntingnya adalah Para pendukung Persija kecewa gara-gara tim yang didukungnya dikalahkan Arema. Dengan demikian, judul beritanya seharusnya ditulis “Persija Dilumpuhkan Arema, Jack Mania Kecewa” atau “Jack Mania Kecewa karena Persija Dilumpuhkan Arema”.

Wartawan/penulis/penyunting berita, terutama di media massa cetak, memang dianjurkan membuat judul berita yang singkat. Pertimbangannya, antara lain, adalah (1) keterbatasan tempat pada rubrik atau halaman dan (2) kebiasaan menampilkan judul dengan ukuran huruf yang lebih besar (agar dapat dengan mudah terbaca meskipun dilihat dari jarak yang relatif jauh). Bahkan, almarhum Rosihan Anwar (wartawan empat zaman itu) menyarankan agar judul berita tidak lebih dari enam kata. Namun, perlu diingat bahwa kejernihan kalimat jauh lebih penting daripada kesingkatan kalimat. Kalau ternyata dapat menyebabkan terjadinya kekeliruan logika (kalimat) atau rawan menimbulkan makna/penafsiran ganda, kalimat singkat itu tidak perlu digunakan.

Mengingat media massa merupakan sarana pendidikan yang mampu menjangkau masyarakat secara cepat dan luas, seharusnya para penulis (terutama wartawan) ikut merasa bertanggung jawab dalam pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia. Menulislah secara baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.***


Hasan Basril
Adalah dosen jurnalistik di UIN Suska Riau, STISIP Persada Bunda Pekanbaru, dan Universitas Muhammadiyah Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 21:38 wib

PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah

Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Follow Us